05 September 2026

Get In Touch

Tak Harus 8 Jam, Berapa Lama Orang Dewasa Perlu Tidur?

Tak Harus 8 Jam, Berapa Lama Orang Dewasa Perlu Tidur?

SURABAYA ( LENTERA ) - Selama bertahun-tahun, angka delapan jam seolah menjadi patokan universal untuk tidur malam. Tidak cukup delapan jam, seseorang kerap merasa tidurnya kurang. Sebaliknya, tidur lebih lama dianggap sebagai tanda tubuh membutuhkan istirahat ekstra.

Namun, anggapan bahwa setiap orang dewasa harus tidur tepat delapan jam setiap malam kini kembali dipertanyakan. Sebuah ulasan terbaru yang diterbitkan dalam Brain Medicine pada Agustus 2026 menyoroti bahwa kebutuhan tidur manusia jauh lebih fleksibel dibandingkan anggapan yang selama ini berkembang.

Para peneliti menyebut pola tidur masyarakat praindustri menunjukkan fleksibilitas yang cukup besar. Kondisi itu menunjukkan bahwa kebiasaan tidur malam secara teratur dalam durasi tertentu bukan sesuatu yang sepenuhnya bersifat tetap secara evolusioner.
Artinya, delapan jam bukan angka sakral yang harus dicapai setiap orang. Kebutuhan tidur dipengaruhi banyak faktor, mulai dari usia, kondisi kesehatan, aktivitas fisik, lingkungan, hingga faktor biologis dan kebiasaan seseorang.

Tetapi, temuan tersebut juga tidak boleh dimaknai bahwa tidur lima atau enam jam setiap malam sudah pasti cukup.

Angka delapan jam sebenarnya telah lama melekat dalam budaya modern. Gagasan membagi sehari menjadi delapan jam bekerja, delapan jam rekreasi, dan delapan jam tidur berkembang sejak era industrialisasi.

Dalam praktiknya, manusia tidak selalu tidur dengan pola yang sama sepanjang sejarah. Sebelum listrik, alarm, telepon pintar, dan sistem kerja modern mengatur waktu manusia, tidur lebih banyak dipengaruhi oleh siklus terang dan gelap serta kondisi lingkungan.
Ulasan terbaru di Brain Medicine mencoba melihat kembali persoalan tersebut dengan menggabungkan bukti antropologi, sejarah, dan kajian tentang evolusi manusia. Para peneliti berargumen bahwa perubahan terbesar akibat kehidupan modern mungkin bukan semata-mata membuat manusia tidur jauh lebih sedikit, melainkan mengubah kapan manusia tidur dan seberapa teratur pola tersebut berlangsung. 

Temuan itu menarik karena selama ini kehidupan modern sering dianggap sebagai penyebab utama manusia kehilangan waktu tidur.

Paparan cahaya buatan pada malam hari, pekerjaan dengan jadwal tetap, hiburan, penggunaan perangkat elektronik, media sosial, hingga aktivitas perkotaan memang dapat menggeser waktu tidur. Namun, penelitian terhadap masyarakat yang hidup tanpa listrik menunjukkan bahwa durasi tidur alami manusia tidak selalu mencapai delapan jam.

Belajar dari Pemburu

Salah satu penelitian yang banyak menjadi rujukan dalam pembahasan ini diterbitkan di jurnal Current Biology pada 2015.
Peneliti mengamati tiga kelompok masyarakat nonindustri, Hadza di Tanzania, San di Namibia, dan Tsimane di Bolivia. Ketiganya hidup dengan akses yang sangat terbatas atau tanpa listrik dan tidak memiliki paparan rutin terhadap cahaya buatan seperti masyarakat perkotaan modern.

Hasilnya cukup mengejutkan. Durasi tidur mereka berada pada kisaran 5,7 hingga 7,1 jam per malam. Waktu antara mulai tidur dan bangun memang lebih panjang, sekitar 6,9 hingga 8,5 jam, tetapi waktu tidur aktual tidak otomatis mencapai delapan jam. 

Penelitian tersebut juga menemukan pola tidur yang erat berkaitan dengan lingkungan.
Ketiga kelompok cenderung mulai tidur beberapa jam setelah matahari terbenam dan bangun sebelum matahari terbit. Suhu lingkungan ternyata menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan waktu tidur. Mereka cenderung tertidur ketika suhu mulai turun dan terbangun ketika suhu berada pada titik yang lebih rendah menjelang pagi. 

Temuan itu penting karena menunjukkan bahwa manusia secara biologis memiliki kemampuan beradaptasi terhadap pola tidur yang berbeda.
Namun, para peneliti tidak menyimpulkan bahwa masyarakat modern seharusnya meniru durasi tidur tersebut.

Jadi Apa 6 Jam Sudah Cukup?

Jawabannya adalah belum tentu.Di sinilah penting membedakan antara temuan tentang pola tidur alami manusia dengan rekomendasi kesehatan untuk masyarakat saat ini.
American Academy of Sleep Medicine (AASM) dan Sleep Research Society merekomendasikan orang dewasa berusia 18-60 tahun tidur setidaknya tujuh jam secara teratur untuk mendukung kesehatan optimal. Panel tersebut secara konsensus menilai tidur enam jam atau kurang tidak memadai untuk mendukung kesehatan optimal orang dewasa. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga merekomendasikan orang dewasa berusia 18-60 tahun memperoleh sedikitnya tujuh jam tidur per malam. Untuk usia 61-64 tahun, rekomendasinya tujuh hingga sembilan jam, sedangkan orang berusia 65 tahun ke atas disarankan tidur tujuh hingga delapan jam.

