17 October 2026

Get In Touch

Dee Lestari Bawa Pembaca Menyelami Lahirnya "Aroma Karsa" lewat Bedah Buku di Kota Malang

Penulis Buku, Dee Lestari, menceritakan proses lahirnya karya Aroma Karsa, dalam agenda Talkshow Bedah Buku Seminar Nasional Kearsipan kerja sama Kantor Perwakilan BI Malang dan Dispussipda Kota Malang, Jumat (16/10/2026). (Santi/Lentera)
Penulis Buku, Dee Lestari, menceritakan proses lahirnya karya Aroma Karsa, dalam agenda Talkshow Bedah Buku Seminar Nasional Kearsipan kerja sama Kantor Perwakilan BI Malang dan Dispussipda Kota Malang, Jumat (16/10/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Penulis Dee Lestari mengajak pembaca di Kota Malang menyelami proses kreatif di balik lahirnya novel Aroma Karsa melalui agenda bedah buku di halaman Perpustakaan Kota Malang, Jumat (16/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Dee mengungkap perjalanan riset yang menjadi fondasi novelnya. Mulai dari mempelajari parfum di Singapura hingga mengunjungi TPA Bantar Gebang.

Dalam diskusi tersebut, Dee menjelaskan, gagasan awal Aroma Karsa muncul setelah dirinya mengikuti kursus menulis daring yang dipandu seorang pengajar dari Amerika Serikat. Sekitar satu setengah tahun sebelum mulai menulis novel tersebut, ia mendapat materi tentang kekuatan indra penciuman dalam penulisan fiksi.

"Salah satu deskripsi yang paling kuat dalam penulisan fiksi itu adalah penciuman. Penciuman itu berlipat-lipat lebih dahsyat daripada visual. Kenapa? Karena indra penciuman adalah indra yang paling dekat dengan emosi kita," ujarnya.

Menurut Dee Lestari, aroma tidak hanya berkaitan dengan ingatan, tetapi juga dapat membangkitkan perasaan. Wangi parfum maupun aroma masakan, misalnya, bisa membawa seseorang kembali pada pengalaman tertentu sekaligus menghadirkan emosi yang menyertainya.

Materi tersebut kemudian memantik idenya untuk menulis novel yang secara khusus mengeksplorasi indra penciuman. Ia ingin menghadirkan pengalaman membaca yang membawa pembaca menjelajahi beragam aroma, baik yang menyenangkan maupun yang menjijikkan.

Dari gagasan sederhana itu, Dee mulai membangun karakter utama bernama Jati Wesi. Tokoh tersebut digambarkan memiliki kemampuan penciuman luar biasa yang memungkinkannya mengenali aroma yang tidak dapat dicium manusia pada umumnya.

Jati menjalani 2 kehidupan yang kontras. Ia bekerja sebagai peracik parfum, tetapi juga menghabiskan kesehariannya sebagai pekerja kasar di TPA Bantar Gebang.

Untuk membangun latar dan detail cerita, Dee melakukan riset ke sejumlah tempat. Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Lintas Edukasi dan Aksara (Lentera) Fest 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang melalui Perpustakaan KPw BI Malang, bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang, Dee mengungkap, ia mempelajari parfum di Singapura, mendaki Gunung Lawu, serta mengunjungi TPA Bantar Gebang yang memiliki area pembuangan sampah sangat luas.

Sementara itu, Kepala Dispussipda Kota Malang, Yayuk Hermiati, mengatakan kegiatan bedah buku menjadi salah satu upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai literasi. Menurutnya, perpustakaan perlu berkembang melampaui fungsi konvensional sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku.

"Perpustakaan harus terus berkembang menjadi ruang belajar, ruang dialog, ruang kreativitas, sekaligus ruang perjumpaan gagasan, yang sekaligus mampu menginspirasi masyarakat untuk terus bertumbuh," ujarnya.

Yayuk menilai, karya sastra seperti Aroma Karsa memperlihatkan bagaimana imajinasi dapat berpadu dengan riset, kekayaan indra, budaya, dan pengalaman manusia. Proses kreatif di balik sebuah karya juga menunjukkan pentingnya ketekunan, rasa ingin tahu, eksplorasi, serta kesungguhan dalam mengolah gagasan.

Sementara itu, Kepala KPw BI Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan pengumpulan dan penyebarluasan data serta informasi merupakan bagian penting dalam perkembangan peradaban. Menurutnya, informasi yang bermanfaat tidak selalu hadir dalam bentuk tulisan ilmiah atau data eksakta, tetapi juga dapat disampaikan melalui karya fiksi.

"Karena yang namanya fiksi pun itu kadang lebih menggugah dibandingkan dengan buku-buku yang ditulis dengan kata-kata yang lebih sulit," katanya.

Indra menambahkan, BI Malang menyambut baik kolaborasi dengan Dispussipda Kota Malang untuk memperkuat budaya literasi.

Ke depan, BI Malang membuka peluang untuk melanjutkan kolaborasi serupa dengan menghadirkan lebih banyak penulis inspiratif. Indra bahkan berharap penulis yang diundang pada kegiatan mendatang dapat menghasilkan karya yang mengangkat Malang. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.