17 August 2026

Get In Touch

Dari Keraguan Jadi Andalan UMKM, CFD Trenggalek Tembus Omzet Rp157 Juta

Anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur, Novita Hardini (tengah), berfoto bersama pelaku UMKM dan peserta Sosialisasi Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian untuk UMKM di Hotel Bukit Jaas, Trenggalek.
Anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur, Novita Hardini (tengah), berfoto bersama pelaku UMKM dan peserta Sosialisasi Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian untuk UMKM di Hotel Bukit Jaas, Trenggalek.

TRENGGALEK (Lentera) – Car Free Day (CFD) di Kabupaten Trenggalek yang menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ternyata sempat diwarnai keraguan saat pertama kali digagas. Kini, kegiatan tersebut justru mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah dari para pedagang dalam setiap pelaksanaannya.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Trenggalek, Saniran, mengatakan omzet UMKM dalam pelaksanaan CFD saat ini rata-rata berada di kisaran Rp130 juta hingga lebih dari Rp150 juta per sesi.

Hal itu disampaikan Saniran saat membuka Sosialisasi Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian untuk UMKM yang digelar Badan Standardisasi Nasional (BSN) di Hotel Bukit Jaas, Minggu (16/8/2026).

Menurut Saniran, pelaksanaan CFD tersebut tidak terlepas dari inisiatif Novita Hardini yang sejak awal memberikan masukan kepada pemerintah daerah. Ia menilai keberadaan CFD kini telah memberikan dampak nyata terhadap aktivitas ekonomi UMKM.

"CFD ini merupakan inisiatif dari Bu Novita. Dulu beliau memberikan saran dan masukan kepada kami. Perkembangannya sekarang, rata-rata omzet CFD mencapai Rp130 juta hingga Rp150 juta per sesi," ujar Saniran.

Ia menyebut capaian omzet tertinggi terjadi ketika pelaksanaan CFD digelar bersamaan dengan kegiatan Hari Koperasi di kawasan Pasar Pon. Saat itu, total transaksi UMKM mencapai Rp157 juta.

"Karena bersamaan dengan event lain, yakni Hari Koperasi, omzetnya mencapai Rp157 juta. Bahkan ada salah satu UMKM yang omzetnya mencapai Rp5,5 juta hanya dengan berjualan mulai pukul 06.00 sampai 09.00 WIB," jelasnya.

 Saniran juga mengapresiasi Novita Hardini yang disebutnya tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan UMKM Trenggalek meskipun saat ini menjalankan tugas sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) VII Jawa Timur.

Salah satu bentuk perhatian tersebut diwujudkan dengan menghadirkan BSN ke Trenggalek untuk memberikan sosialisasi kepada pelaku UMKM mengenai standardisasi dan penilaian kesesuaian.

Sementara itu, Novita Hardini mengatakan dirinya tetap berupaya memberikan masukan kepada pemerintah daerah meski sebagian besar aktivitasnya kini berada di Jakarta.

"Raga saya memang di Jakarta, tetapi jiwa saya di Trenggalek. Saya tetap berdiskusi dan memberikan masukan serta saran kepada jajaran pemerintah Kabupaten Trenggalek. Salah satunya terkait dengan CFD," kata Novita.

Novita mengakui bahwa ketika gagasan tersebut pertama kali didorong, sejumlah pihak masih mempertimbangkan berbagai risiko. Namun, ia memilih untuk terus mendorong agar CFD dapat berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. 

Menurut Novita, hasil yang terlihat saat ini menunjukkan bahwa keraguan terhadap pelaksanaan CFD perlahan terjawab. Kegiatan tersebut justru berkembang menjadi ruang bagi UMKM untuk meningkatkan aktivitas perdagangan.

"Rupanya teman-teman yang sebelumnya takut dan pesimis, sekarang melihat Car Free Day menjadi sebuah pergerakan yang membanggakan bagi teman-teman UMKM," imbuhnya.

CFD Trenggalek sebelumnya digelar di sekitar Alun-Alun Trenggalek. Namun, kegiatan tersebut perlahan mengalami penurunan minat hingga akhirnya sepi pengunjung. Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian adalah kedisiplinan pedagang.

Saat ini, CFD lebih sering digelar di sepanjang Jalan Panglima Sudirman. Ketika lokasi tersebut digunakan untuk kegiatan lain, pelaksanaannya dapat dipindahkan ke kawasan jalan lingkar Pasar Pon.

Selain perubahan lokasi, pengelola juga menerapkan aturan yang lebih ketat bagi pedagang. Pedagang yang dua kali tidak berjualan tanpa izin dapat kehilangan tempat dan digantikan oleh pedagang lain yang masuk dalam daftar antrean.

Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga keberlangsungan CFD sekaligus memastikan lapak yang tersedia benar-benar dimanfaatkan. Terlebih, masih banyak pelaku UMKM lain yang ingin berjualan namun belum mendapatkan tempat karena kapasitas pedagang telah penuh.

Disiplin pedagang dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keramaian CFD. Dengan konsistensi pedagang dalam berjualan, aktivitas tersebut diharapkan tetap menarik pengunjung dan memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi UMKM Trenggalek.

Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.