SURABAYA (Lentera)- Paparan abu vulkanik tidak hanya berisiko menyebabkan batuk atau sesak napas dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memicu kerusakan paru-paru permanen jika debu yang mengandung silika terhirup secara terus-menerus dalam waktu lama.
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Kristen (UK) Petra, dr. Venny Singgih, Sp.P., menjelaskan, material yang dikeluarkan saat erupsi gunung berapi terdiri atas partikel dan gas. Di antara partikel tersebut, debu berukuran sangat kecil atau respirable dust, termasuk PM10 dan PM2,5, perlu diwaspadai karena dapat masuk hingga saluran pernapasan bagian bawah dan mencapai alveoli atau gelembung paru.
Menurut dokter spesialis pulmonologi dan respirasi tersebut, dampak paparan abu vulkanik dapat muncul dalam waktu singkat maupun berkembang menjadi gangguan kronis.
"Secara akut, paparan konsentrasi tinggi akan langsung memicu reaksi pada mata seperti pedih dan berair, kulit gatal dan muncul ruam hingga gangguan saluran napas," jelas dr. Venny, Selasa (15/9/2026).
Ia mengungkapkan, debu yang masuk ke saluran pernapasan dapat menyebabkan iritasi sehingga saluran napas menyempit dan membengkak, disertai produksi lendir berlebih. Kondisi tersebut dapat memicu batuk hebat, sesak napas hingga penurunan saturasi oksigen.
Yang perlu menjadi perhatian adalah paparan dalam jangka panjang. Menurut dr. Venny, debu silika kristalin yang terhirup dalam konsentrasi tertentu secara terus-menerus selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya silikosis.
Silikosis merupakan penyakit paru kronis akibat paparan debu silika. Partikel silika yang masuk ke paru-paru dapat memicu terbentuknya fibrosis atau jaringan parut pada jaringan paru.
"Sifat debu silika ini tidak dapat dieliminasi oleh tubuh dengan cara apa pun. Akibatnya, timbul fibrosis atau jaringan parut permanen yang menurunkan fungsi paru secara ireversibel dan tidak bisa disembuhkan. Hanya dapat direhabilitasi," ungkapnya.
Untuk itu, perlindungan pernapasan menjadi langkah penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah yang masih berpotensi terpapar abu vulkanik.
Dr. Venny mengimbau masyarakat untuk segera berlindung di dalam rumah ketika terjadi paparan abu vulkanik. Pintu dan jendela perlu ditutup rapat untuk mengurangi masuknya debu. Celah yang memungkinkan udara dari luar masuk juga dapat ditutup jika diperlukan.
"Jika mata terkena abu dan terasa pedih atau gatal, masyarakat tidak dianjurkan menguceknya. Mata sebaiknya segera dibilas menggunakan air bersih atau air steril," ucapnya.
Pakaian yang telah digunakan di luar ruangan dan terkena abu juga perlu dilepas dan dimasukkan ke dalam kantong tertutup agar partikel tidak kembali menyebar di dalam rumah. "Setelah itu, tubuh sebaiknya segera dibersihkan dengan mandi," tambahnya.
Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak juga dianjurkan menyiapkan perlengkapan perlindungan diri. Di antaranya kacamata pelindung atau goggles yang menutup area mata dengan baik, masker penyaring partikel seperti N95, serta pakaian tertutup untuk mengurangi paparan pada kulit.
Perhatian lebih perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti penderita asma, anak-anak, bayi, dan lansia. Bagi mereka yang memiliki obat rutin, termasuk inhaler, persediaan obat sebaiknya dipastikan tetap tersedia.
Selain melindungi diri, cara membersihkan abu vulkanik juga perlu diperhatikan. Dr. Venny mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan sapu atau alat peniup debu saat membersihkan abu karena tindakan tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.
Sebagai alternatif, permukaan yang tertutup abu dapat dibersihkan menggunakan lap basah atau vacuum cleaner agar partikel tidak mudah kembali ke udara.
Masyarakat juga diminta tidak panik dan mengikuti perkembangan kondisi gunung melalui sumber informasi resmi. Jika setelah terpapar abu muncul keluhan pernapasan yang mengganggu, seperti sesak, batuk berat, atau kondisi yang semakin memburuk, pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan perlu segera dilakukan.
"Dengan mengenali risiko dan menerapkan perlindungan yang tepat, paparan abu vulkanik dapat diminimalkan sehingga dampaknya terhadap kesehatan, khususnya paru-paru, dapat dicegah sedini mungkin," tutupnya.
Reporter: Amanah|Editor:,Arifin BH





.jpg)
