26 October 2026

Get In Touch

Gyaru Makeup Dilirik Lagi, Gaya Riasan Jepang Pendobrak Standar Kecantikan

 Gyaru Makeup Dilirik Lagi, Gaya Riasan Jepang Pendobrak Standar Kecantikan

SURABAYA ( LENTERA ) - Eyeliner tegas, bulu mata dramatis, dan rambut berwarna menjadi ciri khas gyaru makeup. Lahir dari subkultur anak muda Jepang, gaya ini menawarkan kebebasan berekspresi di tengah tren kecantikan yang terus berubah.

Tren kecantikan tidak selalu bergerak menuju tampilan natural dengan kulit bercahaya, riasan tipis, dan warna-warna lembut. Gyaru makeup justru menawarkan pendekatan sebaliknya: riasan mata tegas, bulu mata panjang, rambut berwarna, hingga complexion yang dapat dibuat kecokelatan. Gaya yang berkembang dari subkultur anak muda Jepang ini kembali menjadi perbincangan di kalangan pencinta kecantikan, termasuk soal batasan penampilan yang layak disebut gyaru.

Perdebatan tersebut memperlihatkan bahwa gyaru makeup bukan sekadar teknik merias wajah. Gaya ini memiliki sejarah panjang dalam budaya populer Jepang, ketika penampilan menjadi sarana bagi perempuan muda untuk membangun identitas sekaligus mengekspresikan diri di luar norma kecantikan yang dominan.

Gyaru makeup berkembang sebagai bagian dari subkultur gyaru yang dipengaruhi tren fesyen Barat. Istilah gyaru berasal dari kata slang bahasa Inggris gal, yang berarti perempuan. Meski akarnya dapat ditelusuri hingga dekade sebelumnya, gyaru semakin menonjol pada 1990-an dan mencapai popularitas pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Penelitian sosiolog Tadashi Suzuki dan Joel Best yang diterbitkan dalam The Sociological Quarterly pada 2003 membahas kemunculan kogaru sebagai kelompok yang turut membentuk tren fesyen anak muda Jepang pada 1990-an. Perkembangan media dan jaringan komunikasi ikut memperluas penyebaran gaya tersebut, sementara pemberitaan media membuat kogaru semakin dikenal masyarakat.

Dari Kogaru hingga Ganguro

Salah satu variasi awal yang dikenal luas adalah kogaru, yang identik dengan fesyen remaja, rok pendek, kaus kaki longgar, dan rambut berwarna. Gaya ini kemudian berkembang menjadi berbagai interpretasi dengan karakter yang semakin berani.
Pada periode yang sama, muncul ganguro, gaya yang dikenal dengan kulit kecokelatan, rambut terang, dan riasan mata mencolok. 

Variasi lain seperti yamanba dan manba menghadirkan penampilan yang lebih eksentrik melalui kontras warna, riasan wajah yang kuat, serta aksesori yang menonjol.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa gyaru bukanlah satu gaya yang seragam. Perubahan tren, pengaruh budaya populer, dan preferensi komunitas melahirkan banyak variasi yang memiliki ciri masing-masing.

Dalam perkembangannya, gyaru juga dikenal melalui subgaya seperti hime gyaru, himekaji gyaru, agejo gyaru, onee gyaru, dan neo gyaru. Hime gyaru menonjolkan kesan feminin seperti putri dengan rambut bervolume dan aksesori mewah. Himekaji menggabungkan unsur feminin dengan busana kasual, sedangkan agejo cenderung tampil glamor dengan riasan mata dan rambut yang dramatis.

Onee gyaru menawarkan kesan lebih dewasa, sementara neo gyaru menghadirkan interpretasi yang lebih modern dan eksperimental. Klasifikasi ini tidak sepenuhnya kaku karena gaya personal dapat memadukan unsur dari beberapa subgaya.

Kebebasan Berekspresi

Daya tarik gyaru tidak berhenti pada riasan yang mencolok. Gaya ini juga memiliki dimensi sosial sebagai bentuk ekspresi diri di tengah norma penampilan yang berlaku.

Penelitian tentang street fashion gyaru yang diterbitkan dalam Mahadaya: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya pada 2022 menjelaskan bahwa subkultur ini memiliki karakter khas dalam pakaian, rambut, riasan, dan aksesori. Penelitian tersebut juga menempatkan gyaru sebagai bentuk kebebasan berekspresi melalui penampilan.

