13 May 2026

Get In Touch

KPPG Akui Ada Kesalahan Penerapan SOP dalam Kasus Dugaan Keracunan MBG di Surabaya

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Surabaya (kerudung biru) menghadiri hearing di DPRD Surabaya. (Amanah/Lentera)
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Surabaya (kerudung biru) menghadiri hearing di DPRD Surabaya. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) - Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Surabaya, Kusmayanti, mengakui adanya kesalahan dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Surabaya, terkait kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal ini terungkap saat hearing bersama DPRD Surabaya, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai, dan beberapa OPD terkait pada Rabu (13/5/2026).

Menurut Kusmayanti, SOP yang telah ditetapkan BGN sebenarnya sudah berjalan baik. Namun, di lapangan ditemukan kelalaian dalam pelaksanaannya, salah satunya tidak adanya pengawas gizi saat bahan baku makanan datang dan dilakukan pengecekan kualitas.

"Penerapan pada SOP, jadi SOP yang ditentukan oleh BGN itu sudah baik adanya. Namun pada SPPG tersebut terjadi kesalahan penerapan pada SOP. Jadi di antaranya pengawas gizi tidak ada di tempat pada saat kualitas bahan baku datang," ujar Kusmayanti.

Ia mengatakan kondisi tersebut membuat pihaknya belum dapat memastikan sumber kerusakan makanan, apakah berasal dari kualitas bahan baku sejak awal atau terjadi saat proses pengolahan makanan.

"Sehingga kita belum bisa memastikan kerusakan itu terjadi pada kualitas asal bahannya atau pada proses pengolahannya," katanya.

Selain itu, proses pemeriksaan juga terkendala karena sebagian sampel makanan yang seharusnya diuji justru mengalami kerusakan. Akibatnya, hanya sebagian sampel yang masih bisa digunakan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Ditambah lagi sampel yang ada akhirnya menjadi sebagian saja yang bisa diambil dan sebagiannya rusak. Itu adalah sesuatu yang mungkin ke depannya kita bisa lebih baik dan lebih waspada," jelasnya.

Saat ini, KPPG Surabaya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelesaian berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap seluruh petugas yang terlibat sebelum menarik kesimpulan akhir terkait penyebab insiden tersebut.

"Untuk sementara itu yang bisa kami sampaikan karena kami masih menunggu hasil dan menyelesaikan keseluruhan BAP kepada seluruh petugas untuk bisa kami tarik kesimpulannya," tuturnya.

Tak hanya itu, Kusmawati juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang disebut sebagai kasus pertama keracunan MBG di Surabaya.

"Dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Ini menjadi catatan bagi kami untuk jauh lebih waspada dan lebih hati-hati dalam penerapan SOP," tutupnya.

Diketahui, terkait kasus keracunan ini pihaknya mencatat total siswa terdampak mencapai 201 orang dari 10 sekolah. Sebanyak tujuh siswa sempat menjalani rawat inap, sementara siswa lainnya telah dipulangkan setelah mendapat penanganan medis.

Reporter: Amanah

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.