JAKARTA (Lentera) - Pemerintah menyebut sedikitnya tiga negara tengah mengantre untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia di tengah krisis global yang mengganggu rantai pasok.
"Kita akan ekspor urea karena kita produsen. Beberapa negara sudah meminta, ada tiga negara," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai meninjau Gudang Bulog Panaikang di Makassar, melansir Antara, Senin (6/4/2026).
Meski demikian, Amran belum mengungkap identitas negara-negara tersebut. Ia menegaskan proses negosiasi masih berlangsung, dengan pemerintah berupaya mendapatkan harga terbaik di tengah lonjakan harga global. "Ini masih dalam tahap negosiasi supaya harga kita bisa lebih bagus," katanya.
Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan harga pupuk urea dunia yang melonjak dari sekitar 400 dolar AS per ton menjadi 800 dolar AS per ton. Lonjakan tersebut dipicu terganggunya jalur strategis distribusi energi dan bahan baku akibat penutupan Selat Hormuz.
Amran memastikan, pemerintah telah mengantisipasi situasi ini sejak awal tahun dengan mengamankan pasokan bahan baku. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas produksi pupuk dalam negeri.
Menurutnya, kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan sektor pertanian, termasuk memastikan ketersediaan sarana produksi di tengah tekanan global.
Di sisi lain, Mentan juga menilai ketegangan di Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap harga pangan domestik. Stok beras nasional saat ini mencapai 4,5 juta ton, yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi menegaskan, ekspor urea akan tetap mengutamakan kebutuhan dalam negeri.
"Yang penting Indonesia aman dulu, baru ekspor," ujarnya.
Rahmad menambahkan, Indonesia masih memiliki ruang untuk membantu negara lain yang mengalami kekurangan pasokan pupuk akibat krisis distribusi global.
Selama ini, pasar ekspor urea Indonesia telah menjangkau sejumlah negara seperti Australia, India, dan Filipina, yang menjadi mitra dagang utama di sektor pupuk.
Secara nasional, kapasitas produksi urea Indonesia mencapai 8,8 juta ton secara operasional, dari total kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,5 juta ton dialokasikan untuk ekspor dengan skema fleksibel.
Editor:Santi,ist





.jpg)
