22 October 2026

Get In Touch

Bloomscrolling, Cara Nikmati Medsos Tanpa Terjebak Berita Negatif

Bloomscrolling, Cara Nikmati Medsos Tanpa Terjebak Berita Negatif

SURABAYA ( LENTERA ) - Bloomscrolling mengajak pengguna media sosial lebih sadar memilih konten positif dan inspiratif. Kebiasaan ini dapat menjadi alternatif doomscrolling yang berisiko memicu kecemasan dan kelelahan mental.

Media sosial bisa menjadi tempat mencari hiburan setelah seharian beraktivitas. Namun, tanpa disadari, kebiasaan menggulir layar selama berjam-jam juga dapat membuat seseorang terus terpapar berita buruk, konflik, hingga informasi yang memicu kecemasan. Di tengah kebiasaan tersebut, muncul istilah bloomscrolling, yakni aktivitas menjelajahi media sosial secara sadar untuk menemukan konten yang positif, menenangkan, dan menginspirasi.

Berbeda dengan doomscrolling yang merujuk pada kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau informasi negatif, bloomscrolling mengajak pengguna lebih selektif menentukan apa yang ingin dilihat. Tujuannya bukan menghindari kenyataan atau menutup mata terhadap persoalan di sekitar, melainkan menjaga keseimbangan antara kebutuhan memperoleh informasi dan kesehatan emosional.

Dikutip dari Real Simple, bloomscrolling merupakan tindakan sadar untuk mencari konten yang membangkitkan semangat, menampilkan keindahan, atau memberikan inspirasi. Bentuknya bisa berupa cerita tentang kebaikan, kegiatan kreatif, pemandangan alam, hingga pengalaman orang lain yang memberikan perspektif positif.

Ahli neuropsikologi Sanam Hafeez, PsyD, menekankan bahwa hal penting dalam bloomscrolling adalah kesadaran terhadap pengaruh konten yang dikonsumsi terhadap suasana hati. Kebiasaan ini bukan sekadar mengganti konten buruk dengan konten menyenangkan, melainkan membangun pola penggunaan media sosial yang lebih seimbang agar pengguna tidak terus-menerus merasa cemas, marah, atau kewalahan.

Bedanya dengan Doomscrolling 

Doomscrolling sering terjadi ketika seseorang terus mengikuti perkembangan berita buruk meskipun informasi yang dibaca membuatnya tidak nyaman. Keinginan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dapat mendorong seseorang terus menggulir layar, bahkan ketika ia sebenarnya ingin berhenti.

Situasi ini dapat membuat pengguna merasa lebih cemas, mudah tersinggung, dan kelelahan. Konsentrasi pun bisa terganggu ketika perhatian terus tersita oleh informasi negatif. Kebiasaan tersebut juga berpotensi menghabiskan waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk memulihkan energi.

Dalam ekosistem digital, arus informasi yang terus diperbarui membuat pengguna mudah berpindah dari satu kabar ke kabar lain. Ketika tidak disertai batasan yang jelas, aktivitas mencari informasi dapat berubah menjadi kebiasaan berulang yang sulit dihentikan.
Meski demikian, tidak semua konsumsi berita negatif otomatis termasuk doomscrolling. Mengikuti perkembangan bencana, konflik, atau isu publik tetap penting agar masyarakat memperoleh informasi yang dibutuhkan. Persoalannya terletak pada pola konsumsi yang berlebihan dan dampaknya terhadap kondisi diri.

Bukan Sekadar Berpikir Positif

Bloomscrolling menawarkan pendekatan yang berbeda dengan mendorong pengguna memilih konten yang membantu memperbaiki suasana hati. Cerita tentang orang yang saling membantu, karya seni, video alam, atau aktivitas yang membangun keterampilan dapat menjadi alternatif ketika seseorang membutuhkan hiburan setelah menjalani hari yang melelahkan.

Konten tentang tindakan kebaikan juga dapat mengingatkan pengguna pada pengalaman positif di tengah banyaknya kabar buruk. Namun, manfaatnya tidak berarti setiap orang akan merasakan efek yang sama. Respons terhadap konten bergantung pada pengalaman, kebutuhan, dan kondisi masing-masing individu.

Bloomscrolling juga tidak seharusnya dimaknai sebagai tuntutan untuk selalu bahagia atau menghindari emosi negatif. Kesedihan, kemarahan, dan kekhawatiran tetap menjadi respons yang wajar terhadap situasi tertentu. Memilih konten positif dapat membantu menciptakan jeda emosional, tetapi bukan pengganti penyelesaian masalah atau bantuan profesional ketika dibutuhkan.

Dengan demikian, bloomscrolling lebih tepat dipahami sebagai upaya mengatur pengalaman digital, bukan menutupi realitas dengan optimisme berlebihan.

Cara Memulai 

Langkah pertama adalah mengenali pengaruh media sosial terhadap suasana hati. Jika setelah membaca atau menonton sejumlah konten seseorang justru merasa semakin gelisah, ia dapat berhenti sejenak dan mengevaluasi apa yang sedang dikonsumsi.
Pengguna juga bisa mengatur linimasa dengan mengikuti akun yang membagikan informasi bermanfaat, karya kreatif, edukasi, hobi, atau kisah inspiratif. Sebaliknya, akun yang terus memicu tekanan emosional dapat dibatasi melalui fitur mute, unfollow, atau pengaturan rekomendasi konten.

Langkah berikutnya adalah menetapkan batas waktu penggunaan media sosial. Memilih konten positif tidak otomatis membuat scrolling menjadi sehat apabila aktivitas tersebut tetap menghabiskan waktu tidur, mengganggu pekerjaan, atau mengurangi interaksi langsung dengan orang lain.

Pengguna juga perlu tetap memeriksa sumber informasi dan membedakan fakta dari klaim yang belum terverifikasi. Konten yang terlihat menyenangkan belum tentu akurat, sehingga kebiasaan memilih konten positif tetap perlu berjalan beriringan dengan literasi digital.
Pada akhirnya, bloomscrolling bukan ajakan untuk menjauh dari seluruh berita buruk. 

Kebiasaan ini mengingatkan bahwa pengguna memiliki ruang untuk menentukan bagaimana berinteraksi dengan media sosial. Dengan memilih konten secara lebih sadar, membatasi waktu layar, dan memberi ruang bagi aktivitas di luar dunia digital, scrolling dapat menjadi pengalaman yang lebih seimbang tanpa kehilangan kemampuan untuk memahami persoalan nyata di sekitar.(far,ist/dya)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.