07 September 2026

Get In Touch

Dari Sejarah hingga Digital, Unesa Dampingi Warga Desa Made Kembangkan Potensi Wisata

SURABAYA (Lentera) — Pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi. Keterlibatan masyarakat, kreativitas pemuda, kekuatan produk lokal, serta kemampuan memanfaatkan teknologi digital menjadi bagian penting agar potensi desa dapat berkembang secara berkelanjutan.

Semangat tersebut dibawa Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 2026 melalui serangkaian program pemberdayaan masyarakat di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang.

Mengusung tema “Sendang Made, Optimalisasi Potensi Wisata Sejarah-Budaya Desa Made Berbasis Community Based Tourism Menuju Pariwisata Berkelanjutan”, program yang berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026 itu tidak hanya berfokus pada pengenalan destinasi, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama pengembangan wisata.

Sejumlah kegiatan digelar, mulai dari pembentukan Komunitas Ruang Maju Bersama Made (Rumah Made), pelatihan pemasaran digital bagi pemuda, pengembangan UMKM melalui Niaga Made, hingga pengenalan sejarah dan budaya Sendang Made kepada siswa sekolah dasar melalui Pusaka Made.

Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 2026 di Desa Made. (Dok. Humas Unesa)
Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 2026 di Desa Made. (Dok. Humas Unesa)

Pemberdayaan juga menyasar sektor ekonomi masyarakat melalui program Niaga Made pada 31 Agustus 2026.

Para pelaku UMKM mendapatkan pembekalan mengenai kewirausahaan, branding produk, hingga praktik re-branding. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu produk lokal Desa Made tampil lebih menarik dan memiliki daya saing ketika memasuki pasar yang lebih luas.

Salah satu peserta, Siska, pelaku UMKM keripik gadung Desa Made, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai peluang pemasaran produk melalui platform daring.

“Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi lebih termotivasi untuk membuka dan memperluas pasar secara online, salah satunya melalui e-commerce,” katanya.

Pengembangan UMKM melalui pemasaran digital menjadi penting karena keberadaan destinasi wisata juga dapat menciptakan pasar bagi produk masyarakat. Wisatawan yang datang tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi juga berpotensi menjadi konsumen produk lokal.

Dengan demikian, pengembangan wisata dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat desa.

Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 2026 di Desa Made. (Dok. Humas Unesa)
Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 2026 di Desa Made. (Dok. Humas Unesa)

Sejarah Dikenalkan Sejak Bangku Sekolah

Selain pemuda dan pelaku UMKM, program PPK Ormawa BEM FISIPOL Unesa juga menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam upaya menjaga warisan budaya.

Melalui program Pusaka Made pada 23 Juli 2026, siswa SDN Made 1 diajak mengenal sejarah dan nilai budaya Sendang Made secara langsung. Pembelajaran dilakukan di kawasan sendang dengan memperkenalkan sejarah, nama-nama sendang, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Model pembelajaran tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Sejarah tidak hanya dipelajari melalui buku, tetapi juga dikenalkan melalui lingkungan dan peninggalan budaya yang berada di sekitar mereka.

Pengurus Sendang Made, Badri, menilai pengenalan sejarah sejak dini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki di kalangan generasi muda.

Menurutnya, anak-anak perlu mengetahui sejarah dan nilai budaya yang ada di lingkungan mereka agar tumbuh kepedulian untuk merawat dan mempertahankan keberadaan Sendang Made.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pengembangan wisata desa dapat dimulai dari penguatan masyarakatnya. Pemuda dibekali kemampuan digital, UMKM didorong meningkatkan daya saing, sementara generasi muda dikenalkan pada sejarah dan budaya daerahnya.

Melalui pendekatan community based tourism, masyarakat tidak ditempatkan sekadar sebagai objek pembangunan pariwisata, tetapi sebagai pelaku utama yang ikut menentukan arah pengembangan destinasi.

PPK Ormawa BEM FISIPOL Unesa 2026 pun diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem wisata Desa Made yang lebih inklusif dan berkelanjutan. 

Dengan menggabungkan kekuatan sejarah, budaya, sumber daya manusia, UMKM, dan teknologi digital, Sendang Made berpeluang berkembang bukan hanya sebagai tempat kunjungan, tetapi juga sebagai ruang belajar, pemberdayaan, dan penggerak ekonomi masyarakat. (ADV)

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.