SURABAYA ( LENTERA ) - Dentuman musik elektronik menggema dari dalam arena Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2. Lampu bernuansa industrial menyapu ruangan yang dipenuhi ribuan manusia dengan pakaian olahraga, sepatu lari, dan ekspresi penuh adrenalin.
Keringat menjadi bagian dari atmosfer.
Aroma minyak angin bercampur dengan bau karet matras dan napas para peserta yang sedang memulihkan tenaga. Mereka datang bukan sekadar untuk berolahraga, melainkan untuk membuktikan satu hal yaitu seberapa jauh tubuh mereka mampu bertahan.
Mereka adalah peserta Hyrox, kompetisi kebugaran yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi fenomena baru di kalangan masyarakat urban.
Di permukaan, Hyrox tampak seperti perayaan gaya hidup sehat modern. Olahraga ini menggabungkan dua elemen yang sedang populer yaitu daya tahan lari dan kekuatan latihan fungsional.
Formatnya sederhana, tetapi brutal. Peserta harus menyelesaikan delapan kilometer lari yang diselingi delapan stasiun latihan berat. Tantangannya mulai dari mendorong kereta besi dengan beban besar (sled push), menarik beban (sled pull), membawa beban berat (farmer’s carry), hingga melakukan lemparan bola ke dinding (wall balls) berulang kali.
Bagi komunitas kebugaran, Hyrox menjadi simbol baru pencapaian fisik. Bukan hanya soal bentuk tubuh, tetapi juga tentang daya tahan, disiplin, dan kemampuan melewati batas diri.
Popularitasnya semakin meningkat setelah sejumlah figur publik ikut ambil bagian.
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo berhasil menyelesaikan perlombaan dengan catatan waktu di bawah dua jam. Sementara figur publik seperti Ibnu Jamil serta Sheryl Sheinafia turut membagikan pengalaman mereka di media sosial.
“HYROX telah diselenggarakan di lebih dari 30 negara di seluruh dunia,” ujar William, perwakilan penyelenggara saat peluncuran ajang tersebut di Jakarta. Menurutnya, antusiasme komunitas olahraga Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat mulai mencari bentuk latihan yang lebih menantang.
Namun, di balik foto medali, konten olahraga, dan unggahan penuh kebanggaan di media sosial, muncul cerita lain yang jauh dari kesan glamor. Cerita itu datang bukan dari podium juara, melainkan dari sisi paling manusiawi ketika tubuh yang kehilangan kendali.
Waspada 'Cepirit'
Percakapan mengenai Hyrox mendadak ramai di media sosial setelah sejumlah akun membagikan pengalaman peserta yang mengalami kejadian memalukan saat latihan maupun menghadapi kompetisi.
Istilah “cepirit”--buang air besar tanpa sengaja saat aktivitas fisik berat--menjadi bahan perbincangan. Bagi sebagian warganet, cerita itu terdengar lucu. Namun bagi pelaku olahraga endurance, kondisi tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing.
Salah satu pengguna X, @Jekiiiq_, menilai kejadian tersebut masuk akal mengingat tuntutan fisik Hyrox.
“Hyrox itu capek banget. Baru selesai lari, langsung disuruh dorong beban atau narik beban. Jadi nggak heran kalau ada beberapa orang yang nggak kuat tapi tetap maksa,” tulisnya.
Di balik reaksi publik yang bercampur antara tertawa dan penasaran, ada pertanyaan yang lebih serius: mengapa olahraga yang identik dengan kesehatan justru bisa membuat tubuh kehilangan kontrol?Jawabannya ada pada cara tubuh merespons tekanan ekstrem.
Edukator kesehatan dr. Adam Prabata menjelaskan bahwa fenomena tersebut memiliki istilah medis, yakni exercise-associated gastrointestinal symptoms (EAGIS).
“Fenomena ‘cepirit’ saat sedang olahraga intens itu ada namanya yaitu exercise-associated gastrointestinal symptoms (EAGIS). Kejadian ini nggak dialami oleh semua orang, tapi angka kejadiannya meningkat pada olahraga dengan intensitas tinggi,” ujar dr. Adam.
Menurutnya, gangguan pencernaan saat olahraga berat bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari rasa mual, kram perut, mulas, ingin buang air besar secara tiba-tiba, hingga diare.
Fenomena ini juga sering ditemukan pada olahraga daya tahan seperti lari jarak jauh. Dalam dunia olahraga, kondisi tersebut dikenal sebagai runner’s trot, yaitu gangguan pencernaan yang dialami pelari akibat kombinasi tekanan fisik, gerakan tubuh, dan perubahan kerja organ selama aktivitas berat.
