10 October 2026

Get In Touch

Oseltamivir Sempat Langka Buntut Ledakan Flu, Kenali Fungsi dan Risikonya

Oseltamivir Sempat Langka Buntut Ledakan Flu, Kenali Fungsi dan Risikonya

SURABAYA ( LENTERA ) - Ketersediaan obat antivirus oseltamivir menjadi perhatian masyarakat menyusul meningkatnya kasus influenza A di Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir September 2026, muncul laporan kesulitan memperoleh obat tersebut di sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama di tengah penyebaran informasi mengenai influenza di media sosial.

Pemerintah pun mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Sebab, oseltamivir bukan obat flu biasa yang bisa dikonsumsi setiap kali seseorang mengalami demam, batuk, dan pilek.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan ketersediaan obat tetap dipantau dan distribusinya dipercepat untuk memenuhi kebutuhan fasilitas kesehatan. Hingga 28 September 2026, distribusi oseltamivir telah menjangkau sekitar 196 rumah sakit dan akan dilanjutkan berdasarkan permintaan serta kebutuhan pasien.

Apa Itu Oseltamivir?

Oseltamivir merupakan obat antivirus yang digunakan untuk menangani infeksi influenza tipe A dan B. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim neuraminidase, protein yang dibutuhkan virus influenza untuk melepaskan diri dari sel yang telah terinfeksi dan menyebar ke sel lainnya.

Mengutip Mayo Clinic dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, oseltamivir termasuk kelompok obat penghambat neuraminidase. Penggunaannya dapat membantu mengurangi keparahan gejala dan memperpendek durasi sakit apabila diberikan pada waktu yang tepat.

Gejala influenza yang dapat ditangani antara lain demam, sakit kepala, batuk, pilek, hidung tersumbat, nyeri otot, dan sakit tenggorokan.
Namun, manfaat obat ini tidak sama pada setiap pasien. CDC menyebutkan antivirus influenza bekerja paling baik apabila diberikan dalam satu hingga dua hari pertama setelah gejala muncul.

Oseltamivir juga berbeda dengan antibiotik. Antibiotik digunakan untuk menangani infeksi bakteri, sedangkan oseltamivir bekerja terhadap virus influenza. Karena itu, obat ini tidak bisa digunakan untuk mengatasi semua jenis infeksi saluran pernapasan.

Tidak Semua Flu Butuh

Salah satu hal yang perlu dipahami masyarakat adalah tidak semua orang yang mengalami influenza membutuhkan obat antivirus.
Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas, dr. Pompini Agustina Sitompul, SpP, menjelaskan bahwa oseltamivir tidak diindikasikan untuk common cold atau pilek biasa. Penggunaannya lebih dipertimbangkan pada pasien dengan influenza berat maupun kelompok rentan yang berisiko mengalami komplikasi.

Pada pasien dengan kondisi berat, misalnya mengalami sesak napas hingga membutuhkan bantuan oksigen, antivirus dapat menjadi bagian dari penanganan medis.

Sementara itu, ahli farmakologi Dr. dr. Dewi Selvina Rosdiana, M.Kes, menyoroti manfaat oseltamivir pada pasien influenza ringan tanpa komplikasi.

Menurutnya, bukti penelitian belum menunjukkan manfaat klinis yang bermakna dalam memperpendek durasi sakit pada anak-anak yang menjalani rawat jalan dengan influenza tanpa komplikasi.

Ia menggambarkan perbedaan waktu pemulihan antara kelompok anak yang mendapatkan oseltamivir dan kelompok yang menerima plasebo relatif kecil. Dalam ilustrasinya, kelompok yang menggunakan antivirus mungkin sembuh pada pagi hari, sedangkan kelompok plasebo baru pulih pada malam hari.

"Artinya berdasarkan bukti yang ada saat ini studi meta-analisis ini dilakukan pada 2.500 sekian pasien anak yang sakit dengan influenza tanpa komplikasi yang dengan rawat jalan, ini belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa oseltamivir memberikan manfaat klinis yang bermakna dalam memperpendek lama sakit," kata Dewi.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pemberian antivirus harus mempertimbangkan manfaat dan risiko bagi pasien, bukan semata-mata karena seseorang mengalami gejala flu.

