17 September 2026

Get In Touch

Pantau Sesar Aktif, Pemkot Surabaya akan Pasang Seismograf Raspberry Shake

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Irvan Widyanto (kiri) bersama pakar geologi ITS Prof. Amien Widodo (kanan). (Amanah/Lentera)
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Irvan Widyanto (kiri) bersama pakar geologi ITS Prof. Amien Widodo (kanan). (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera )- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan pemasangan 4 hingga 5 unit seismograf pada 2026 ini, untuk memantau aktivitas dua sesar aktif yang melintasi wilayah Kota Surabaya.

Rencana pemasangan seismograf tersebut berkaitan dengan hasil survei Pemkot Surabaya bersama tim ahli geologi, mengenai keberadaan dua jalur sesar aktif dari sistem Sesar Kendeng yang melintasi Surabaya, yakni Patahan Surabaya dan Patahan Waru.

Alat yang akan digunakan, yakni Raspberry Shake RS6D. Pemasangan seismograf tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana, sekaligus untuk memperoleh data aktivitas kegempaan secara lebih cepat dan berkelanjutan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan penggunaan Raspberry Shake merupakan usulan tim geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dipimpin pakar geologi Prof. Amien Widodo.

Menurutnya, Raspberry Shake dipilih karena memiliki ukuran relatif kecil sehingga lebih mudah ditempatkan di kawasan perkotaan. Alat tersebut juga dinilai lebih efisien dari sisi anggaran dibandingkan instrumen seismik konvensional, dengan kemampuan merekam aktivitas getaran mulai dari gempa kecil hingga gempa kuat.

“Alatnya yang berukuran kecil juga memudahkan penempatan di area kota yang terbatas,” kata Irvan, Kamis (17/9/2026).

Raspberry Shake juga dapat merekam data secara langsung. Sistem tersebut nantinya diharapkan mendukung pemantauan aktivitas kegempaan secara berkala dan menjadi bagian dari penguatan sistem peringatan dini di Surabaya.

Irvan menyebut, secara ideal Surabaya membutuhkan sekitar 14 stasiun pemantauan untuk mencakup seluruh wilayah kota. Namun, pemasangan pada tahap awal akan dilakukan sebanyak 4 hingga 5 unit terlebih dahulu.

“Pemasangan akan diutamakan berada di ruang-ruang publik atau perkantoran yang memiliki jaringan internet stabil,” ujarnya.

Data hasil pemantauan nantinya direncanakan terintegrasi dengan Command Center 112. Menurut Irvan, sistem tersebut tidak hanya ditujukan untuk memantau aktivitas kegempaan, tetapi juga mendukung kesiapsiagaan masyarakat ketika terjadi gempa.

“Dengan pemasangan alat ini, kami juga ingin membangun sistem peringatan dini melalui pemantauan harian yang nantinya akan diintegrasikan dengan pusat kendali, Command Center 112,” imbuhnya.

Sementara itu, pakar geologi ITS, Prof. Amien Widodo menjelaskan kedua patahan tersebut memiliki karakteristik patahan naik (thrust fault). Aktivitas geologisnya antara lain ditandai dengan adanya dorongan dari bawah permukaan bumi, yang secara perlahan mengangkat lapisan tanah dan membentuk bukit-bukit memanjang di sejumlah wilayah.

Menurut Amien, pemantauan aktivitas sesar perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemasangan sejumlah instrumen seismograf di berbagai titik di sekitar jalur patahan dan wilayah Surabaya diharapkan dapat menghasilkan data mengenai aktivitas kegempaan secara real-time.

“Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan,” kata Amien.

Untuk menyikapi beredarnya informasi mengenai potensi gempa di media sosial, Pemkot Surabaya akan berkoordinasi dengan BMKG, termasuk Stasiun Geofisika Probolinggo dan Pasuruan, serta tim ahli ITS guna memberikan informasi berdasarkan data dan kajian ilmiah.

Irvan mengimbau, masyarakat tidak panik menghadapi informasi mengenai potensi gempa. Menurutnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan tanpa mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Kami mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Fokus utama masyarakat adalah meningkatkan kewaspadaan diri dan keluarga tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari,” tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.