16 April 2026

Get In Touch

Mandat Akhir Menjemput Pak Adjidarmo

Satu hal yang membuat bangga, tentang keinginan Pak Adji:
Satu hal yang membuat bangga, tentang keinginan Pak Adji: "Tentu saja senang kalau ada yang datang ngajak ngobrol" (Dok.ABH)

OBITUARI (Lentera) -Bulan Purnama bersinar terang di langit biru. Bintang- bintang di sekitarnya pun riang. Udara redup menutup malam.

Berita menyedihkan, walaupun tidak lagi mengejutkan karena kabar tentang sakitnya yang kian berlarut-larut sudah lama terdengar.

Drs. H. Adjidarmo Dwidjodarsono, yang oleh kawan-kawan dekatnya dan para mahasiswanya dipanggil Pak Adjidarmo, meninggal dunia 3 April 2026 pukul 02:50 WIB.

Almarhum dilahirkan pada 10 Oktober 1939. Jadi ketika meninggal usianya 86 tahun.

Sosok Adjidarmo, selalu diingat oleh alumni Akademi Wartawan Surabaya -sekarang Stikosa-AWS, adalah seorang dosen pengajar ilmu Publisistik.

Perjalanan Pak Adji -sapaan akrabnya, sangat panjang. Beliau bergabung di AWS pada tahun 1967 sebagai asisten dosen. Waktu itu kampus AWS masih berada di Jalan Kapasari, Surabaya.

Beberapa tahun kemudian Pak Adji diangkat menjadi dosen tetap. Ia mengajarkan mata kuliah Publisistik dan Kehumasan.

Di luar dosen Pak Adji merupakan Kepala Humas Perhutani Jawa Timur yang kemudian menjadi Departemen Pertanian.

Pak Adji menjadi Ketua Stikosa-AWS pada tahun 1990-an. Ia menggantikan Drs. Atjik Sudiono yang pernah menjabat Kepala Kanwil Departemen Penerangan Jawa Timur sebelum berubah menjadi Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur.

Seiring perjalanan waktu Pak Adji berangsur-agsur mundur dari dunia kampus. Di usia “kepala tujuh” kesehatannya semakin menurun. Selain pendengarannya berkurang, ia harus menggunakan kursi roda. 

Kediaman saya di Rungkut Barata, Surabaya. Sementara Pak Adji menempati rumah di Rungkut Mapan. Tempat tinggal kami menjadi dekat. Beberapa kali saya sowan. 

Tanggal 1 Oktober 2023, pada ulang tahun Pak Adji ke-84 saya membawakan kue.

Pak Adji menyampaikan terima kasih atas doa teman-teman yang memberikan ucapan selamat. "Saya baru ingat ultah saat ada kue datang. Maaf sudah lama sekali. Usia saya hari ini 84 tahun"

Ia merasa senang sekali jika ada yang datang. Maka ketika saya dan istri pamit, Pak Adji mengatakan "terpaksa" monggo. Terpaksa, maksudnya masih ingin berlama-lama bicara.

Istri Pak Adji sudah meninggal dunia. Putra satu-satunya juga meninggal pada 31 Juli 2024. Pak Adji hidup sendiri, diasuh adiknya bersama seorang pembantu.

Ahad sore 8 September 2024, ada pertemuan kawan-kawan Stikosa-AWS. Yang hadir lintas tahun kelulusan.

Ibu Andarini dan Pak Adjidarmo bertemu beberapa mahasiswa angkatan 1976, Kamis siang (15/5/2025) -Dok.ABH
Ibu Andarini dan Pak Adjidarmo bertemu beberapa mahasiswa angkatan 1976, Kamis siang (15/5/2025) -Dok.ABH

Pak Adji saya WhatsAp (WA): “Pak, apakah bisa hadir. Jika bisa saya jemput”

Alhamdulillah bisa! Kehadiran Pak Adji menjadi kejutan. Semua terjadi lantaran berkah Ilahi.

Saya masih ingat betul. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat silaturahmi, Pak Adji selalu bertanya: “Dimana ini?”; “Sampai mana ini?”; “Mengapa lewat sini?”…

Saya terharu ketika beliau mengatakan: “Maklum hampir 5 tahun banyak tinggal di rumah. Saya tidak pernah kemana-mana. _Pangling (tidak kenal, karena berubah) dengan situasi sekarang”_

Satu hal yang membuat saya bangga, tentang keinginan Pak Adji di masa depan: "Tentu saja senang kalau ada yang datang ngajak ngobrol"

Alumni UGM

AWS pada zamannya masih berafiliasi dengan Universitas Gajah Mada (UG) Yogyakarta. Ujian negara pun ikut UGM. Setidaknya ada 3 dosen lulusan UGM: Atjik Sudiono-sudah almarhum, Andarini dan Adjidarmo.

Kawan-kawan alumni juga sering berkunjung ke rumah Pak Adji. Bukan sekadar melepas kangen. Lebih dari itu, menghibur Pk Adji agar tetap semangat. 

Ibu Andarini dan Pak Adjidarmo bertemu beberapa mahasiswa angkatan 1976, Kamis siang (15/5/2025). Alhamdulillah, saya angkatan 1979 katut diundang.

Inisiatornya Bu Rini -sapaan Bu Andarini. Bertepatan dengan Ultahnya yg ke-79. Tempatnya dipilih dekat dengan rumah Pak Adjidarmo. Cerita bermula nostalgia antara Pak Adji dan Bu Rini. Keduanya lulusan UGM Yogyakarta.

Keriuhan meledak dengan segala peristiwanya. Mas Ferry Suhariyanto alias Mas Pe’i sangat lihai mengemas cerita. Bu Rini dibuat terpingkal-pingkal. “Saya lama tidak tertawa, Hari ini ngakak”

Kita memang saling jauh. Tetapi rasa kebersamaan membuat dekat…

Mandat akhir…

Pertengahan bulan April 2026 ini ada agenda silaturahmi sejumlah alumni, sekaligus peluncuran buku: Kawah Pena Hebat Memori Kampus Kapasari.

Tempat tinggal kami berdekatan. Beberapa kali saya sowan mengantar buku (Dok.ABH)
Tempat tinggal kami berdekatan. Beberapa kali saya sowan mengantar buku (Dok.ABH)

Saya mendapat mandat menjemput Pak Adjidarmo. Saya membayangkan, betapa hebohnya apabila beliau bisa hadir. 

Tetapi takdir berkata lain. Tuhan menugaskan Malaikat Maut untuk menjemput Pak Adji. 

Mandat akhir saya berakhir. Saya dan kawan-kawan alumni Stikosa-AWS justru mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir.

Ada sebuah pepatah: "Kematian akan datang kepadamu di hari seperti biasanya. Di tengah rencana yang belum selesai, dan dunia pun akan terus berjalan tanpa dirimu lagi"

Cuaca cerah ikut mengiringi waktu jenasah Pak Adji dishalatkan di Masjid Ash-Shoobirin. Padahal, sebelum-sebelumnya, selalu mendung dan hujan. 

Bulan purnama, panas dan hujan tetap sama. Namun kita sudah berbeda alam. Selamat jalan Pak Adji!

Penulis: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.