27 May 2026

Get In Touch

Perang Ubah Iduladha di Gaza: Tak Ada Kurban, Tak Ada Perayaan

Warga Palestina berjalan di antara tumpukan puing dan bangunan rusak, di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, 19 November 2025. (REUTERS)
Warga Palestina berjalan di antara tumpukan puing dan bangunan rusak, di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, 19 November 2025. (REUTERS)

GAZA (Lentera) - Menjelang Iduladha yang identik dengan kebersamaan dan perayaan di berbagai negara Muslim, warga di Jalur Gaza justru kembali menghadapi kenyataan pahit akibat perang berkepanjangan dan krisis kemanusiaan yang belum mereda.

Bagi Ahmed Nashwan, warga Palestina di Gaza, Idul Adha tahun ini menjadi tahun ketiga berturut-turut tanpa tradisi memilih hewan kurban bersama keluarga. Tradisi yang dahulu menjadi simbol kebahagiaan kini hanya menyisakan kenangan.

"Sebelum perang, Idul Adha adalah momen penuh kebahagiaan bagi kami. Kami biasa berkumpul bersama keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, lalu membagikan daging kepada kerabat dan warga miskin," ujar Nashwan, mengutip Xinhua, Selasa (26/5/2026).

Iduladha yang berlangsung selama 4 hari dan dimulai pekan ini merupakan salah satu hari raya terbesar umat Muslim. Perayaan tersebut identik dengan penyembelihan hewan kurban bagi umat Muslim yang mampu secara ekonomi.

Namun, kondisi di Gaza kini sangat berbeda. Nashwan mengatakan, warga bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, apalagi membeli hewan kurban.

"Kini Iduladha bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan. Tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, sementara sebagian besar warga bahkan kesulitan mendapatkan makanan," katanya.

Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel tercapai pada Oktober 2025, pembatasan ketat yang masih diberlakukan Israel di Jalur Gaza membuat arus barang masuk tetap sangat terbatas.

Kondisi itu berdampak langsung pada kelangkaan hewan ternak seperti domba dan sapi yang biasa digunakan untuk kurban.

Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengungkapkan harga hewan kurban melonjak drastis sejak perang meletus. Jika sebelum konflik seekor hewan kurban dijual sekitar 500 dolar AS, kini harganya mencapai 6.000 hingga 7.000 dolar AS atau setara Rp106 juta hingga Rp124 juta.

Lonjakan harga tersebut membuat hewan kurban berada jauh di luar jangkauan mayoritas warga Gaza yang kehilangan pekerjaan, pendapatan, hingga tempat tinggal akibat perang.

Warga Gaza City, Mohammed al-Hissi, mengatakan suasana Idul Adha yang dulu penuh sukacita kini berubah menjadi kesedihan. Ayah empat anak itu mengaku keluarganya tidak lagi mampu menjalankan tradisi kurban seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Anak-anak saya dulu selalu bangun pagi memakai pakaian baru dan ikut membagikan daging kurban ke kerabat. Sekarang semuanya berubah karena perang dan kondisi kemanusiaan yang semakin buruk," ujarnya.

Hal serupa dirasakan Mohammed Shallah, warga Khan Younis di Gaza selatan. Pemuda berusia 22 tahun itu mengenang tradisi Iduladha bersama ayahnya yang tewas akibat serangan udara Israel.

"Dulu kami pergi bersama ayah untuk memilih hewan kurban. Sekarang saya bahkan tidak mampu membeli hewan kurban sama sekali," katanya saat berdiri di samping makam sang ayah.

Di sisi lain, pedagang ternak Salah Afana menyebut permintaan hewan kurban di Gaza nyaris hilang akibat kemiskinan yang semakin meluas. Menurutnya, harga ternak naik berkali-kali lipat karena banyak hewan mati akibat serangan udara, kekurangan pakan, dan lumpuhnya layanan veteriner.

"Tidak ada ternak yang masuk ke Gaza karena perlintasan ditutup," ujar Afana.

Juru Bicara Kementerian Pertanian Gaza, Raafat Asaliya, menjelaskan sebelum perang Gaza biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi serta 30.000 hingga 40.000 domba setiap menjelang Idul Adha.

Namun sejak perang pecah dan akses perlintasan ditutup, impor ternak terhenti total. Banyak peternakan, kandang, hingga gudang pakan juga hancur akibat serangan selama konflik berlangsung.

Maher al-Tabbaa menambahkan, hancurnya kawasan peternakan di Gaza timur semakin memperparah kelangkaan hewan kurban di wilayah tersebut.

"Warga Gaza telah kehilangan kesempatan berkurban selama tiga tahun berturut-turut. Tidak ada yang tahu sampai kapan Iduladha tanpa kurban ini harus mereka jalani," pungkasnya.

Editor: Santi/Ant

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.