07 September 2026

Get In Touch

Tujuh Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Ini Penjelasan Ahli Geologi ITS

Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng.
Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng.

SURABAYA (Lentera) – Tujuh gunung api di sejumlah wilayah Indonesia yang erupsi dalam waktu hampir bersamaan, memunculkan anggapan adanya fenomena geologis yang saling berkaitan.

Namun, aktivitas tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya efek “domino” yang membuat satu gunung memicu letusan gunung lainnya.

Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng menjelaskan aktivitas vulkanik yang terjadi hampir bersamaan merupakan bagian dari dinamika kebumian, yang secara alamiah dapat berlangsung di berbagai wilayah Nusantara.

Tujuh gunung api yang mengalami erupsi dalam periode tersebut yakni Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Gunung Ibu dan Gunung Dukono di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Sinabung di Sumatera Utara, serta Gunung Semeru di Jawa Timur.

Rangkaian erupsi itu, diawali aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Jumat (4/9/2026) malam, kemudian disusul aktivitas sejumlah gunung api lainnya.

Menurut Haris, aktivitas vulkanik maupun tektonik yang terjadi secara berdekatan merupakan fenomena yang wajar dalam dinamika bumi. Tingginya proses kebumian, termasuk aktivitas tektonik, gempa bumi, dan aktivitas magma, dapat berlangsung di berbagai wilayah Indonesia dalam periode yang relatif bersamaan.

“Fenomena meletusnya beberapa gunung api secara bersamaan itu merupakan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional,” jelas Haris, Senin (7/9/2026).

Meski demikian, ia menuturkan, setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus erupsi yang berbeda. Karena itu, aktivitas satu gunung api tidak dapat begitu saja disamakan dengan gunung api lainnya.

Setiap gunung memiliki sistem dapur magma, proses magmatisme, serta kondisi tektonik yang relatif independen. Gunung Semeru dan Krakatau, misalnya, berada dalam sistem tektonik yang dipengaruhi interaksi Lempeng Asia-Australia yang menunjam di bawah 

Lempeng Eurasia atau Sunda.

Sementara itu, Gunung Ibu memiliki sistem tektonik berbeda karena berada dalam kawasan yang dipengaruhi proses double subduction. Adapun Gunung Ili Lewotolok memiliki kondisi geologi yang unik karena berada di dekat batas proses subduksi yang telah berakhir.

“Kondisi itu menyisakan struktur geologi berupa robekan pada lempeng slab yang tersubduksi sehingga mengakibatkan tersedianya pasokan magma,” papar Haris.

Kepala Departemen Geofisika ITS tersebut menjelaskan, untuk memahami proses erupsi, dapur magma dapat dibayangkan sebagai ruang berongga di bawah permukaan bumi yang menampung lelehan batuan atau magma.

Di dalam magma juga terdapat fluida dan uap air. Ketika kandungan gas dan tekanan di dalam sistem magma meningkat, tekanan tersebut dapat mendorong magma mencari jalan keluar menuju permukaan.

Haris mengibaratkannya, seperti cairan bersoda di dalam botol tertutup. Ketika tekanan gas semakin tinggi dan penutup atau jalur keluarnya terbuka, tekanan tersebut dapat memicu pelepasan material secara tiba-tiba.

“Semakin tingginya tekanan gasnya, maka saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi,” tuturnya.

Sebaliknya, apabila suplai magma dari bagian bawah berhenti dan tidak ada lagi pemicu aktivitas tektonik yang signifikan, kantong magma dapat mengalami pendinginan secara perlahan. Proses tersebut berlangsung sangat lama dan memungkinkan mineral tertentu mengalami kristalisasi.

“Sehingga aktivitas vulkanik gunung tersebut lambat laun akan berhenti dengan sendirinya tanpa harus memicu letusan,” beber Haris.

Selain proses internal, erupsi juga dapat dipengaruhi faktor eksternal, salah satunya guncangan gempa tektonik. Guncangan tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan pada sistem magma yang sudah berada dalam kondisi kritis.

Peningkatan tekanan secara mendadak dapat membuka jalur atau celah pada sistem magma sehingga memicu keluarnya material vulkanik. Namun, pengaruh gempa terhadap aktivitas gunung api sangat bergantung pada kondisi sistem magma dan jarak antara sumber gempa dengan kantong magma.

Haris menambahkan, tingkat aktivitas setiap gunung api sangat bervariasi. Ada gunung yang terus menunjukkan aktivitas kegempaan dasar, tetapi ada pula yang dapat berada dalam kondisi dorman selama ratusan tahun sebelum kembali aktif.

Perbedaan karakter tersebut membuat pemantauan gunung api harus dilakukan secara berkelanjutan. Di Indonesia, tingkat aktivitas gunung api diklasifikasikan dalam empat level, yakni Level I Normal, Level II Waspada, Level III Siaga, dan Level IV Awas.

Penentuan status tersebut dilakukan berdasarkan berbagai parameter, antara lain aktivitas kegempaan, perubahan atau deformasi tubuh gunung, pengamatan visual terhadap asap dan material erupsi, serta data geokimia.

Haris mencontohkan, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang didominasi tipe letusan Strombolian hingga Hawaiian. Letusan tersebut relatif tidak besar, tetapi dapat berlangsung dalam durasi panjang.

Pada erupsi yang berlangsung hingga hampir 25 jam secara kontinu, durasi yang panjang menyebabkan abu vulkanik terus tersembur ke atmosfer hingga mencapai ketinggian belasan kilometer.

Sebaran abu kemudian bergerak ke sejumlah wilayah dengan arah yang dipengaruhi kondisi angin pada lapisan atmosfer. Sebagian bergerak ke tenggara menuju wilayah Banten, sedangkan lainnya ke arah barat daya menuju Lampung hingga Samudra Hindia.

“Hal itu juga bergantung pada lapisan ketinggian angin, sebagaimana terkonfirmasi analisis citra Himawari-9 BMKG,” ujar dosen Departemen Geofisika ITS tersebut.

Haris menekankan, aktivitas sejumlah gunung api dalam waktu berdekatan perlu dipahami berdasarkan data ilmiah dan hasil pemantauan, bukan semata-mata dikaitkan sebagai satu rangkaian letusan yang saling memicu.

Pemahaman terhadap karakter masing-masing gunung api menjadi penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memastikan respons terhadap potensi erupsi dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.