02 September 2026

Get In Touch

Imbas Kekeringan dan Karhutla Meluas di Trenggalek, Ribuan Warga Terdampak

Petugas BPBD Trenggalek menyalurkan air bersih kepada warga terdampak kekeringan sebagai bagian dari penanganan krisis air bersih selama musim kemarau. Hingga 31 Agustus 2026, BPBD telah mendistribusikan 1.209.000 liter air bersih ke 29 desa di sembilan ke
Petugas BPBD Trenggalek menyalurkan air bersih kepada warga terdampak kekeringan sebagai bagian dari penanganan krisis air bersih selama musim kemarau. Hingga 31 Agustus 2026, BPBD telah mendistribusikan 1.209.000 liter air bersih ke 29 desa di sembilan ke

TRENGGALEK (Lentera) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat kekeringan masih berdampak pada ribuan warga hingga akhir Agustus 2026. Berdasarkan data pembaruan per 31 Agustus, sebanyak 7.725 kepala keluarga atau 18.915 jiwa terdampak kekeringan yang tersebar di 34 desa pada 11 kecamatan.

Kondisi tersebut membuat BPBD melakukan penyaluran air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Hingga 31 Agustus, sebanyak 1.209.000 liter air bersih telah didistribusikan melalui 258 rit pengiriman ke 29 desa di sembilan kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono mengatakan, penyaluran air bersih dilakukan sebagai bentuk penanganan terhadap wilayah yang masyarakatnya mulai mengalami kesulitan air akibat kondisi kemarau.

“Data kekeringan ini mencakup 34 desa yang tersebar di 11 kecamatan, dengan jumlah masyarakat terdampak mencapai 7.725 KK atau 18.915 jiwa. Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD telah melakukan distribusi air bersih sebanyak 1.209.000 liter melalui 258 rit ke 29 desa di sembilan kecamatan,” kata Triadi, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, distribusi air bersih dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan serta kondisi masing-masing wilayah terdampak. Kecamatan Panggul menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbesar, mencapai 740.000 liter melalui 156 rit, disusul Dongko 136.000 liter dan Bendungan 84.000 liter.

Selain kekeringan, BPBD Trenggalek juga mencatat adanya 21 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga akhir Agustus. Kebakaran tersebut terjadi di 28 titik yang tersebar pada 16 desa atau kelurahan di tujuh kecamatan.

Total luas lahan yang terbakar mencapai 71,25 hektare. Kecamatan Karangan menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 23,25 hektare, kemudian Trenggalek 17,5 hektare, Panggul dan Gandusari masing-masing 10 hektare, Pogalan tujuh hektare, Dongko dua hektare, serta Kampak 1,5 hektare.

Triadi menyampaikan, seluruh kejadian karhutla yang tercatat hingga 31 Agustus telah berhasil dipadamkan. Penanganan dilakukan bersama unsur terkait untuk mencegah api meluas dan memastikan kondisi di lokasi kembali aman.

“Penanganan dilakukan bersama-sama stakeholder terkait agar kebakaran tidak meluas dan kondisi di lokasi dapat segera dinyatakan aman,” ujar Stefanus.

BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah menjalar, sehingga masyarakat diminta berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di sekitar kawasan hutan dan lahan terbuka.

Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.