SURABAYA (Lentera) –Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahwa penurunan angka kemiskinan belum cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan. Sebab, data terbaru masih mencatat 3,71 juta warga Jawa Timur hidup dalam kemiskinan.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Wara Sundari Renny Pramana mengungkapkan, penurunan jumlah penduduk miskin tetap menjadi capaian yang patut diapresiasi. Namun, angka tersebut sekaligus menunjukkan masih besarnya pekerjaan pemerintah dalam memastikan pembangunan menghadirkan kesejahteraan secara merata.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Jawa Timur pada Maret 2026 mencapai 3,71 juta jiwa. Angka itu turun 92,06 ribu jiwa dibandingkan September 2025 yang mencapai sekitar 3,80 juta jiwa.
Persentase penduduk miskin juga turun menjadi 9,06 persen pada Maret 2026, dari 9,30 persen pada September 2025 dan 9,50 persen pada Maret 2025.
Menurut perempuan yang akrab disapa Bunda Renny tersebut, capaian penurunan kemiskinan harus menjadi pijakan untuk memperkuat kebijakan pengentasan kemiskinan, bukan sekadar menjadi angka statistik pembangunan.
“81 tahun Indonesia merdeka, kemiskinan memang turun. Tetapi masih ada 3,71 juta warga Jawa Timur yang hidup dalam kemiskinan. Ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat belum selesai,” ungkap Bunda Renny, Selasa (18/8/2026).
Bendahara DPD PDI Perjuangan Jatim itu menuturkan, persoalan kemiskinan juga masih menunjukkan kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di perkotaan tercatat sekitar 1,58 juta jiwa, sementara penduduk miskin di perdesaan mencapai 2,13 juta jiwa.
Kondisi tersebut, kata Bunda Renny, menunjukkan penguatan ekonomi perdesaan perlu menjadi bagian penting dalam strategi pengentasan kemiskinan di Jawa Timur.
“Penguatan ekonomi perdesaan harus menjadi perhatian, melalui pertanian, perikanan, UMKM, koperasi, akses pembiayaan dan hilirisasi produk lokal,” ujarnya.
Menurut legislator dari daerah pemilihan Kediri tersebut, masyarakat tidak cukup hanya memperoleh bantuan untuk bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
Pemerintah harus menciptakan ruang agar masyarakat memiliki kesempatan meningkatkan pendapatan dan membangun kemandirian ekonomi.
“Rakyat tidak cukup hanya dibantu untuk bertahan. Mereka harus diberi kesempatan untuk tumbuh dan mandiri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bunda Renny menilai persoalan kemiskinan tidak dapat dipisahkan dari kondisi ketenagakerjaan. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Februari 2026 sebesar 3,55 persen, turun 0,06 poin persentase dibandingkan Februari 2025.
Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 25,14 juta orang dengan penduduk bekerja sebanyak 24,25 juta orang. Artinya, masih terdapat sekitar 892 ribu orang yang belum bekerja.
Namun, menurut Bunda Renny, pemerintah tidak cukup hanya mengejar penurunan angka pengangguran. Kualitas pekerjaan juga harus menjadi perhatian. BPS mencatat pekerja formal di Jawa Timur pada Februari 2026 baru mencapai 35,56 persen. Angka tersebut bahkan turun 0,53 poin persentase dibandingkan Februari 2025.
“Turunnya pengangguran belum otomatis berarti seluruh masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak. Masyarakat bukan hanya harus bekerja, tetapi harus memiliki pekerjaan produktif dengan penghasilan layak dan perlindungan yang memadai,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita|Editor: Arifin BH





.jpg)