Dengan demikian, temuan terbaru bukanlah alasan untuk menganggap kurang tidur sebagai sesuatu yang sehat.
Justru, pesan utamanya adalah bahwa kebutuhan tidur tidak bisa direduksi menjadi satu angka yang berlaku mutlak untuk semua orang.

 Kurang dari 7 Jam Perlu Diwaspadai

Masalahnya, banyak orang merasa telah terbiasa tidur lima atau enam jam. Mereka mungkin tetap dapat bekerja, beraktivitas, dan merasa baik-baik saja.
Tetapi kemampuan berfungsi tidak selalu berarti tubuh telah memperoleh tidur yang optimal.

AASM menyebut tidur kurang dari tujuh jam secara rutin berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan yang merugikan, termasuk peningkatan risiko kenaikan berat badan dan obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, depresi, serta peningkatan risiko kematian. 

CDC juga menekankan bahwa tidur yang cukup bukan hanya berkaitan dengan rasa segar ketika bangun. Tidur berkualitas penting bagi kesehatan fisik dan emosional serta membantu tubuh berfungsi secara normal sepanjang hari. 

Karena itu, seseorang yang sesekali hanya tidur enam jam tidak otomatis mengalami masalah kesehatan. Yang menjadi perhatian adalah ketika durasi tersebut berubah menjadi pola kronis.

Kualitas Juga Penting

Ada persoalan lain yang sering luput ketika orang membicarakan “delapan jam tidur”. Durasi bukan satu-satunya ukuran kesehatan tidur.

AASM sendiri menjelaskan bahwa kebutuhan tidur dipengaruhi berbagai faktor, termasuk genetik, perilaku, kondisi medis, lingkungan, serta aspek psikologis dan sosial. Selain durasi, waktu tidur, keteraturan, dan kualitas tidur juga berperan. 

Dua orang yang sama-sama berada di tempat tidur selama delapan jam belum tentu memperoleh manfaat yang sama.
Seseorang bisa berada di tempat tidur delapan jam tetapi sering terbangun, sulit mempertahankan tidur, mengalami gangguan pernapasan saat tidur, atau tidur pada jadwal yang terus berubah.

Sebaliknya, orang lain mungkin tidur dengan lebih teratur dan memperoleh tidur berkualitas meski durasinya sedikit berbeda.
Itulah sebabnya ukuran “saya tidur delapan jam” belum cukup untuk menggambarkan kondisi tidur seseorang.

Keteraturan Juga Perlu

Ulasan terbaru Brain Medicine juga memberi perhatian pada aspek keteraturan dan waktu tidur.
Masyarakat modern hidup dengan jadwal yang sangat berbeda antara hari kerja dan akhir pekan. Seseorang bisa tidur sangat larut pada Jumat dan Sabtu malam, kemudian memaksa diri bangun pagi pada Senin. Pola seperti itu dapat membuat ritme tidur-bangun menjadi tidak konsisten.

Sementara itu, masyarakat praindustri yang diteliti menunjukkan pola tidur yang lebih dekat dengan siklus lingkungan alami. Mereka tidur setelah suhu lingkungan turun dan bangun menjelang pagi. 
Karena itu, persoalan tidur modern mungkin tidak sesederhana “kurang berapa jam”.

Salah satu petunjuk sederhana adalah memperhatikan kondisi tubuh pada siang hari.
Jika seseorang dapat bangun tanpa kesulitan berlebihan, tidak terus-menerus mengantuk, mampu berkonsentrasi, memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas, dan tidak membutuhkan stimulasi berlebihan seperti kafein untuk sekadar bertahan hingga sore, kemungkinan pola tidurnya lebih baik dibandingkan orang yang terus mengalami kantuk dan kelelahan..
Namun, rasa mengantuk berlebihan, sulit tidur secara terus-menerus, sering terbangun, atau masalah tidur yang berlangsung lama sebaiknya tidak dianggap sepele. CDC menyarankan orang yang mengalami masalah tidur untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. 

Dengan demikian, penelitian terbaru tentang masyarakat praindustri tidak sedang “membatalkan” rekomendasi tidur tujuh jam atau lebih. Temuan itu justru memperluas pemahaman bahwa kebutuhan tidur manusia tidak sesederhana satu angka.
Delapan jam boleh menjadi patokan, tetapi bukan aturan mutlak. Tujuh jam bukan target yang harus dipaksakan kepada semua orang, melainkan batas minimum yang digunakan dalam rekomendasi kesehatan untuk banyak orang dewasa.

Yang lebih penting adalah menemukan pola tidur yang cukup, teratur, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Sebab, tidur yang sehat bukan tentang memenangkan perlombaan mengejar angka delapan jam. Tidur yang sehat adalah ketika tubuh benar-benar mendapatkan kesempatan untuk pulih dan dapat menjalankan fungsinya dengan baik keesokan harinya.(far,ist/dya)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.