27 August 2026

Get In Touch

Jurnal Science: WFH Bikin Kesehatan Mental Memburuk

Jurnal Science: WFH Bikin Kesehatan Mental Memburuk

SURABAYA ( LENTERA ) - Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama ini kerap dipandang sebagai simbol kebebasan baru di dunia kerja. Tidak perlu menghadapi kemacetan setiap pagi, waktu lebih fleksibel, dan kesempatan menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi menjadi sejumlah alasan mengapa sistem ini digemari.

Namun, sebuah studi terbaru justru mengingatkan sisi lain dari bekerja jarak jauh. Terlalu banyak waktu bekerja sendirian ternyata dapat meningkatkan isolasi sosial dan berpotensi memperburuk kesehatan mental.

Studi bertajuk Home Alone yang terbit di jurnal Science pada Juni 2026 menemukan bahwa pekerja yang bekerja dari rumah cenderung mengalami tingkat kesendirian yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja bersama rekan secara langsung.

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 500.000 warga Amerika Serikat dan menyoroti perubahan pola interaksi sosial setelah kerja jarak jauh menjadi bagian permanen dari kehidupan banyak pekerja.

"Secara substansial, WFH meningkatkan isolasi dan memperburuk kesehatan mental," kata Profesor Emma Harrington, salah satu penulis studi sekaligus ekonom di University of Virginia.

Salah satu temuan yang paling menonjol dalam penelitian tersebut adalah tingginya angka pekerja jarak jauh yang menghabiskan hari kerja tanpa kehadiran orang lain secara langsung.

Sebanyak 84 persen orang yang bekerja jarak jauh pada periode 2022 hingga 2024 dilaporkan menghabiskan seluruh hari kerja mereka sendirian.

Kondisi itu menjadi lebih menonjol pada pekerja yang tinggal seorang diri. Kelompok ini disebut memiliki kemungkinan 10 kali lebih besar untuk menjalani seluruh hari kerja sendirian. Mereka juga 13 kali lebih mungkin tidak melakukan kontak langsung dengan manusia sama sekali.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan WFH bukan hanya mengenai lokasi bekerja. Ketika kantor berpindah ke rumah, sebagian pekerja juga kehilangan interaksi-interaksi kecil yang sebelumnya dianggap sepele: mengobrol sebelum rapat, makan siang bersama, berdiskusi spontan, atau sekadar bertemu orang lain dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Dalam jangka panjang, hilangnya rutinitas sosial tersebut dapat menciptakan rasa terisolasi, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri dan memiliki sedikit kesempatan berinteraksi di luar pekerjaan.

Direktur Work Future Research Centre University of Southampton, Dr. Jane Parry, mengatakan pengalaman bekerja jarak jauh tidak bisa disamaratakan.

Menurut dia, WFH yang dikelola dengan buruk berpotensi membuat pekerja merasa terisolasi atau mengalami kelelahan.

"Pengalaman bekerja jarak jauh sangat bervariasi tergantung pada keadaan seseorang, kualitas manajemen, dan bagaimana pekerjaannya dikelola," ujar Parry.

Artinya, bekerja dari rumah tidak otomatis berdampak buruk bagi kesehatan mental. Sebaliknya, risiko muncul ketika fleksibilitas kerja tidak diimbangi dengan dukungan sosial, komunikasi yang sehat, dan manajemen yang mampu menjaga hubungan antarkaryawan.

Pekerja yang memiliki keluarga atau lingkungan sosial aktif mungkin memiliki pengalaman berbeda dengan mereka yang tinggal sendiri. Begitu pula pekerja yang tetap rutin bertemu tim secara langsung dengan mereka yang hampir seluruh aktivitas profesionalnya berlangsung melalui layar.

Studi Lain Temukan Manfaat WFH

Menariknya, penelitian mengenai dampak kerja jarak jauh tidak menghasilkan satu kesimpulan tunggal.

Studi lain berjudul Hybrid Working from Home Improves Retention Without Damaging Performance menemukan hasil yang berbeda. Penelitian yang melibatkan 1.612 pekerja di perusahaan teknologi perjalanan Trip.com itu menunjukkan bahwa sistem kerja hibrida dapat meningkatkan keseimbangan hidup dan kerja tanpa menurunkan produktivitas.

Pekerja yang ditugaskan bekerja dari rumah selama dua hari dalam seminggu melaporkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan pekerja yang bekerja penuh selama lima hari di kantor.

Mereka juga dinilai memiliki kemungkinan lebih kecil untuk berhenti dari pekerjaan. Sementara itu, produktivitas mereka tidak lebih rendah dibandingkan kelompok yang bekerja sepenuhnya dari kantor.

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa persoalannya mungkin bukan terletak pada WFH itu sendiri, melainkan pada bagaimana sistem tersebut diterapkan.

Kerja dari rumah selama lima hari penuh dapat menciptakan pengalaman yang berbeda dengan sistem hibrida yang masih menyediakan ruang untuk bertemu dan membangun hubungan dengan rekan kerja.

