SURABAYA (Lentera) - Warga negara Indonesia (WNI), Muhammad Taufiq (48), yang direkrut menjadi tentara Rusia dikabarkan tewas saat berperang dalam pertempuran di Ukraina. Misi pertempuran dilakukan Muhammad Taufiq setelah menerima pelatihan militer selama kurang lebih 1,5 minggu.
Melansir CAN.id, Jumat (30/10/2026), Badan Intelijen Pertahanan Ukraina (Defence Intelligence of Ukraine/DIU) mengungkap kasus tersebut melalui pernyataan di situs resminya pada Senin (26/10/2026).
"Badan Intelijen Pertahanan Ukraina telah mengidentifikasi seorang tentara bayaran asing lainnya yang bertempur bersama pasukan pendudukan Rusia dan tewas di Ukraina - warga negara Indonesia bernama Taufiq Muhammad yang lahir pada 22 Mei 1978 di kota Sorong," tulis DIU.
Menurut lembaga tersebut, Taufiq tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Selain pernah bekerja sebagai sopir taksi di Jakarta dan manajer perusahaan pertanian, ia memiliki pengalaman kerja di Amerika Serikat serta fasih berbahasa Inggris.
Melansir Detik.com, Taufiq menandatangani kontrak militer berdurasi satu tahun di Korolyov, sebuah kota di dekat Moskow, pada Pada 19 April 2026. Taufiq kemudian ditugaskan sebagai penembak senapan mesin dan dikirim ke fasilitas pelatihan militer di dekat Voronezh. Taufiq hanya menjalani pelatihan selama kurang lebih 1,5 minggu.
Kemuidian pada awal Mei, Taufiq dipindahkan ke wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. Taufiq tewas dalam pertempuran pertamanya saat pasukan Rusia berupaya bergerak maju dari Zelena Dolyna menuju Novoselivka dan Drobysheve di wilayah Donetsk.
Sebelumnya, Rendi, pemuda asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) disebut meninggal dunia setelah diduga sebagai tentara bayaran yang membela Rusia. Keluarga menyebut Rendi sempat menolak untuk dipindah menjadi pasukan tempur.
Informasi mengenai kondisi Rendi diperoleh dari pihak keluarga dan rekan Rendi yang berada di Indonesia. "Pihak keluarga dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal," kata Ketua RT 03 RW 01 Air Keruh, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna, Starki, dilansir detikSumut, Rabu (30/9/2026).
Starki mengatakan keluarga awalnya mendapat informasi bahwa Rendi bekerja di Rusia bukan sebagai tentara, melainkan di bagian logistik makanan. Namun, kemudian keluarga menyebut Rendi bercerita bahwa dirinya akan dipindahkan dari pekerjaan logistik menjadi pasukan tempur.
Setelah beberapa waktu berada di Rusia, komunikasi Rendi dengan keluarganya disebut terputus. Keluarga awalnya mengira telepon Rendi tidak aktif karena persoalan baterai atau kondisi lainnya.
Namun, keluarga kemudian mendapat informasi dari rekan Rendi di Indonesia bahwa Rendi telah meninggal dunia. "Tak lama kemudian dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal," kata Starki. (*)
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
