17 September 2026

Get In Touch

Bupati Sidoarjo: Inovasi Sidoarjo Harus Menjawab Masalah, Bukan Sekadar Ajang Lomba

Bupati Subandi buka KISI 2026: Inovasi harus berdampak nyata bagi warga.
Bupati Subandi buka KISI 2026: Inovasi harus berdampak nyata bagi warga.

SIDOARJO (Lentera) -Inovasi pemerintahan tidak boleh berhenti sekadar menjadi gagasan atau sekadar mengejar penghargaan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mendorong setiap inovasi mampu menjawab persoalan nyata sekaligus menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Sidoarjo H. Subandi SH MKn saat membuka Kompetisi Inovasi Sidoarjo (KISI) 2026 di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (16/9/2026). Mengusung tema “Inovasi Berdampak untuk Sidoarjo Maju, Inklusif, dan Berkelanjutan”, KISI 2026 dirancang menjadi instrumen strategis untuk menjawab berbagai persoalan daerah sekaligus memperkuat kualitas pelayanan publik.

Bupati Subandi menegaskan kebutuhan akan inovasi semakin mendesak, mengingat pemerintah daerah masih menghadapi beragam tantangan yang memerlukan penyelesaian konkret. Pertumbuhan ekonomi Sidoarjo pada 2025 mencapai 5,4 persen dan angka kemiskinan berada di 4,40 persen, namun persoalan pengangguran, stunting, serta lingkungan masih memerlukan intervensi yang lebih kuat dan nyata di lapangan.

“Banyak permasalahan yang perlu kita selesaikan. Objek masalah masih banyak, sehingga kita harus punya inovasi. Ekonomi kita pun masih menyisakan banyak persoalan,” ujar Subandi.

Ia menekankan inovasi harus tumbuh dari seluruh jajaran pemerintahan — mulai dari Sekretariat Daerah, perangkat daerah, pemerintah desa, hingga lingkungan pendidikan. Komunikasi dan kolaborasi antarsatuan kerja sangat diperlukan agar inovasi tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak terputus.

“Mulai Sekda, OPD, hingga tingkat desa harus terjalin komunikasi. Inovasi ini jangan hanya menjadi perlombaan tahunan, melainkan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.

Penghargaan dalam KISI diharapkan menjadi pemicu perubahan pola pikir seluruh aparatur. Inovasi yang dihasilkan harus memudahkan pelayanan publik dan mempercepat penyelesaian persoalan warga. Meski Kabupaten Sidoarjo telah mempertahankan predikat sebagai daerah terinovatif, capaian itu harus diikuti dengan peningkatan kualitas dan dampak nyata.

“Penghargaan ini harus mengubah pola pikir. KISI ini hadir untuk memudahkan pelayanan bagi seluruh warga Sidoarjo,” katanya.

Pemkab Sidoarjo juga terus memperkuat sistem pengelolaan inovasi melalui pengembangan papan pantau inovasi daerah. Platform SETIA (Sistem Riset dan Inovasi Daerah) kini menjadi sarana pengembangan dan pemantauan inovasi secara menyeluruh, dari penjaringan gagasan, uji coba, penerapan, hingga evaluasi dan pelaporan.

Sementara itu, Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Mohammad Ainur Rohman menyatakan inovasi adalah kunci utama pelayanan publik yang semakin berkembang. Kebutuhan masyarakat yang terus bertumbuh menuntut ekosistem inovasi yang mampu melahirkan kreativitas serta perubahan nyata.

“Bukan banyaknya jumlah inovasi yang diutamakan, melainkan dampak yang dihasilkannya,” tegasnya.

Penguatan gerakan “Satu Perangkat Daerah Satu Inovasi” terus didorong, dengan mengarahkan setiap inovasi memenuhi empat pilar utama: berdampak nyata, berorientasi hasil, inklusif, serta berkelanjutan.

KISI bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana menumbuhkan budaya inovasi di lingkungan pemerintahan, sehingga lahir solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari pelayanan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, hingga kesejahteraan secara luas.

Reporter: Teguh|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.