TRENGGALEK (Lentera) – Kabupaten Trenggalek mulai mengembangkan budidaya bawang putih sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor. Sebanyak 150 kilogram bibit bawang putih varietas Lumbu Hijau ditanam di lahan seluas 0,2 hektare di Desa Karanganyar, Kecamatan Pule, Rabu (19/8/2026).
Penanaman tersebut dilakukan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama Kapolres Trenggalek AKBP Rizky Tri Putra Erryka Adi Wijaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan penanaman bawang putih yang diinisiasi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan digelar serentak di 17 provinsi.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menyebut pengembangan bawang putih menjadi langkah penting mengingat kebutuhan komoditas tersebut selama ini masih banyak dipenuhi melalui impor.
"Ini inisiasi dari Bapak Kapolri dan di daerah dikerjakan oleh Bapak Kapolres. Kita sama-sama tahu bahwa ketergantungan kita terhadap impor, khususnya bawang putih, masih sangat tinggi," kata Mas Ipin.
Menurut Mas Ipin, Trenggalek memiliki peluang untuk mengembangkan bawang putih karena sejumlah wilayahnya berada pada ketinggian yang sesuai. Salah satunya kawasan Pule yang berada di kisaran 700-1.000 MDPL.
"Kita menyambut baik hal ini, meskipun tentu menjadi tantangan tersendiri karena masyarakat kita, khususnya di Trenggalek, belum terbiasa menanam bawang putih. Tetapi kita memiliki daerah-daerah dengan ketinggian sekitar 700 sampai 1.000 MDPL yang punya potensi," ujarnya.
Pada tahap awal, penanaman dilakukan di lahan seluas 0,2 hektare dengan melibatkan 8 petani dari sejumlah gabungan kelompok tani (Gapoktan). Pemerintah daerah akan mengevaluasi hasilnya setelah masa tanam sekitar 3 bulan.
Jika hasil produksi sesuai target, pengembangan lahan akan diperluas. Langkah tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya sentra produksi bawang putih di Trenggalek.
"Kalau dalam 3 bulan nanti bisa panen, maka bisa kita luaskan. Harus panen sehingga betul-betul program swasembada pangan untuk mengurangi impor, khususnya bawang putih, bisa terlaksana," terang Mas Ipin.
Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, peningkatan produksi lokal juga diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan harga. Arifin menilai ketika pasokan tidak lagi bergantung pada impor, pemerintah akan lebih mudah mengendalikan gejolak harga bawang putih.
"Kalau kita sudah tidak ketergantungan dengan impor dan produksinya melimpah, harapannya harga juga terkendali. Inflasi bawang juga bisa kita kendalikan," imbuhnya.
Sementara itu, Kapolres Trenggalek AKBP Rizky Tri Putra Erryka Adi Wijaya mengatakan program penanaman tersebut menjadi bagian dari gerakan nasional yang dilaksanakan di 17 provinsi. Khusus Jawa Timur, terdapat 4 daerah yang ditunjuk, yakni Kabupaten Malang, Pasuruan, Magetan dan Trenggalek.
"Alhamdulillah hari ini kita melakukan penanaman bawang putih di 17 provinsi. Untuk Jawa Timur ditunjuk 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Trenggalek," jelas Rizky.
Rizky menyebut lahan perdana di Trenggalek seluas 0,20 hektare tersebut ditargetkan dapat dikembangkan hingga 1,5 hektare apabila hasil panen pertama dalam 3 bulan mendatang menunjukkan hasil yang baik.
"Hari ini kita menanam bawang putih sebanyak 0,20 hektare. Kalau melihat hasil panen 3 bulan ke depan, bisa dikembangkan menjadi 1,5 hektare. Untuk target sementara di angka 1,5 hektare dan nanti kita lihat sambil evaluasi," katanya.
Ia menilai kondisi lahan di lokasi penanaman sudah sesuai dengan kebutuhan tanaman bawang putih. Ketersediaan bibit juga telah disiapkan untuk mendukung program tersebut.
"Harapan kita sama dengan yang disampaikan Pak Bupati, kita bisa swasembada bawang putih karena ini salah satu komoditas yang masih tergantung impor. Harapannya kita bisa swasembada sendiri dengan menanamnya, meskipun di Trenggalek bawang putih belum populer," tandasnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek Imam Nurhadi mengatakan pengembangan bawang putih menjadi bagian dari agenda pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan setelah komoditas padi atau beras dan tebu atau gula.
"Kalau kemarin kita ditargetkan swasembada padi atau beras dan itu sudah berjalan baik, kemudian swasembada tebu atau gula juga sudah. Sekarang kita menuju swasembada bawang putih karena secara garis besar kebutuhan bawang putih kita masih dipenuhi dari luar negeri," jelas Imam.
Ia menambahkan, selain Pule, sejumlah wilayah lain di Trenggalek juga memiliki kondisi geografis yang mendukung pengembangan bawang putih.
"Potensi bawang putih di ketinggian 700 MDPL itu ada di Kabupaten Trenggalek. Di antaranya wilayah Pule sampai Puyung. Kemudian Kecamatan Bendungan, khususnya daerah Botoputih, juga memiliki potensi yang luar biasa untuk penanaman bawang putih," pungkasnya. (*)
Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
