21 March 2026

Get In Touch

Nyepi 2026 di Kota Malang: Tawur Agung dan Pawai Ogoh-Ogoh Sarat Makna, Ini Penjelasannya

Pawai Ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi di Lapangan Rampal, Kota Malang, Rabu (18/3/2026). (Santi/Lentera)
Pawai Ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi di Lapangan Rampal, Kota Malang, Rabu (18/3/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Memeringati Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, umat Hindu di Kota Malang melaksanakan Tawur Agung Kesanga yang dilanjutkan dengan pawai ogoh-ogoh, Rabu (18/3/2026).

Rangkaian ritual yang digelar H-1 Nyepi ini sarat makna filosofis, mulai dari konsep "membayar" alam melalui yadnya, penyucian energi negatif, hingga pesan kuat tentang keseimbangan dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

"Untuk Tawur Agung, Tawur itu sebenarnya adalah kata bayar. Kami umat Hindu meyakini, membayar atas apa sari-sari alam yang kami nikmati selama hidup. Sekarang kami bayar dengan bentuk yadnya, yaitu Bhuta Yadnya," ujar Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, I Made Warthana.

Dalam konsep tersebut juga dikenal istilah Bhuta Kala, yang merepresentasikan energi dan waktu, baik yang ada dalam diri manusia maupun di alam. Visualisasi Bhuta Kala ini, lanjut Made, kemudian diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh.

"Bentuk Bhuta Kala itu kami wujudkan dalam ogoh-ogoh. Tahun ini ada lima ogoh-ogoh yang dipawai keliling," jelasnya.

Sebelum diarak, Made mengatakan ogoh-ogoh terlebih dahulu "diaktifkan" melalui proses ritual secara tradisi umat Hindu. Proses ini diyakini penting agar ogoh-ogoh dapat menjalankan fungsinya dalam menyerap energi negatif.

"Sehingga ketika keliling, berjalan diarak, tujuannya untuk menyerap energi-energi negatif yang ada di diri manusia dan juga alam semesta," imbuhnya.

Pawai ogoh-ogoh yang mengitari kawasan Lapangan Rampal ini diharapkan membawa dampak positif, khususnya dalam menciptakan ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian di wilayah Malang Raya.

Tak hanya itu, Made juga menekankan nilai universal dalam ajaran Hindu, yakni konsep Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti seluruh makhluk hidup adalah satu keluarga.

Ia menilai momentum perayaan Nyepi yang berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri bagi umat Islam, ini menjadi pengingat akan pentingnya persatuan di tengah keberagaman.

Diketahui, terdapat sekitar 400 kepala keluarga (KK) umat Hindu di Kota Malang yang akan melaksanakan Catur Brata Penyepian pada Kamis (19/3/2026).

Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat yang membuka sekaligus memberangkatkan pawai ogoh-ogoh menyampaikan kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan lintas umat.

Menurutnya, perayaan Nyepi yang jatuh di bukan Ramadan dan berdekatan dengan Idul Fitri, menunjukkan adanya nilai-nilai universal yang sama dalam setiap ajaran agama.

"Ada satu hakikat yang sama, yakni pengendalian diri, pengendalian hawa nafsu, toleransi, disiplin, dan bagaimana kita memerangi hal-hal negatif," ujar Wahyu.

Terkait pelaksanaan Catur Brata Penyepian, Wahyu mengimbau masyarakat untuk saling menghormati umat Hindu yang menjalankan ibadah.

Imbauan tersebut juga telah disampaikan melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan antarumat beragama di Kota Malang.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.