19 October 2026

Get In Touch

Prancis Tangkap Lebih dari 1.800 Orang, Usai Demo Nasional Berujung Ricuh

Ilustrasi kerusuhan dalam aksi unjuk rasa di Prancis. (foto:ist/Ant/Anadolu)
Ilustrasi kerusuhan dalam aksi unjuk rasa di Prancis. (foto:ist/Ant/Anadolu)

PARIS (Lentera) - Sebanyak 1.800 orang ditangkap selama dan setelah aksi unjuk rasa nasional, terkait biaya hidup yang melibatkan kelompok Rompi Kuning di Prancis, kata Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez, Minggu (18/10/2026), menyusul bentrokan, pembakaran, dan penjarahan yang meluas.

Lebih dari 500 personel kepolisian, gendarmerie, dan petugas pemadam kebakaran terluka, kata Nunez melalui media sosial X mengutip Antara.

Ia mengatakan, jumlah korban luka itu masih bersifat sementara. Penyelidikan juga sedang berlangsung untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab, sementara ratusan pelaku usaha mengalami kerusakan material yang cukup besar.

Menurut Kementerian Dalam Negeri, demonstrasi, pada Sabtu (17/10/2026) diikuti 550.000 orang di seluruh Prancis, termasuk 110.000 orang di Paris. Sementara itu, penyelenggara memperkirakan, jumlah peserta mencapai sekitar 800.000 orang.

Aksi tersebut melibatkan kelompok Rompi Kuning, serikat pekerja, mahasiswa, dan petani. Meski pawai utama di Paris berlangsung tanpa insiden besar, kekerasan pecah di sejumlah lokasi di luar rangkaian demonstrasi di beberapa kota.

Seorang demonstran meninggal dunia setelah pingsan di Boulevard Magenta, Paris. Polisi melaporkan, bahwa orang tersebut mengalami henti jantung dan pernapasan. 

Surat kabar Le Parisien juga melaporkan, bahwa seorang remaja berusia 17 tahun kehilangan satu tangannya setelah terkena granat polisi di Saint-Etienne.

Kepolisian Paris mengumumkan, 855 penangkapan, sedangkan kejaksaan secara terpisah melaporkan 720 penangkapan, termasuk 517 orang yang ditahan. Pihak kejaksaan menambahkan bahwa angka tersebut belum final.

Di Limoges, kebakaran melalap balai kota bersejarah. Sejumlah toko juga dijarah dan bangunan dirusak di kota-kota lain, termasuk Marseille, Lyon, dan Bordeaux.

Perdana Menteri, Sebastien Lecornu akan memimpin rapat krisis antarkementerian, pada Minggu (18/10/2026) pukul 19.00 waktu setempat, untuk membahas dampak ekonomi, asuransi, dan tindak lanjut hukum. 

Ia juga akan bertemu wali kota Paris, Marseille, dan Lyon yang meminta penjelasan mengenai pengerahan personel kepolisian dan penanganan kerusuhan.

Ketua Majelis Nasional, Yael Braun-Pivet mempertimbangkan pembentukan komisi penyelidikan parlemen dan akan bertemu dengan para pemimpin kelompok parlemen, pada Selasa (20/10/202^), menurut laporan BFMTV.

Lecornu menyalahkan, kelompok “kiri ekstrem” atas kekerasan tersebut, sementara sejumlah tokoh oposisi mengkritik taktik kepolisian. Politikus Partai Hijau, Marine Tondelier menyerukan agar Nunez mengundurkan diri.

Direktur Utama Carrefour, Alexandre Bompard mengatakan lebih dari 50 gerai perusahaan terdampak, dengan perkiraan kerugian mencapai beberapa juta euro.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.