12 October 2026

Get In Touch

Skincare Ilegal Marak, Reni Astuti dan BRIN Latih Ibu-Ibu Membuat Produk Perawatan Diri dari Bahan Alami

SURABAYA (Lentera) – Maraknya penggunaan skincare ilegal di masyarakat mendorong Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pelatihan pembuatan kosmetik dan produk perawatan kulit berbahan alami lokal. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Southern Surabaya, Minggu (11/10/2026).

Berdasarkan data BPOM tahun 2024 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, nilai transaksi kosmetik ilegal mencapai Rp8,91 miliar. Di Jawa Timur, nilainya mencapai sekitar Rp1,88 miliar. Selain itu, terdapat 11 produk tanpa izin edar dan 69 merek ilegal impor.

“Daripada menggunakan skincare ilegal, kita bisa memproduksi sendiri dari bahan-bahan alami,” ujar pemateri dari BRIN, Astuti, S.T., M.T.

Menurut Astuti, berbagai bahan alami lokal, seperti kunyit, temulawak, kencur, bengkuang, dan ketan hitam, dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar produk perawatan diri. Bengkuang, misalnya, dapat diolah menjadi lulur, masker, maupun bedak dingin.

Selain dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi, produk yang dihasilkan juga berpeluang dipasarkan apabila memenuhi standar kualitas dan keamanan. Dengan demikian, pemanfaatan bahan alami tidak hanya menjadi alternatif perawatan diri, tetapi juga berpotensi membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Astuti menambahkan, sektor kecantikan memiliki peluang ekonomi yang cukup besar, terutama melalui perdagangan daring. Menurutnya, pada 2025 sektor tersebut menempati urutan keempat dengan nilai transaksi sebesar Rp129 miliar, meningkat 204 persen dibandingkan data tahun 2022.

 Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, bersama BRIN foto bersama dalam pelatihan pembuatan kosmetik dan produk perawatan kulit berbahan alami lokal di Hotel Southern Surabaya, Minggu (11/10/2026).
Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, bersama BRIN foto bersama dalam pelatihan pembuatan kosmetik dan produk perawatan kulit berbahan alami lokal di Hotel Southern Surabaya, Minggu (11/10/2026).

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, menyoroti perkembangan jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Surabaya yang terus meningkat. Menurutnya, usaha mikro menjadi salah satu sektor yang membutuhkan dukungan agar dapat berkembang dan meningkatkan daya saing.

“Jika ada yang berhasil menciptakan produk kosmetik dan skincare dari bahan alami, saya orang pertama yang akan membeli,” ujar Reni.

Pelatihan ini bertujuan mendorong masyarakat Surabaya dan Sidoarjo untuk meningkatkan pendapatan melalui pemberdayaan UMKM dengan memanfaatkan potensi bahan alam lokal. Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi. Selain memperoleh pemaparan materi dan mengikuti sesi tanya jawab, para peserta juga berkesempatan mempraktikkan secara langsung pembuatan bahan perawatan diri.

Salah satu peserta, Yesinta, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa pembuatan produk perawatan diri untuk kebutuhan pribadi dapat dipelajari melalui pelatihan. Namun, diperlukan pengetahuan dan keterampilan tambahan apabila produk tersebut akan dipasarkan kepada masyarakat.

“Jika produk skincare untuk kebutuhan sendiri, kita masih bisa membuatnya. Namun, jika produk tersebut dijual, dibutuhkan pelatihan lebih lanjut,” ujar Yesinta. (*)

Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.