Oleh: Widyawati
Di sudut Kabupaten Trenggalek, ratusan lembar daun hijau menjuntai anggun di dinding-dinding kebun sederhana milik Agustine Martha Suwandari, S.Pd. Bentuknya tak biasa, sebagian menyerupai tanduk rusa, sebagian lagi membentuk mahkota raksasa yang langsung memikat mata para pencinta tanaman hias.
Bagi kebanyakan orang, tanaman itu mungkin sekadar penghias teras. Namun di tangan guru SMK Negeri 1 Suruh ini, tanaman bernama Platycerium wandae tersebut menjadi batu loncatan lahirnya sebuah ekosistem bisnis digital. Lewat hobi ini pula, Martha sukses menembus jajaran 10 nominasi terbaik Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG) Jawa Timur 2026.
Perempuan yang akrab disapa Martha ini mengaku tidak pernah membayangkan kegemarannya merawat tanaman bakal bertransformasi menjadi bisnis yang menjanjikan. Awalnya, ia hanya ingin mencari ketenangan di rumah.
"Merawat tanaman itu bikin pikiran lebih tenang dan ampuh mengurangi stres. Ada kepuasan tersendiri yang sulit diungkapkan saat melihat mereka tumbuh subur," tuturnya hangat.
Namun, rasa cinta itu perlahan berubah menjadi keseriusan. Bermula dari satu indukan Platycerium wandae berukuran besar yang dibelinya beberapa tahun lalu, koleksi Martha terus beranak pinak. Ia mulai mempelajari cara memanen spora, membudidaya, hingga menghasilkan bibit-bibit baru yang bernilai ekonomi tinggi.
Platycerium wandae sendiri merupakan paku epifit endemik asli Papua dan dinobatkan sebagai salah satu spesies terbesar di dunia. Daun pelindungnya bisa melebar hingga lebih dari dua meter membentuk mahkota raksasa, sementara daun fertilnya menjuntai panjang. Keunikan eksotis inilah yang membuatnya menjadi buruan mahal para kolektor.
Nilai jualnya pun terbilang fantastis. Untuk bibit yang baru bertunas saja, harganya dimulai dari Rp200 ribu. Harga ini akan terus melonjak hingga jutaan rupiah begitu tanaman tumbuh dewasa dan bentuk mahkotanya mulai terlihat sempurna. Bahkan baru-baru ini, salah satu koleksi terbaik dari kebun Martha sukses terjual dengan harga tertinggi mencapai Rp3,5 juta.
Bagi masyarakat atau kolektor pemula yang tertarik meminangnya, bayang-bayang kesulitan merawat tanaman eksotis ini sering kali menjadi ganjalan. Banyak yang khawatir Platycerium wandae bakal manja dan gampang mati. Padahal, perawatannya relatif mudah dan tidak seribet yang dibayangkan.
Guna memangkas kecemasan pembeli, Martha sengaja menjual tanaman ini lengkap dengan media tanam khusus yang sudah ia racik sendiri dari kebun. Jadi, begitu paket tiba di tangan konsumen, mereka tidak perlu repot menakar media lagi, tinggal pasang dan tempel di dinding rumah.
Sebagai tanaman epifit, kunci utama kebahagiaan Platycerium wandae terletak pada lokasinya. Ia sangat menyukai area dengan sirkulasi udara yang lancar serta mendapat limpahan cahaya terang, namun tabu jika terpapar sinar matahari langsung yang menyengat. Demi pertumbuhan yang optimal, cukup pastikan suhu lingkungan sekitar tetap hangat dan sebisa mungkin lindungi tanaman dari embusan angin AC yang kering.
Urusan menyiram pun sangat praktis. Proses penyiraman idealnya hanya dilakukan 1–2 kali saja dalam seminggu. Caranya cukup unik, rendam bagian media tanam beserta akarnya ke dalam wadah berisi air selama beberapa menit hingga air meresap sempurna, lalu gantung kembali.
Agar tanaman tetap prima dan tumbuh subur, pemeliharaan rutin bisa dilanjutkan dengan pemberian pupuk daun atau pupuk organik cair yang sudah diencerkan setiap beberapa minggu sekali. "Jangan lupa juga untuk sesekali memotong daun-daun tua yang mulai mengering menggunakan alat potong yang steril. Langkah sederhana ini sangat ampuh untuk memicu lahirnya tunas-tunas baru sekaligus menjaga penampilan tanaman tetap bersih dan estetik," jelasnya.
Tentu saja, keahlian Martha dalam menjinakkan karakter tanaman ini tidak didapat dalam semalam. Ia harus bergulat mempelajari semuanya secara otodidak, berselancar di dunia maya, hingga aktif berdiskusi dengan para pencinta tanaman hias dari Jawa sampai Bali demi menciptakan formula perawatan yang praktis bagi pelanggannya.