Sementara itu, Hui-Ying Kerr dalam artikel akademik Lolitas, Mountain Witches and Sexy Gals: Japanese Fashion as Rebellious Style from the Lost Decades to Now yang terbit pada 2025 membahas bagaimana gyaru dan subkultur fesyen Jepang lainnya menantang narasi dominan tentang feminitas. Gaya berpakaian menjadi ruang bagi anak muda untuk membangun identitas dan menciptakan cara mereka sendiri dalam memaknai penampilan.

Perspektif ini membantu menjelaskan mengapa gyaru tidak harus dinilai berdasarkan satu standar riasan. Bagi sebagian penggunanya, tampil berbeda justru menjadi bagian penting dari karakter gaya tersebut.

Kebebasan itu bukan berarti semua tampilan otomatis memiliki sejarah atau makna yang sama. Gyaru tetap berakar pada konteks budaya Jepang, sehingga memahami asal-usulnya dapat membantu membedakan karakter subkultur ini dari tren makeup lain yang sekadar mengambil unsur visual serupa.

Ketertarikan terhadap gyaru juga berkaitan dengan kembalinya estetika era 1990-an dan 2000-an dalam budaya populer. Pengaruh Y2K, yakni gaya yang berkembang menjelang pergantian milenium, terlihat dalam eksplorasi riasan mata, warna rambut, dan penampilan glamor.

Vogue Japan dalam ulasannya pada 5 Januari 2026 turut membahas arah tren makeup tahun ini dengan menyoroti semangat gyaru dan pengaruh estetika Y2K. Sementara itu, Radio Republik Indonesia pada 25 September 2026 mengulas gyaru bersama Douyin makeup dari Tiongkok sebagai dua gaya riasan Asia dengan karakter berbeda.

Keduanya sama-sama menonjolkan area mata, tetapi menghasilkan kesan akhir yang berbeda. Gyaru cenderung mengedepankan eyeliner tegas dan bulu mata dramatis, sedangkan Douyin makeup umumnya dikenal melalui permainan gradasi, kilau, dan efek mata yang lebih lembut atau berkilau.

Meski demikian, kemunculan kembali unsur estetika lama tidak serta-merta berarti seluruh subkultur gyaru kembali mendominasi tren kecantikan. Lebih tepat jika fenomena ini dibaca sebagai meningkatnya ketertarikan terhadap gaya riasan yang ekspresif dan tidak terpaku pada tampilan minimalis.

Bagi yang ingin mencoba, gyaru makeup dapat diadaptasi tanpa harus meniru seluruh elemen penampilan klasiknya. Kunci utamanya adalah menonjolkan mata dan menyelaraskan riasan dengan subgaya yang dipilih.

Sesuaikan complexion dengan konsep riasan

Pilih alas bedak sesuai warna kulit asli untuk hasil yang menyatu. Jika ingin mengikuti interpretasi gyaru dengan tampilan kecokelatan, bronzer dapat digunakan secara bertahap. Pilih produk dengan daya tutup sesuai kebutuhan kulit, tanpa harus membuat warna wajah berubah drastis.

Tonjolkan mata dengan eyeliner

Gunakan eyeshadow sesuai konsep warna, lalu aplikasikan eyeliner yang tegas dan memanjang ke sudut luar mata. Untuk tampilan yang lebih dramatis, tambahkan bulu mata palsu dengan panjang dan volume yang sesuai. Teknik ini membantu membangun karakter mata yang menjadi salah satu ciri utama gyaru makeup.

Berikan dimensi pada wajah

Rapikan alis sesuai bentuk yang diinginkan dan gunakan contour secara ringan untuk mempertegas struktur wajah. Blush berwarna pink, peach, atau ungu dapat dipilih untuk melengkapi keseluruhan riasan.

Pilih warna bibir yang seimbang

Warna pink, peach, atau nude dengan sentuhan lip gloss dapat memberikan hasil akhir yang berkilau. Jika riasan mata sudah sangat kuat, warna bibir yang lebih sederhana bisa menjadi penyeimbang.

Selaraskan dengan rambut dan busana

Gyaru tidak hanya berkaitan dengan wajah. Gaya rambut, aksesori, kuku, dan pakaian turut membangun karakter penampilan. Rambut bervolume atau berwarna dapat memperkuat kesan klasik, sementara busana kasual dapat memberikan sentuhan gyaru yang lebih modern.

Penggunaan lensa kontak kosmetik juga dapat menjadi pilihan, tetapi perlu memperhatikan kebersihan, ukuran yang sesuai, serta keamanan mata. Lensa kontak sebaiknya tidak digunakan sembarangan, terutama jika menimbulkan iritasi atau rasa tidak nyaman.(far,ist/dya)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.