Hibrida jadi Jalan Tengah

Perbedaan hasil berbagai penelitian tersebut membuat sistem kerja hibrida semakin sering dipandang sebagai titik tengah antara fleksibilitas WFH dan kebutuhan manusia untuk tetap terhubung secara sosial.

Namun, Dr. Jane Parry mengingatkan bahwa sistem hibrida juga membutuhkan pengelolaan yang baik. Menurutnya, manajer perlu mendapat pelatihan khusus agar mampu mengenali persoalan yang muncul dalam tim jarak jauh.

"Ini termasuk memeriksa staf untuk mengetahui tanda-tanda mereka merasa terisolasi, tetapi juga memastikan bahwa ketika orang-orang datang ke kantor, mereka dapat duduk [bersama rekan-rekan mereka] dan ada ruang bagi mereka untuk melakukan diskusi kelompok dan terhubung secara informal. Koneksi itu adalah bagian dari budaya tempat kerja," tuturnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kehadiran di kantor tidak selalu harus dimaknai sebagai sekadar memenuhi jam kerja. Jika pekerja tetap datang ke kantor tetapi menghabiskan hari dengan rapat daring dan bekerja sendiri, manfaat sosial dari pertemuan langsung bisa saja hilang.

Kantor, dalam konteks kerja hibrida, justru dapat berfungsi sebagai ruang untuk membangun koneksi, bertukar gagasan, berdiskusi secara spontan, dan memperkuat rasa menjadi bagian dari sebuah tim.

Pandemi COVID-19 mengubah cara banyak perusahaan memandang kerja jarak jauh. Teknologi konferensi video, aplikasi kolaborasi, dan sistem komunikasi digital membuat pekerjaan dapat dilakukan dari hampir mana saja.

Namun, teknologi yang membuat pekerjaan semakin mudah dilakukan dari rumah belum tentu dapat sepenuhnya menggantikan hubungan sosial secara langsung.

Video call dapat menggantikan rapat. Pesan instan dapat mempercepat koordinasi. Akan tetapi, percakapan singkat di sela pekerjaan, makan siang bersama, atau pertemuan spontan memiliki fungsi sosial yang lebih sulit direplikasi melalui layar.

Bagi sebagian pekerja, WFH mungkin menjadi bentuk kebebasan. Namun, bagi sebagian lainnya, rumah yang sekaligus menjadi kantor dapat membuat batas antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan waktu istirahat semakin kabur.(far,ist/dya)
--

Agar WFH tetap asyik dan produktif

 
Buat ritual mulai kerja
Jangan langsung membuka laptop dari tempat tidur. Mandi, sarapan, berganti pakaian, lalu mulai kerja seperti hendak ke kantor. Ritual kecil ini membantu memberi batas antara waktu pribadi dan waktu kerja.

Punya sudut khusus untuk bekerja

Tidak harus ruang kerja besar. Meja kecil dekat jendela pun cukup. Usahakan tempat tidur tidak menjadi lokasi utama bekerja agar otak tidak terus mengasosiasikan rumah dengan pekerjaan.

Pakai teknik kerja berbasis waktu
Misalnya, fokus 50 menit lalu istirahat 10 menit. Saat istirahat, berdiri, berjalan, minum air, atau melihat keluar jendela, bukan sekadar pindah dari laptop ke ponsel.

Jangan makan siang sendirian terus
Sesekali makan siang bersama pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja. Kalau tinggal sendiri, bisa menjadwalkan virtual lunch singkat dengan teman.

Tetap punya interaksi dengan rekan kerja
Jangan semua komunikasi dibuat formal lewat chat. Sesekali lakukan panggilan singkat untuk ngobrol santai. Interaksi kecil seperti ini bisa membuat WFH tidak terasa seperti bekerja sendirian sepanjang hari.

Keluar rumah setelah pekerjaan selesai
Jalan kaki 15–30 menit, membeli kopi, berolahraga, atau sekadar mencari udara segar. Aktivitas ini sekaligus menjadi "perjalanan pulang" versi WFH.

Buat batas jam kerja yang jelas

Tentukan kapan mulai dan kapan selesai. Setelah jam kerja, matikan notifikasi pekerjaan jika memungkinkan. Jangan biarkan laptop yang terbuka membuat otak merasa masih berada di kantor.

Sesekali pindah suasana
Kalau memungkinkan, bekerja dari perpustakaan, coworking space, atau kafe. Pergantian lingkungan dapat menghilangkan rasa monoton.

Tambahkan hal yang menyenangkan
Putar playlist favorit, gunakan aroma terapi, rapikan meja, atau siapkan minuman kesukaan. Buat ruang kerja menjadi tempat yang memang ingin kamu datangi.

Jadwalkan hari bertemu orang

Kalau WFH dilakukan hampir setiap hari, jangan menunggu sampai merasa kesepian. Atur agenda bertemu teman, keluarga, komunitas, atau rekan kerja secara rutin.
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.