27 April 2026

Get In Touch

Dugaan Kematian Balita Keracunan MBG di Cianjur, Dinkes Tunggu Hasil Lab dan BGN Bantah

Puluhan balita dan ibu di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mendapat pertolongan medis di puskesmas setempat karena mengalami keracunan usai menyantap menu MBG, Kamis (15/4/2026). (foto:ist/dok.Ant)
Puluhan balita dan ibu di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mendapat pertolongan medis di puskesmas setempat karena mengalami keracunan usai menyantap menu MBG, Kamis (15/4/2026). (foto:ist/dok.Ant)

CIANJUR (Lentera) - Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur masih menunggu hasil laboratorium guna memastikan penyebab meninggalnya balita MAB (2) warga Kecamatan Leles, Jumat (24/4/2026), yang sebelumnya mengalami dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama 63 orang ibu dan balita lainnya.

Kepala Dinkes Cianjur Made Setiawan mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah pasien tersebut meninggal akibat keracunan yang disebabkan mengonsumsi MBG atau tidak, karena masih menunggu hasil uji laboratorium.

"Kami masih menunggu hasil uji laboratorium, guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain. Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan ke depan," katanya di Cianjur, Sabtu (25/4/2026) mengutip Antara, Minggu (26/4/2026).

Dia menjelaskan, pascakejadian pihaknya memastikan puluhan korban keracunan sudah mendapatkan penanganan medis dan tetap mendapat pengawasan ketika sudah diperbolehkan pulang. 

Tenaga kesehatan di masing-masing desa, akan memberikan pemantauan dan pengawasan.

Sementara Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran mencatat, balita MAB meninggal dunia diduga akibat keracunan, setelah mendapat perawatan selama 12 jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Direktur RSUD Pagelaran, Irfan Nur Fauzi mengatakan pasien balita itu datang dengan kondisi tidak stabil dan menjalani perawatan di IGD RSUD Pagelaran. Sebelumnya, balita itu mendapat perawatan di Puskesmas Leles, pada Rabu (22/4/2026).

"Pasien balita ini rujukan dari Puskesmas Leles dan langsung mendapat penanganan di IGD karena kondisinya tidak stabil, lemas, pusing, dan tangan serta kaki bengkak. Kami memberikan penanganan selama 12 jam," katanya.

Balita tersebut menghembuskan nafas terakhir, dengan diagnosa karena syok septik, di mana sejak awal penangan terdapat riwayat diare.

Terpisah, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang membantah isu yang menyebut balita berinisial MAB (2) di Cianjur meninggal dunia akibat keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Tidak benar meninggalnya bayi usia 2 tahun di Cianjur karena Program MBG," kata Nanik mengutip keterangannya melansir CNN Indonesia, Minggu (26/4/2026).

Nanik menjelaskan, makanan MBG diberikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasirna 02 Leles ke penerima manfaat, pada Selasa (14/4/2026) dan langsung dikonsumsi pada hari yang sama. Menu yang disajikan saat itu meliputi mi kecap, telur dadar, susu, dan buah.

Pada malam harinya serta keesokan pagi, orangtua anak memberikan tambahan makanan berupa apel dan susu formula yang dibeli secara mandiri di luar program MBG. Gejala pun muncul dua hari setelahnya yakni, pada Kamis (16/4/2026) saat anak itu mulai muntah-muntah.

Seperti diberitakan sebelumnya, 63 balita dan ibu mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di dua desa di Kecamatan Leles, pada Selasa (14/4/2026). Gejalanya muncul, Kamis (16/4/2026), sebagian besar kembali pulih, tinggal beberapa orang masih menjalani perawatan.

Selain mendapat perawatan di puskesmas, sebagian kecil mendapat perawatan di bidan, klinik. Masih terdapat enam balita yang menjalani perawatan di puskesmas, sedangkan puluhan lainnya sudah diperbolehkan pulang.

 

 

Editor: Arief Sukaputra/Berbagai sumber

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.