15 September 2026

Get In Touch

Pemkot Malang Tegaskan Mahasiswa Bisa Akses Layanan Kesehatan Mental di Puskesmas

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. (Santi/Lentera)
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menegaskan mahasiswa dapat mengakses layanan kesehatan mental, pada puskesmas yang tersebar di wilayah Kota Malang.

Layanan kesehatan tersebut terbuka, bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan terkait kondisi psikologis maupun tekanan mental.

"Kalau untuk masyarakat secara luas, kami di puskesmas juga ada pelayanan yang bisa dijangkau para mahasiswa. Tiap puskesmas ada," ujar Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, penanganan di puskesmas dilakukan melalui tahapan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. Pemkot juga memastikan layanan tersebut terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan.

Selain layanan di puskesmas, Pemkot Malang juga melakukan upaya pencegahan dan mitigasi kesehatan mental sejak tingkat sekolah. Wahyu mengatakan, Pemkot telah bekerja sama dengan psikolog dan psikiater untuk membantu siswa yang mengalami kendala maupun tekanan mental.

Upaya tersebut juga menjadi perhatian Pemkot Malang di lingkungan perguruan tinggi. Hal ini menyusul mencuatnya sejumlah persoalan kesehatan mental yang melibatkan mahasiswa di Kota Malang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, sedikitnya terdapat 3 kasus mahasiswa meninggal dunia dan satu kasus percobaan bunuh diri yang mencuat ke publik di Kota Malang sepanjang Januari hingga September 2026.

Sejumlah kasus tersebut melibatkan mahasiswa maupun pemuda yang berada di lingkungan Kota Malang. Pemkot menilai persoalan tersebut perlu direspons melalui penguatan upaya pencegahan, deteksi dini, dan pendampingan kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam hal ini, Wahyu mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan Forum Rektor untuk membahas langkah antisipasi dan mitigasi persoalan tersebut. Menurutnya, sejumlah perguruan tinggi juga telah melakukan upaya serupa.

"Karena kami yakin perguruan tinggi yang lebih tahu untuk mencarikan solusi. Mereka juga punya tenaga ahli, psikiater, dan lain-lain," kata Wahyu.

Lebih lanjut, Wahyu juga meminta, agar skrining kesehatan mental mahasiswa dapat dilakukan secara berkala, bukan hanya pada masa awal maupun akhir perkuliahan.

"Kami berharap skrining kesehatan mental tidak hanya di awal, ataupun di semester akhir, tetapi juga di tengah-tengah," kata Wahyu.

Menurutnya, mahasiswa dapat menghadapi tekanan psikologis pada berbagai fase selama menjalani pendidikan. Karena itu, deteksi dini dinilai penting agar mahasiswa yang menunjukkan tanda-tanda membutuhkan bantuan dapat segera memperoleh pendampingan sebelum persoalan berkembang lebih jauh.

Di sisi lain, Pemkot Malang juga telah melakukan sejumlah langkah mitigasi pada fasilitas publik. Salah satunya dengan meninggikan pembatas di sejumlah jembatan, termasuk Jembatan Soekarno-Hatta.

Namun, Wahyu kembali menegaskan, langkah tersebut bukan satu-satunya upaya yang diperlukan. Menurutnya, penanganan persoalan kesehatan mental membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.