Spesialis kedokteran olahraga dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, menjelaskan bahwa gangguan tersebut terjadi karena tubuh mengalami perubahan distribusi aliran darah ketika berolahraga.
Saat seseorang berlari atau mengangkat beban dalam intensitas tinggi, tubuh memasuki kondisi stres fisiologis. Sistem saraf akan mengaktifkan mekanisme bertahan hidup dengan mengutamakan suplai darah ke organ yang paling membutuhkan energi: jantung, paru-paru, dan otot.
Akibatnya, aliran darah menuju saluran pencernaan dapat berkurang.Kondisi ini disebut splanchnic hypoperfusion. Ketika usus tidak mendapatkan suplai darah optimal, fungsi pencernaan dapat terganggu. Kontraksi usus bisa berubah, penyerapan cairan terganggu, dan tubuh memberi sinyal berupa rasa mulas atau dorongan buang air besar.Dalam beberapa kondisi, gangguan tersebut bisa terjadi sangat cepat.
Hyrox memberikan tekanan yang berbeda dibanding olahraga biasa.
Peserta tidak hanya berlari. Mereka harus berpindah dari aktivitas aerobik menuju latihan kekuatan secara terus-menerus. Jantung dipaksa bekerja tinggi, otot mengalami kelelahan, sementara tubuh tetap diminta mempertahankan koordinasi.
Gerakan seperti melompat, jongkok, membawa beban, dan mendorong alat berat juga meningkatkan tekanan dalam rongga perut.
Tekanan tersebut dapat memengaruhi organ pencernaan, terutama ketika seseorang sudah berada di titik kelelahan.
Ketika otot mengalami fatigue atau kelelahan, kemampuan tubuh mempertahankan kontrol juga bisa menurun.
Dalam situasi itulah tubuh terkadang mengambil alih. Dorongan biologis menjadi lebih kuat daripada kemampuan seseorang untuk menahannya.
Waspada Serangan Jantung akibat FOMO
Banyak pemula yang terjebak fenomena FOMO (Fear of Missing Out) langsung mendaftarkan diri ke ajang intensitas tinggi ini tanpa melakukan skrining kesehatan dasar terlebih dahulu. Dorongan fisik pada sirkuit Hyrox memaksa jantung bekerja di zona maksimal dalam waktu yang lama. Jika seseorang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular laten yang tidak terdeteksi, taruhannya adalah nyawa.
Para pakar kardiologi dan kedokteran olahraga memperingatkan dengan keras agar peserta tidak asal terjun ke sirkuit tanpa latihan adaptasi bertahap, karena memaksakan jantung melampaui batas kapasitasnya secara mendadak dapat memicu sudden cardiac arrest (henti jantung mendadak).
Waspada Grip Fatigue & Postur Rusak
Stasiun seperti Sled Push dan Sandbag Lunges memaksa otot kaki bekerja hingga batas penumpukan asam laktat tertinggi. Masalahnya, ketika otot utama sudah kelelahan (fatigue), postur tubuh peserta biasanya akan rusak dan membungkuk. Mengangkat beban berat dalam kondisi postur tubuh yang salah akan memindahkan tekanan destruktif langsung ke tulang belakang (lumbar) dan persendian lutut, yang memicu cedera saraf terjepit atau robek otot kronis.
Tips Aman Menaklukkan Tantangan
Bagi Anda yang tertantang untuk mengubah gaya hidup dan menaklukkan sirkuit ini, para atlet profesional mengingatkan pentingnya strategi dibanding sekadar mengandalkan modal nekat. Atlet kualifikasi Kejuaraan Dunia, Edwardo Senaen, bersama figur publik seperti Ibnu Jamil, kerap menekankan pentingnya manajemen energi.
Lakukan Pacing (Pengaturan Ritme).Jangan melakukan sprint di putaran lari pertama karena euforia. Gunakan jam tangan pintar untuk memantau agar detak jantung tetap berada di batas aman (Zone 3 atau awal Zone 4).
Atur Nutrisi & Hidrasi Rendah Serat. Kurangi makanan tinggi serat dan tinggi lemak 24 jam sebelum balapan untuk memastikan lambung kosong dan aman dari risiko EAGIS. Manfaatkan stasiun hidrasi isotonik di sirkuit untuk menjaga keseimbangan elektrolit tubuh agar terhindar dari kram otot parah.(ist/dya)




.jpg)
