05 September 2026

Get In Touch

Takut Sinar Lampu, Payung pun Masuk Ruang Kantor

Ilustrasi Pakai payung di dalam kantor demi kulit sehat (Ist)
Ilustrasi Pakai payung di dalam kantor demi kulit sehat (Ist)

OIPNI (Lenera) -Jika Anda melihat seseorang membuka payung berwarna gelap di tengah terik matahari atau saat hujan deras, itu hal yang lumrah. Namun, bagaimana jika pemandangan tersebut terjadi di dalam ruangan ber-AC, tepat di depan meja kerja lengkap dengan komputernya?

Minggu ini ada sebuah postingan yang menarik untuk dibahas: membuka payung saat mengetik di dalam kantor. Fenomena tak biasa ini tengah melanda sebagian pekerja kantoran. Demi melindungi diri dari paparan sinar ultraviolet (UV) yang dipancarkan oleh lampu ruangan dan layar monitor, karyawan tersebut rela melakukan tindakan unik tersebut.

Bagi yang melihatnya, pemandangan ini tentu menggelitik. Ruang kerja yang biasanya diisi oleh tumpukan berkas dan cangkir kopi, kini dihiasi "tenda" kecil di atas kepala para karyawan. Alasan di baliknya sangat spesifik, yaitu kecemasan akan penuaan dini, kulit kusam, hingga pigmentasi akibat sinar UV buatan.

Seketika, fungsi payung yang sudah bertahan berabad-abad mengalami pergeseran makna yang cukup unik.
Sekilas, tindakan ini mungkin terlihat bagai adegan komedi satire. Namun, jika dibedah lebih dalam, ada fenomena psikologis yang cukup memprihatinkan di balik lembaran kain payung tersebut.

Berita ini menjadi cermin sempurna bagi kehidupan masyarakat modern yang makin terobsesi dengan standar penampilan (beauty standards).

Keinginan untuk merawat diri (self-care) sejatinya adalah hal yang jamak terjadi. Namun, ketika proteksi diri berubah menjadi ketakutan berlebihan terhadap hal-hal mikro di sekitar kita, batas antara menjaga kesehatan dan stres baru menjadi sangat tipis.

Adalah benar, bahwa layar monitor dan lampu ruangan memang memancarkan radiasi ringan, tetapi meresponsnya dengan cara mengekang kenyamanan diri di tempat kerja justru memperlihatkan bagaimana kecemasan sosial bisa mengalahkan kepraktisan hidup. Kita terlalu fokus memproteksi fisik dari ancaman sekecil apa pun, hingga lupa memberikan ruang bagi pikiran untuk bernapas lega.

Dari tren unik yang bikin dahi berkerut sekaligus tersenyum ini, Saya ingin berbagi beberapa pelajaran berharga yang bisa kita renungkan:

Rasionalitas dalam Beradaptasi: Menggunakan sunscreen atau mengatur kecerahan layar adalah bentuk kompromi yang rasional. Membuka payung di dalam ruangan adalah bukti bagaimana kepanikan informasi bisa mendorong kita mengambil langkah yang berlebihan.

Menentukan Prioritas Kesehatan Mental: Mencegah penuaan kulit itu penting, tetapi menjaga kenyamanan mental saat bekerja jauh lebih utama. Menambah beban fisik dengan bekerja di bawah bayang-bayang payung justru menambah tingkat stres yang pada akhirnya juga buruk bagi kesehatan kulit.

Proporsional dalam Merawat Diri: Self-care terbaik adalah yang membuat hidup kita lebih efisien dan tenang, bukan yang membuat kita terisolasi dari lingkungan sekitar.

Dunia kerja modern memang kerap melahirkan tren-tren yang tak terduga. Bekerja di bawah payung mungkin efektif menahan sinar lampu, tetapi tidak bisa melindungi kita dari pandangan heran rekan kerja di sebelah meja. 

Pada akhirnya, sebelum kita terburu-buru "membuka payung" untuk setiap ancaman kecil dalam hidup, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang melindungi diri, atau justru sedang memenjarakan kenyamanan kita sendiri? 

Anda yang menentukan. Happy weekend

Penulis: Suhardiman Eko, Business Development Lentera Media|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.