25 August 2026

Get In Touch

Mitos atau Fakta: Kulit Pisang Bikin Wajah Glowing

Mitos atau Fakta: Kulit Pisang Bikin Wajah Glowing

SURABAYA ( LENTERA ) - Kulit pisang biasanya berakhir di tempat sampah. Namun, belakangan muncul tren perawatan wajah yang justru memanfaatkannya. Kulit pisang diklaim bisa membuat wajah lebih cerah, mengurangi kerutan, bahkan membantu mengatasi lingkaran hitam di bawah mata.

Caranya pun sederhana,  kulit pisang yang baru dimakan digosokkan langsung ke wajah.

Klaim tersebut terdengar menarik karena pisang memang mengandung berbagai senyawa antioksidan. Tetapi, apakah kulit pisang benar-benar bisa menjadi pengganti skincare?

Jawabannya, belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung klaim tersebut.

Dermatology resident Cleveland Clinic, Taylor Bullock, MD, secara tegas mengatakan belum ada bukti ilmiah bahwa menggosokkan kulit pisang ke wajah memberikan manfaat nyata.
"Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menggosokkan kulit pisang ke wajah akan bermanfaat," kata Bullock.

Memang mengandung antioksidan

Klaim soal kulit pisang bukan sepenuhnya muncul tanpa dasar.
Bullock menjelaskan bahwa pisang kaya akan antioksidan. Sebuah penelitian yang dikutip Cleveland Clinic juga menemukan kulit pisang memiliki kadar antioksidan yang cukup tinggi. Kulit pisang yang belum matang bahkan disebut memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi dibandingkan kulit pisang yang sudah matang atau terlalu matang. 

Antioksidan sendiri memang penting bagi kesehatan kulit.

Kulit terus-menerus terpapar faktor lingkungan, seperti sinar matahari, asap, dan polusi. Paparan tersebut dapat meningkatkan stres oksidatif akibat radikal bebas.

Dalam jangka panjang, stres oksidatif dapat berkontribusi terhadap kerusakan kolagen dan elastin. Dampaknya bisa terlihat dalam bentuk kerutan, kulit kendur, perubahan tekstur, hingga perubahan warna kulit. 

Di sinilah muncul logika bahwa antioksidan dalam kulit pisang mungkin dapat membantu kulit.

Masalahnya, mengandung antioksidan tidak otomatis berarti efektif ketika kulit pisang digosokkan ke wajah. Jadi, kulit pisang tidak otomatis menjadi skincare

Bullock menjelaskan bahwa secara teori seseorang mungkin mendapatkan sejumlah antioksidan dari kulit pisang yang ditempelkan pada kulit.

Namun, jumlah dan efektivitasnya belum terbukti cukup untuk menghasilkan manfaat skincare yang berarti.

"Secara teori, Anda mungkin bisa mendapatkan antioksidan dengan menggosokkan kulitnya pada kulit Anda," kata Bullock. 

Jika tujuan utamanya mendapatkan manfaat antioksidan, ia menyarankan menggunakan produk skincare yang memang diformulasikan untuk kulit.

Dengan kata lain, kandungan suatu bahan secara alami tidak cukup untuk membuktikan bahwa bahan tersebut efektif ketika digunakan sebagai perawatan topikal.

Klaim menghilangkan kerutan

Ini salah satu klaim yang paling sering muncul dalam tren skincare berbasis kulit pisang.
Pengguna media sosial mengklaim menggosokkan kulit pisang ke wajah dapat membuat garis halus dan kerutan tampak berkurang.

Namun, menurut Bullock, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa metode tersebut benar-benar memberikan hasil seperti itu. 

Kerutan sendiri merupakan proses kompleks yang dipengaruhi usia, paparan sinar ultraviolet, genetika, hingga perubahan kolagen dan elastin.

Karena itu, mengandalkan kulit pisang sebagai “anti-aging treatment” tentu terlalu jauh jika tidak didukung penelitian klinis.

Bisa mengatasi mata panda?

Klaim lainnya adalah kulit pisang dapat membantu mengurangi lingkaran hitam di bawah mata.

Lagi-lagi, belum ada bukti kuat bahwa menggosokkan kulit pisang secara langsung ke area tersebut mampu menghilangkan dark circles.

Area bawah mata juga termasuk bagian kulit yang relatif tipis dan sensitif. Produk atau bahan yang belum teruji bisa berisiko menyebabkan iritasi, terutama jika digunakan terlalu dekat dengan mata
.
Karena itu, tren DIY tidak selalu berarti lebih aman hanya karena menggunakan bahan alami.

Cleveland Clinic menyarankan memilih bahan atau produk skincare yang memang diformulasikan untuk penggunaan pada kulit.
Bullock menyebut beberapa pilihan sumber antioksidan, antara lain vitamin C, minyak argan, dan minyak jojoba. 

Vitamin C menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan dalam skincare karena memiliki aktivitas antioksidan dan dapat membantu meratakan pigmentasi kulit.
Bullock bahkan menyebut vitamin C sebagai antioksidan favoritnya untuk direkomendasikan kepada pasien.

Ia menyarankan vitamin C digunakan pada pagi hari dan dilanjutkan dengan sunscreen untuk membantu melindungi kulit dari paparan radikal bebas sepanjang hari. 

Jangan asal mengoleskan 

Tren skincare DIY sering terlihat menarik karena murah dan mudah dilakukan.

Namun, kulit wajah memiliki kondisi yang berbeda dengan sistem pencernaan. Bahan yang aman dimakan belum tentu otomatis aman digunakan sebagai skincare.

Produk skincare diformulasikan dengan mempertimbangkan konsentrasi bahan aktif, stabilitas, pH, pengawet, serta keamanan penggunaan pada kulit.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pH kulit orang dewasa umumnya berada di sekitar 5,5, atau sedikit asam. Keseimbangan tersebut membantu menjaga lingkungan kulit dan fungsi skin barrier. Perubahan pH yang terlalu jauh dapat mengganggu keseimbangan kulit dan membuat barrier bekerja kurang optimal. 

Karena itu, “alami” bukan satu-satunya ukuran keamanan.

Jika ingin mendapatkan kulit yang sehat dan tampak glowing, rutinitas dasar justru lebih penting daripada mencoba banyak bahan DIY.

Mulailah dengan membersihkan wajah menggunakan pembersih yang lembut. Cleveland Clinic merekomendasikan penggunaan air suam-suam kuku dan mengeringkan wajah dengan cara menepuknya secara perlahan, bukan menggosok keras.

Kemudian gunakan pelembap sesuai kebutuhan kulit dan jangan melewatkan sunscreen pada siang hari.

Jika ingin menambahkan antioksidan, pilih produk yang kandungannya jelas dan telah diformulasikan untuk penggunaan pada wajah.
Untuk masalah seperti pigmentasi, jerawat, kerutan, atau iritasi yang menetap, konsultasi dengan dokter kulit juga jauh lebih aman daripada mencoba berbagai resep viral.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.