SURABAYA ( LENTERA ) - Sepatu balet atau ballet flat kembali mengambil tempat di tengah perputaran tren fesyen 2026. Modelnya yang sederhana, ringan, dan mudah dipadukan membuat alas kaki yang identik dengan penari balet ini kembali diminati setelah beberapa kali keluar-masuk siklus mode.
Sepatu memang bukan sekadar pelengkap busana. Sepasang sepatu dapat menjadi fashion statement, membentuk karakter penampilan, bahkan ikut memengaruhi rasa percaya diri pemakainya. Tak mengherankan jika ungkapan good shoes will take you to good places masih relevan dalam dunia fesyen.
Tahun ini, ballet flat shoes kembali muncul sebagai salah satu model yang banyak diperbincangkan. Vogue memasukkannya dalam daftar tren sepatu musim panas 2026 dan menyebut model ini sebagai salah satu alas kaki yang paling menonjol musim tersebut. Sejumlah figur publik seperti Zoë Kravitz, Kaia Gerber dan Jennifer Lawrence turut terlihat mengenakannya.
Dari panggung ke jalanan
Seperti namanya, ballet flat shoes terinspirasi dari sepatu yang digunakan penari balet. Modelnya pada dasarnya sederhana, dengan sol datar dan bentuk yang mengikuti kaki.
Namun, desainnya terus mengalami perubahan. Warna dan material semakin beragam, begitu pula siluetnya. Beberapa model bahkan diberi sedikit hak untuk memberikan kesan lebih feminin.
Pada 2026, perkembangan desain tersebut semakin terlihat. Sepatu balet tidak lagi hanya berupa model klasik berwarna hitam dengan ujung membulat. Ada versi berbahan satin, jaring atau mesh, kulit lembut, model berkerut, hingga sepatu dengan hiasan kristal.
Vogue mencatat soft ballet flat sebagai salah satu model yang menonjol pada 2026. Konstruksinya ringan, menggunakan material lembut seperti kulit dan suede, serta memiliki siluet rendah yang memberikan kesan seperti perpaduan antara sandal rumahan dan sepatu balet.
Ada pula model high-vamp, yakni sepatu dengan bagian atas yang menutup lebih banyak area punggung kaki. Harper's Bazaar menyebut bentuk ini sebagai salah satu perkembangan penting dari siluet klasik ballet flat pada 2026.
Warna pun mulai bergerak dari pilihan klasik. Vogue mencatat warna cokelat menjadi salah satu versi yang menonjol pada musim semi 2026, dengan pilihan mulai dari karamel, cognac, espresso hingga cokelat gelap. Material suede juga menjadi salah satu pilihan yang banyak digunakan.
Kembalinya tren sepatu balet tidak terjadi begitu saja. Sejumlah rumah mode dan desainer ikut mengembangkan kembali bentuk klasik tersebut.
Miu Miu, Tory Burch, Khaite dan Sandy Liang disebut sebagai beberapa desainer yang memelopori versi baru sepatu balet melalui berbagai peragaan busana dalam beberapa musim terakhir.
Pengembangannya tidak hanya berhenti pada perubahan warna dan bahan. Sentuhan utilitarian juga masuk ke dalam desain, misalnya tali pada punggung kaki yang mengingatkan pada gaya 1990-an atau tali yang melingkari pergelangan kaki.
Versi tanpa sol yang lebih tipis juga hadir dengan detail seperti kristal, satin dan material jaring yang lentur.
Di panggung fesyen internasional, tren ini bahkan terus berkembang ke bentuk lain. Vogue pada 2026 mencatat munculnya ballet heel, sementara sejumlah desainer dan merek mengolah siluet balet menjadi sepatu dengan karakter yang lebih modern.
Namun, tren tersebut tidak sepenuhnya berjalan tanpa pesaing. ELLE pada Mei 2026 mencatat jazz flat atau sepatu jazz sebagai model yang mulai mengambil perhatian setelah beberapa musim ballet flat mendominasi.
Hailey Bieber hingga Taylor Swift
Popularitas ballet flat juga terlihat dari pilihan sejumlah selebritas.
Hailey Bieber, misalnya, pernah memadukan sepatu balerina dengan tas dan kacamata hitam, kemeja polo, rok mini serta kaus kaki putih.
Taylor Swift juga tampil menggunakan sepatu balerina di atas panggung dalam tur Eras pada 2023.
Sementara Meghan Markle memilih sepatu balerina klasik Chanel dua warna ketika menghadiri hari keempat Invictus Games 2023. Sepatu tersebut dipadukan dengan blazer dan celana pendek.
