SURABAYA (Lentera) -Turki sudah melakukan segalanya termasuk melepas total 62 tembakan. Ujungnya, Turkiye harus berucap selamat tinggal kepada Piala Dunia 2026.
Nasib tragis dialami Turki besutan pelatih asal Italia, Vincenzo Montella. Mereka harus mengepak koper dan bersiap pulang meski baru turun dua laga di Piala Dunia 2026.
Vincenzo Montella dan pemain-pemain Turkiye barangkali akan bingung sendiri melihat petualangan mereka di Piala Dunia 2026 berakhir prematur.
Turki selalu mampu tampil dominnan dalam dua laga Grup D Piala Dunia 2026. Ketika bersua Australia di partai pertama grup, persentase penguasaan bola pasukan Montella mencapai 71,6 persen.
Niat Montella menjadikan Turki sebagai tim yang jago mengendalikan permainan bisa dibilang sukses karena mereka juga mengemas 78,5 persen penguasaan bola dalam partai kedua grup melawan Paraguay.
62 Tembakan, 0 Gol
Tak cuma itu, setelah menghujani Australia dengan 30 tembakan, Turki kemudian membuat Paraguay ketar-ketir dengan memproduksi total 32 ancaman.
Total 62 tembakan itu nyatanya tak berujung gol dan kemenangan. Usai dibekuk Australia 0-2, Turkiye kembali kolaps dan kalah 0-1 dari Paraguay di Stadion San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, Jumat (19/6/2026) atau Sabtu pagi WIB.
Kekalahan dari Paraguay memastikan Turki tersingkir dari Piala Dunia 2026.
"Kami menciptakan peluang, tetapi entah bagaimana bola tidak masuk," kata Montella dilansir dari Reuters. "Sepak bola tidak logis. Itulah yang menjadikannya olahraga terindah di dunia," ucap eks pelatih Fiorentina dan AC Milan itu.
Menurut Opta, Turkiye jadi tim dengan jumlah tembakan terbanyak yang tak mampu mencetak gol dalam dua laga Piala Dunia sejak 1966.
Turki tidak hanya memiliki peluang yang luar biasa banyak, tetapi mereka juga mendominasi penguasaan bola di kedua pertandingan mereka.
Mencoba Segalanya
Selama 180 menit bertanding di Piala Dunia 2026, dikutip Kompas, Turki tampil dominan, atraktif, dan menghibur. Mereka nyaris sudah melakukan semuanya, yang kurang hanya gol.
"Kami mencoba segalanya. Kami menembak, tetapi tidak masuk," tutur kapten Turki, Hakan Calhanoglu.
"Kami menembak dan membentur tiang. Nasib buruk. Mereka hanya memiliki satu peluang, dan itu adalah gol," tuturnya menyinggul gol Paraguay yang dicetak oleh Matias Galarza pada menit kedua.
Perjalanan Turki di Piala Dunia 2026 pun terasa tragis. Laga terakhir melawan Amerika Serikat pada 25 Juni mendatang sudah tak akan mengubah nasib mereka.
Kendati demikian, Calhanoglu ingin tim terus melangkah dengan kepala tegak.
"Ini adalah pengalaman belajar bagi semua orang. Kami harus bangga pada diri kami sendiri," tutur gelandang Inter tersebut.
"Kami tidak sampai sejauh ini dengan mudah. Lihatlah seberapa jauh kami telah melangkah. Kami masih memiliki turnamen lain di depan kami," katanya dikutip dari Tuttomercatoweb (*)
Editor: Arifin BH





.jpg)