Aktivitas Martha sebagai seorang wirausahawan tanaman hias ini berjalan beriringan dengan dedikasinya di dunia pendidikan. Ia sehari-hari mengajar di SMK Negeri 1 Suruh, sebuah sekolah yang terletak di Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek.
Mengusung semangat roda penggerak ‘SMK Suruh Bisa’, sekolah tempat Martha mengabdi ini memang fokus membekali para siswa dengan kompetensi keahlian unggulan. Ada lima jurusan strategis yang dikembangkan di sana, mulai dari Teknik Sepeda Motor (TSM), Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Teknik Audio Video (TAV), hingga Teknik Pengelasan.
Semua jurusan ini dirancang dengan satu tujuan besar, mencetak lulusan yang tidak hanya terampil dan percaya diri, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan. Nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan sekolah ini ternyata sangat sejalan dengan langkah Martha yang mencoba menjadi seorang guru entrepreneur. Lewat usahanya, ia mempraktikkan langsung ilmu bisnis nyata yang bisa ditiru oleh para muridnya.
Langkah Martha mendapat momentum besar saat ia mengikuti PROTEG Jawa Timur 2026. Program ini merupakan kolaborasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk memantik jiwa kewirausahaan para guru.
Bagi Martha, PROTEG adalah titik balik. Di sinilah usahanya naik kelas, dari yang awalnya sekadar jualan konvensional menjadi ekosistem bisnis digital yang lebih rapi dan terukur. Ia mendapat bimbingan intensif dari dosen ITS, mentor UMKM, hingga praktisi IT. Dari mereka, Martha belajar cara mengoptimalkan media sosial, marketplace, strategi branding, hingga memaafkan kecerdasan buatan (AI) untuk urusan bisnis.
"Motivasi saya ikut PROTEG memang ingin membangun ekosistem bisnis digital. Hari ini, dunia usaha tidak bisa lepas dari teknologi. AI sangat membantu saya mempercepat bikin konten, memperkuat promosi, membaca kebutuhan pasar, sampai memperluas jangkauan jualan," jelasnya.
Mengusung proposal bisnis bertajuk "Daun di Dinding", Martha menawarkan konsep budidaya tanaman hias yang dikawinkan dengan strategi pemasaran digital berbasis teknologi. Ide segar ini sukses memikat dewan juri, menyisihkan 155 peserta guru SMA/SMK/SLB se-Jawa Timur, dan mengantarkannya ke babak final 10 besar.
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa guru tidak hanya bisa berdiri di depan kelas, tapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi berbasis teknologi.
Kini, Martha getol memanfaatkan TikTok sebagai ruang edukasi sekaligus etalase jualannya. Lewat konten yang informatif dan interaktif, ia berhasil membangun kedekatan dengan calon pembeli dari berbagai daerah, sekaligus mengikis stigma bahwa merawat paku purba itu sulit. Targetnya ke depan adalah merapikan toko resminya di berbagai marketplace demi mendongkrak kepercayaan konsumen.
Semua strategi ini, mulai dari live streaming, video pendek, optimasi kata kunci (SEO), hingga sentuhan teknologi AI dilakukan demi membuka pintu pasar yang lebih lebar.
Namun bagi Martha, hadiah terbesar dari PROTEG bukan sekadar urusan omzet atau cuan yang meningkat. Jauh dari itu, ia mendapatkan jejaring baru, literasi digital yang makin matang, serta komunitas sesama guru entrepreneur yang saling mendukung.
Semangat berinovasi inilah yang kini ia tularkan kepada murid-muridnya di sekolah. Martha sadar, generasi muda, terutama para siswa di SMK Negeri 1 Suruh, harus dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi dan AI secara produktif agar mereka bisa mandiri secara ekonomi dan menjadi wirausahawan masa depan setelah lulus nanti.
Masuk dalam nominasi terbaik PROTEG jelas membanggakan, namun perjalanan Martha belum selesai. Ia bermimpi ingin terus membesarkan bisnisnya hingga bisa menjangkau para kolektor tanaman di seluruh pelosok Indonesia.
"Guru harus bisa jadi contoh dalam kemandirian dan kreativitas. Berwirausaha itu bukan cuma soal mencari untung, tapi bagaimana kita bisa menciptakan nilai, memberi manfaat, dan menginspirasi orang lain untuk tumbuh," ungkapnya.
Dari ruang kelas hingga kebun tanaman hias, Agustine Martha Suwandari membuktikan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah yang sederhana. Dari selembar daun yang menempel di dinding, kini lahir ekosistem bisnis digital yang mandiri dan menginspirasi banyak orang di era AI.
"Jangan takut mencoba hal baru, termasuk menjadi guru yang merintis usaha, apalagi kalau itu berawal dari hobi. Pada satu titik kita harus berani memulai, agar pada akhirnya kita bisa sampai di titik memetik hasilnya," pungkas Martha.(*)
Editor: Arifin BH





.jpg)