CDC dalam panduan klinis terbarunya pada 10 Maret 2026 merekomendasikan pemberian antivirus sesegera mungkin kepada pasien yang dirawat di rumah sakit, mengalami influenza berat atau progresif, serta kelompok berisiko tinggi mengalami komplikasi.
Pengobatan idealnya tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium pada kelompok pasien tersebut apabila dokter telah memiliki dugaan klinis influenza yang kuat.

CDC juga menjelaskan bahwa manfaat antivirus paling optimal ketika diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, pada pasien yang mengalami kondisi berat dan harus dirawat di rumah sakit, pengobatan masih dapat memberikan manfaat meskipun dimulai setelah 48 jam.

Manfaat oseltamivir pada pasien influenza ringan memang masih menjadi pembahasan dalam dunia medis.

Badan kesehatan dunia WHO melalui Clinical Practice Guidelines for Influenza yang diterbitkan pada 12 September 2024 memberikan rekomendasi bersyarat penggunaan oseltamivir pada pasien influenza berat. Sebaliknya, penggunaan antivirus tidak dianjurkan secara rutin pada pasien influenza nonberat dengan risiko komplikasi rendah.
Sementara itu, CDC Amerika Serikat memiliki rekomendasi lebih luas, terutama untuk pasien yang masuk kelompok berisiko tinggi, pasien dengan kondisi progresif, dan mereka yang membutuhkan perawatan rumah sakit.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keputusan pemberian antivirus perlu mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit, faktor risiko, serta pedoman klinis yang digunakan.k

Jangan Minum Antivirus Sembarangan

Di tengah kekhawatiran mengenai kelangkaan oseltamivir, masyarakat perlu memahami bahwa obat antivirus bukan produk yang dapat dikonsumsi untuk berjaga-jaga tanpa pemeriksaan medis.

Penggunaan obat tanpa indikasi yang tepat bukan hanya berisiko menimbulkan efek samping, tetapi juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan obat bagi pasien yang benar-benar membutuhkannya.
Kemenkes mengingatkan bahwa penggunaan antivirus yang tidak tepat juga dapat meningkatkan risiko munculnya resistensi virus. 

Kondisi tersebut dapat mengurangi efektivitas obat dalam menangani infeksi apabila virus mengalami perubahan yang membuatnya tidak lagi responsif terhadap pengobatan.
Bagi masyarakat yang mengalami gejala influenza tanpa tanda bahaya, Kemenkes menyarankan istirahat cukup, menjaga asupan cairan, dan memantau perkembangan kondisi tubuh. Jika muncul gejala berat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, kebingungan, kejang, serta kondisi tubuh yang terus memburuk.

Pada akhirnya, persoalan oseltamivir bukan semata-mata mengenai banyak atau sedikitnya obat di pasaran. Ketersediaan yang merata, distribusi yang tepat, dan penggunaan berdasarkan kebutuhan medis menjadi hal penting agar pasien dengan influenza berat tidak kehilangan kesempatan memperoleh pengobatan.

Masyarakat pun tidak perlu ikut melakukan pembelian panik. Sebab, obat yang dibutuhkan untuk menangani kondisi serius harus diprioritaskan bagi pasien yang memang memerlukan penanganan tersebut.(far,ist/dya)


Kelompok yang Perlu Dapat Perhatian Khusus:

Lansia berusia 65 tahun ke atas.
Anak-anak berusia di bawah lima tahun, terutama bayi dan balita.
Orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh atau immunocompromised.
Penderita penyakit kronis, seperti diabetes, gangguan jantung, dan penyakit paru-paru.
Ibu hamil.
Pasien dengan influenza berat, komplikasi, atau kondisi yang terus memburuk.

Beberapa efek samping yang umum terjadi meliputi:

Mual.
Muntah.
Sakit kepala.
Nyeri pada tubuh.

Efek serius lainnya yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku atau gangguan neurologis, seperti kebingungan, kejang, gerakan tubuh tidak terkendali, kesulitan berbicara, hingga halusinasi.
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.