26 June 2026

Get In Touch

Pendapatan Tergerus, Sopir Angkot di Malang Minta Koridor 2 Trans Jatim Dibatalkan

Sopir angkutan kota Malang melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Perhubungan Kota Malang, Kamis (25/6/2026). (Santi/Lentera)
Sopir angkutan kota Malang melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Perhubungan Kota Malang, Kamis (25/6/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) di Kota Malang mengeluhkan pendapatannya terus tergerus sejak beroperasinya layanan Bus Trans Jatim. Kondisi tersebut mendorong para pengemudi juga meminta rencana pengoperasian Koridor 2 Trans Jatim dibatalkan.

Koordinator Angkutan Kota (Angkot) Jalur AG, Sony Junaidi, mengatakan hingga kini belum ada keseimbangan kebijakan antara layanan bus antarkota tersebut dengan angkutan kota yang telah lebih dahulu melayani masyarakat.

"Kami sebagai pengurus jalur mewakili rekan-rekan angkot di Kota Malang, dengan adanya Trans Jatim ini masih belum ada keseimbangan dengan pelaku angkutan kota. Sehingga kami 100 persen merasa dirugikan," ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Sony menjelaskan, para sopir angkot juga merupakan penyedia layanan transportasi publik yang menggantungkan penghasilan dari jumlah penumpang setiap hari. Karena itu, keberadaan Trans Jatim dinilai turut mengurangi pendapatan para pengemudi.

Menurut Sony, kekhawatiran tersebut semakin besar setelah muncul rencana pengoperasian Koridor 2 Trans Jatim. Padahal, pihaknya menilai regulasi dan evaluasi terhadap operasional Koridor 1 hingga kini belum memberikan kepastian bagi keberlangsungan angkot.

Diharapkannya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun pemerintah daerah dapat menyusun regulasi yang mampu menciptakan keseimbangan antara layanan Trans Jatim dan angkutan kota. "Intinya supaya sama-sama sejahtera. Walaupun ada Trans Jatim, angkutan kota tetap bisa eksis melayani masyarakat," katanya.

Dalam aksi yang dilakukan di depan Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang tersebut, juga muncul usulan agar angkot dimanfaatkan sebagai feeder atau angkutan pengumpan menuju halte Trans Jatim. Namun, Sony menilai konsep tersebut hanya akan efektif apabila penempatan halte tidak terlalu rapat.

Menurutnya, jika jarak antar halte terlalu dekat, masyarakat cenderung langsung menggunakan Trans Jatim sehingga fungsi angkot sebagai penghubung tidak berjalan.

"Kalau feeder itu kan hanya penghubung. Kalau haltenya tidak terlalu dekat, kami sebenarnya sudah menjadi feeder. Tapi kalau haltenya berdekatan, justru Trans Jatim yang menguasai penumpang, bukan kami yang beroperasi," paparnya.

Karena itu, pihaknya mengusulkan agar jumlah halte dievaluasi atau jaraknya dibuat lebih renggang sehingga angkot tetap memiliki peran sebagai transportasi penghubung menuju halte maupun terminal.

Sony menyebut, saat ini diperkirakan masih terdapat sekitar 1.000 sopir angkot yang aktif beroperasi di Kota Malang. Mereka tersebar di 17 jalur angkutan kota yang masih melayani mobilitas masyarakat hingga sekarang.

Reporter: Santi Wahyu

 

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.