Pada 2026, tren itu masih terlihat kuat. Vogue menyebut sepatu balet menjadi salah satu pilihan alas kaki yang menonjol di kalangan figur publik, termasuk Kaia Gerber, Lily-Rose Depp, Hailey Bieber dan Zoë Kravitz.
Bahkan tren tersebut tidak lagi sepenuhnya identik dengan perempuan. Vogue mencatat sejumlah figur pria seperti Harry Styles dan Bad Bunny juga tampil menggunakan ballet flats, menunjukkan bahwa siluet tersebut mulai menembus batas tradisional fesyen gender.
Fleksibel untuk Semua Gaya
Salah satu alasan ballet flat terus kembali adalah kemudahannya untuk dipadukan.
Sepasang sepatu ini dapat digunakan untuk tampilan formal, berjalan-jalan santai, bekerja, hingga sekadar menikmati kopi bersama kolega. Modelnya yang rendah membuatnya relatif mudah dipadukan dengan celana panjang, rok, gaun maupun jeans.
Vogue juga menempatkan ballet flat sebagai sepatu yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, dari pakaian kerja hingga gaya akhir pekan.
Pilihan desain yang semakin beragam membuat pemakai tidak harus terpaku pada bentuk klasik. Sepatu balet dengan Mary Jane strap, model mesh, ujung runcing, high-vamp, hingga versi berhiaskan kristal memberikan karakter berbeda meski berasal dari siluet yang sama.
Perjalanan sepatu balet ke dunia fesyen ternyata memiliki sejarah panjang.
Meski awalnya dirancang untuk penari, pengaruh sepatu balet terhadap fesyen mulai terlihat pada dekade 1930-an dan 1940-an.
Patricia Mears, kurator pameran Ballerina: Fashion's Modern Muse, mengatakan,
"Balet telah lama berhubungan dengan mode. Kemunculan perancang busana dan kebangkitan perempuan dalam desain fesyen seperti Chanel, Schiaparelli, dan Dior kemudian membantu memosisikan citra balerina sebagai aspirasi dalam kreasi mereka."
Perang Dunia Kedua juga menjadi salah satu momen yang ikut mendorong popularitasnya.
"Saat itu tidak semua orang bisa memakai sepatu karena dijatah. Ini masuk akal karena kami akan berperang dan sepatu akan lebih sulit didapat. Sebaliknya, tidak ada penjatahan untuk sepatu balet sehingga menjadi alternatif untuk alas kaki standar," jelas Mears.
Dalam perkembangan berikutnya, sepatu balet tidak hanya menjadi alternatif praktis, tetapi juga membawa citra feminin yang kemudian terus direinterpretasi oleh industri mode.
Pemakaiannya bahkan dapat dikaitkan dengan kebebasan yang lahir dari kebutuhan akan alas kaki feminin yang lebih nyaman. Sepatu datar memberi perempuan alternatif dari sepatu hak tinggi sehingga mereka dapat bergerak lebih leluasa tanpa sepenuhnya meninggalkan aspek gaya.
Meski terlihat sederhana dan nyaman, sepatu balet bukan berarti otomatis ideal untuk semua orang.
Perdebatan mengenai dampaknya terhadap kesehatan kaki masih berlangsung. Belum ada bukti pasti bahwa ballet flat secara umum berbahaya bagi kesehatan kaki dalam jangka panjang. Namun, sejumlah ahli mengingatkan bahwa persoalan dapat muncul ketika sepatu tidak sesuai dengan bentuk kaki.
Salah satu masalah yang perlu diperhatikan adalah bagian depan sepatu.
Beberapa ballet flat memiliki toe box yang sempit atau meruncing. Jika ruang untuk jari terlalu kecil, jari kaki dapat terjepit. Bentuk depan yang menyempit juga dapat meningkatkan tekanan pada bagian atas dan bawah kaki serta membatasi pergerakan kaki ketika berjalan.
Sol yang tipis dan fleksibel juga menjadi perhatian karena struktur tersebut dapat memberikan dukungan yang lebih sedikit pada telapak kaki.
Namun, terdapat pula pandangan lain yang melihat alas kaki dengan struktur minimalis dari sisi berbeda. Sepatu dengan struktur minimalis disebut berpotensi membuat otot tertentu pada kaki bekerja lebih aktif ketika berjalan, berlari atau melompat. Beberapa penelitian mengenai sepatu datar juga menunjukkan adanya pengurangan beban pada lutut dalam kondisi tertentu.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah sepatu balet baik atau buruk.
Yang lebih penting adalah kecocokan sepatu dengan bentuk dan kebutuhan kaki masing-masing pengguna.(far,ist/dya)




.jpg)
