09 October 2026

Get In Touch

Kasus ISPA Trenggalek Tembus 12.809, Dinkes Ingatkan Risiko Penularan di Keluarga

Gedung Dinas Kesehatan Trenggalek menjadi salah satu pusat pemantauan kasus ISPA yang menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.
Gedung Dinas Kesehatan Trenggalek menjadi salah satu pusat pemantauan kasus ISPA yang menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.

TRENGGALEK (Lentera) – Warga Kabupaten Trenggalek diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), menyusul tercatatnya 12.809 kasus hingga minggu ke-36 tahun ini.

Dinas Kesehatan Trenggalek juga melihat tren kasus mulai meningkat sejak minggu ke-30 dan mengingatkan potensi penularan yang cepat, terutama di lingkungan keluarga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek, drg. Andiek Muarifin menjelaskan ISPA bukan hanya menyerang kelompok usia tertentu. Penyakit yang menyerang saluran pernapasan tersebut dapat dialami anak-anak maupun orang dewasa.

Menurutnya, ISPA termasuk penyakit akut yang bisa menular dan dipicu oleh berbagai jenis mikroorganisme. Penyebabnya dapat berupa virus, bakteri maupun mikroorganisme lainnya.

Keluhan yang muncul pada penderita juga umumnya berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan. Beberapa di antaranya pilek, batuk, sakit tenggorokan dan demam.

“Gejalanya secara umum pilek, batuk, sakit tenggorokan, demam,” kata Andiek.

Data tersebut dihimpun melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) selama periode minggu pertama hingga minggu ke-36. Jumlah kasus yang mencapai ribuan menunjukkan ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan kesehatan masyarakat di Trenggalek.

Andiek menuturkan, pola penularan ISPA juga membuat anggota keluarga memiliki risiko saling menularkan. Interaksi yang berlangsung setiap hari dalam satu rumah dapat menjadi salah satu faktor yang mempermudah penyebaran ketika terdapat anggota keluarga yang sedang sakit.

“Memang banyak hampir merata, usia dewasa dan anak-anak karena ini memang penyakit yang menular. Biasanya kalau satu rumah satu terkena penyakit ISPA, misalnya ibunya, kemudian anaknya ikut tertular,” jelasnya.

Perkembangan kasus menjadi perhatian Dinkes karena grafik pemantauan menunjukkan adanya pergerakan naik dalam beberapa minggu terakhir. Kenaikan mulai terlihat sejak memasuki minggu ke-30.

Kondisi tersebut terpantau di berbagai wilayah kerja puskesmas. Dari 22 puskesmas yang berada di Kabupaten Trenggalek, sejumlah wilayah mencatat kasus dalam jumlah cukup besar.

Beberapa di antaranya berada di wilayah kerja Puskesmas Tugu, Gandusari, Karangan, Munjungan dan Dongko. Akumulasi kasus di sejumlah wilayah tersebut bahkan telah melampaui 1.000 kasus.

Dinkes memperkirakan, potensi peningkatan masih perlu diantisipasi, terutama di tengah kondisi musim kemarau. Pemantauan perkembangan kasus terus dilakukan untuk mengetahui apakah kenaikan berlangsung secara lokal maupun menyebar ke wilayah lain.

Selain pemantauan, langkah pencegahan juga dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Puskesmas dan rumah sakit didorong aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara mencegah serta mengenali gejala ISPA.

Informasi kesehatan juga disebarluaskan melalui berbagai media, termasuk media sosial, agar pesan pencegahan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Jika ditemukan lonjakan kasus yang tidak biasa pada suatu wilayah, Dinkes akan melakukan pemeriksaan dan surveilans lebih lanjut. Upaya tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kasus sekaligus mengetahui pola penyebarannya.

Masyarakat juga diminta, tidak hanya mengandalkan pengobatan ketika sudah sakit. Menjaga kondisi tubuh melalui aktivitas fisik dan menerapkan perilaku hidup bersih menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko terserang penyakit.

Bagi warga yang mulai mengalami gejala ISPA, langkah pencegahan penularan juga perlu dilakukan sejak awal. Penggunaan masker dapat menjadi salah satu pilihan, terutama ketika harus beraktivitas atau berinteraksi dengan orang lain.

Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, juga perlu diterapkan secara rutin. Selain itu, etika batuk dan bersin harus diperhatikan agar droplet tidak mudah menyebar kepada orang di sekitar.

Dinkes Trenggalek berharap, kesadaran masyarakat dalam melakukan pencegahan dapat membantu menekan laju penularan ISPA. Terlebih, penyakit tersebut dapat menyerang berbagai kelompok usia dan berpotensi menyebar dalam lingkungan dengan interaksi yang intens seperti keluarga.

 

Reporter: Herlambang/Editor: Ais

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.