04 October 2026

Get In Touch

PBNU Terbitkan Pedoman Hari Santri 2026, Gelar Mujahadah untuk Palestina

Logo Hari Santri 2026 PBNU. (foto:ist/Ant/PBNU)
Logo Hari Santri 2026 PBNU. (foto:ist/Ant/PBNU)

JAKARTA (Lentera) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional Tahun 2026 yang berisi rangkaian apel, ziarah hingga Mujahadah untuk Palestina.

"Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina," kata Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dalam keterangan di Jakarta mengutip Antara, Sabtu (3/10/2026).

Pedoman yang tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 1 Oktober 2026 itu ditujukan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).

Menurutnya, peringatan Hari Santri tahun ini diarahkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga diisi dengan penguatan tradisi, pelayanan kepada masyarakat, serta solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.

Ia mengatakan, dukungan terhadap rakyat Palestina telah disuarakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari sejak sebelum Indonesia merdeka dan terus dirawat hingga sekarang, termasuk melalui pembacaan Qunut Nazilah di Pesantren Tebuireng.

Dalam pedoman Hari Santri 2026, PBNU meminta seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip kekhidmatan, kesederhanaan, serta berorientasi pada pelayanan kepada jamaah dan warga NU.

Salah satu agenda utama adalah Apel Hari Santri Nasional 2026 yang dilaksanakan secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Peserta pria mengenakan sarung warna gelap, atasan putih dan peci hitam. Sementara peserta perempuan mengenakan busana muslimah bernuansa putih dengan bawahan yang menyesuaikan.

Apel dapat dipusatkan di halaman sekretariat NU sesuai tingkatan kepengurusan masing-masing maupun di lingkungan pondok pesantren, rumah sakit atau klinik, sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama.

Dalam apel tersebut, Naskah Resolusi Jihad NU juga dapat dibacakan oleh jajaran Tanfidziyah atau Badan Otonom NU.

PBNU juga menginstruksikan, agar rangkaian Hari Santri diawali dengan ziarah ke makam para ulama, aulia, maupun muharrik NU di wilayah khidmah masing-masing.

Secara khusus, PBNU menjadikan solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina sebagai bagian dari rangkaian Hari Santri 2026.

Seluruh jenjang kepengurusan NU diminta menggelar "Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina" melalui majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah, maupun majelis doa lainnya.

PBNU menyebut, kegiatan tersebut sebagai bagian dari riyadhah bathiniyyah sekaligus wujud solidaritas kemanusiaan terhadap bangsa Palestina.

Komitmen tersebut sejalan dengan perhatian yang disampaikan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar ketika menerima sejumlah tokoh Palestina di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Minggu (27/9/2026).

Selain apel, ziarah, dan mujahadah untuk Palestina, PBNU meminta jajaran NU mengisi Hari Santri dengan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kegiatan pilihan tersebut meliputi layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga dan zakat, kegiatan peduli lingkungan seperti sanitasi pesantren atau madrasah dan bersih-bersih masjid, serta halaqah yang melibatkan ulama dan pondok pesantren di wilayah masing-masing.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.