TRENGGALEK (Trenggalek) -Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah, Kabupaten Trenggalek, mendapat penghentian operasional sementara atau suspend selama 30 hari menyusul dugaan gangguan pencernaan setelah penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah tersebut dilakukan sembari menunggu hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan perkembangan kasus tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah pusat dalam waktu kurang dari 24 jam. Laporan itu kemudian mendapat perhatian dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Sudah diinformasikan dari perwakilan BGN bahwa hasil kemarin dalam kurang dari 24 jam sudah dilaporkan ke pusat, sehingga mendapatkan atensi dari pusat untuk kasus kejadian seperti ini," ujar Sunarto, Kamis (13/8/2026).
Sebagai tindak lanjut, SPPG Tamanan mendapat suspend sementara hingga 30 hari ke depan. Selama masa tersebut, akan dilakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan MBG di dapur tersebut.
"SPPG Tamanan ini mendapat suspend sementara sampai 30 hari ke depan. Nanti akan menjadi atensi dan akan ada evaluasi berikutnya," jelasnya.
Penghentian operasional SPPG Tamanan membuat layanan MBG bagi penerima manfaat harus dihentikan sementara. Sunarto menyebut terdapat opsi untuk mengalihkan atau merealokasi layanan ke SPPG lain.
Menurutnya, opsi tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan persetujuan pihak sekolah dan wali murid serta kondisi teknis di lapangan.
"Dari kasus serupa seperti KPPG Jember disampaikan juga boleh direalokasi ke SPPG yang lain. Tentunya itu atas persetujuan dari sekolah dan wali murid, jika memungkinkan," katanya.
Di sisi lain, Satgas MBG Trenggalek telah melakukan analisis terhadap tahapan pengolahan makanan yang dinilai berpotensi menimbulkan keluhan. Menu yang dibagikan saat kejadian terdiri dari nasi putih, ayam dadu bumbu sate, tahu fantasi, cah bayam dan jagung, serta semangka.
Dari hasil analisis awal, ayam dadu bumbu sate menjadi salah satu komponen makanan yang mendapat perhatian dalam investigasi.
"Kalau kita lihat untuk menu saat itu berupa nasi putih, ayam dadu bumbu sate, bumbu kacang, tahu fantasi, cah bayam dan jagung, kemudian semangka. Dari beberapa tadi kelihatannya yang patut diduga adalah ayam dadu tersebut," ungkap Sunarto.
Ia mengatakan pengolahan ayam menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam penyelenggaraan MBG. Pasalnya, sebelumnya juga pernah terdapat keluhan terkait menu ayam meski tidak sampai menimbulkan kasus serupa.
"Memang beberapa yang perlu mendapat perhatian itu ayam. Ayam ini sering juga menimbulkan keluhan. Mungkin beberapa kali ada komplain, tidak sampai ada kasus, tetapi ada komplain dari ayam ini. Makanya tata laksana ayam menjadi perhatian bersama," jelasnya.
Kendati demikian, Sunarto menegaskan ayam belum dapat disebut sebagai penyebab kejadian tersebut. Satgas masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber gangguan pencernaan yang dialami penerima manfaat.
"Nanti ada lab. Ada sampel yang di freezer, ada juga dari penerima manfaat yang kebetulan kita dapat. Jadi nanti akan kita ketahui kira-kira apa," katanya.
Pemeriksaan terhadap SPPG Tamanan juga akan dilanjutkan pada Jumat (14/8/2026). Tim lengkap akan turun dengan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) serta tim BGN.
Sunarto menambahkan, pembinaan terhadap SPPG sebenarnya telah dilakukan sebelum kejadian tersebut. Dinas Kesehatan bersama OPD terkait disebut telah melakukan kunjungan dan inspeksi mendadak untuk mengevaluasi pelaksanaan MBG.
"Di luar rapat hari ini kita sudah sering mengadakan, baik insidental dan sebagainya dari OPD-OPD terkait. Dinas Kesehatan juga mendatangi lokasi, menyampaikan kekurangannya apa. Jadi sidak-sidak itu sudah kita lakukan," pungkasnya.
Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH




.jpg)
