MALANG (Lentera) - Prevalensi stunting di Jawa Timur (Jatim) berhasil ditekan hingga 14,7 persen, meski telah mendekati target nasional upaya pencegahan dan penurunan stunting tetap perlu diperkuat terutama melalui intervensi sejak usia remaja.
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras kader PKK kabupaten/kota bersama berbagai elemen masyarakat, termasuk kader keluarga berencana (KB) serta meningkatnya kesadaran orangtua terhadap persoalan stunting.
"Dalam waktu yang sebenarnya cukup singkat, kami bisa menurunkan sampai 14,7 persen sekarang. Sesuai dengan target nasional yang harus di angka sekitar 14 persen," ujar Arumi dalam peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan Jambore Kader PKK Jawa Timur di Kota Malang, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, capaian tersebut perlu terus dijaga melalui kolaborasi lintas sektor. Sebab, penanganan stunting tidak cukup hanya dilakukan ketika ibu sedang hamil, tetapi perlu dipersiapkan jauh sebelum memasuki masa kehamilan.
Arumi menegaskan, intervensi yang baru dimulai saat kehamilan dinilai sudah cukup terlambat. Karena itu, edukasi mengenai stunting perlu diperkuat sejak remaja, baik perempuan maupun laki-laki.
Kesehatan calon ayah, jelasnya, turut memengaruhi kualitas biologis keturunan. Selain itu, kesiapan ayah juga dibutuhkan dalam mendukung ibu selama proses kehamilan hingga pemberian ASI eksklusif.
Selain persoalan stunting, Arumi menyebut kader PKK menghadapi beragam tanggung jawab yang menuntut penguatan pengetahuan dan keterampilan.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pelaksanaan Jambore Kader PKK Jawa Timur. Menurut Arumi, kegiatan ini tidak dapat dilaksanakan setiap tahun sehingga penyelenggaraannya pada 2026 menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali kapasitas kader.
"Dalam jambore yang berlangsung pada 26–27 Oktober ini, setiap kabupaten/kota di Jawa Timur setidaknya menghadirkan tiga kader. Selain menjadi ajang pertemuan, kegiatan ini juga diisi pembekalan dan penyegaran pengetahuan agar kader mampu menghadapi dinamika persoalan di lapangan," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meminta kader PKK kembali menguatkan gerakan ketahanan pangan, penanganan stunting, serta pendampingan tumbuh kembang anak di tengah tantangan era digital.
Khofifah menyoroti, pentingnya pencegahan stunting sejak usia remaja. Mengacu pada referensi Kementerian Kesehatan, menurutnya, pola hidup sehat sejak remaja menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat untuk menekan risiko stunting pada generasi berikutnya.
Ia juga menyebut, Jawa Timur berada di posisi kedua sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia setelah Bali. Menurut Khofifah, capaian tersebut tidak terlepas dari peran kader PKK yang bergerak bersama dalam mendukung upaya penurunan stunting.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais




.jpg)
