14 August 2026

Get In Touch

Di China, Artis AI Mulai Terima Endorse1

Di China, Artis AI Mulai Terima Endorse1

SURABAYA ( LENTERA ) - Kecerdasan buatan (AI) di China mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap sebagai panggung eksklusif manusia yaitu dunia hiburan.

AI bukan lagi sekadar digunakan untuk membantu menulis naskah, mengedit video, atau menghasilkan efek visual. Teknologi ini kini menciptakan pemeran utama, membangun persona di media sosial, mengumpulkan penggemar, hingga menerima tawaran endorsement.

Salah satu fenomenanya adalah Fang Taozi, karakter perempuan berusia 20 tahun yang sepenuhnya dibuat menggunakan AI. Dalam waktu sekitar dua bulan, Fang berhasil mengumpulkan hampir 400.000 pengikut di media sosial.

Ia tampil sebagai perempuan berambut hitam panjang yang membintangi drama pendek China. Salah satu serialnya, The Girl Who Got Laid Off, bahkan telah meraih lebih dari 200 juta penayangan di salah satu platform.
Fang bukan sekadar karakter dalam drama. Ia kini diperlakukan layaknya selebritas sungguhan.

Sejak akun media sosialnya dibuka pada pertengahan Juni, Fang telah mengunggah 43 video yang memperlihatkan aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, berolahraga, hingga menghadiri acara mode di Paris. 

Video-video itu secara keseluruhan mengumpulkan sekitar 28 juta tanda suka.
Data yang dirilis media China pada Juli menunjukkan akun Fang telah memiliki lebih dari 334.000 pengikut dan 25,9 juta likes. Angkanya kemudian terus meningkat. (ECNS)
Yang membuat fenomena Fang menarik bukan sekadar jumlah pengikutnya. Ia sengaja dibuat tidak sempurna.

Fang memiliki bintik hitam, pori-pori dan kerutan. Riasannya dapat terlihat luntur setelah seharian bekerja. Ketika menaiki tangga, keringat tampak membasahi wajahnya. Rambutnya bisa terlihat kusut dan pakaiannya meninggalkan bekas keringat.

Karakter seperti itu berbeda dari stereotip tokoh perempuan dalam banyak drama China yang sering ditampilkan sempurna, kuat dan sukses.

Fang justru diperlihatkan sebagai perempuan biasa. Ia bisa rapuh, melakukan kompromi, bahkan mengambil jalan pintas untuk bertahan hidup.

Di situlah kekuatan karakter AI tersebut.
Penonton tidak hanya disuguhi sosok digital yang sempurna, tetapi figur yang sengaja dirancang agar terlihat memiliki kelemahan seperti manusia.

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan penting dalam industri hiburan: AI tidak lagi harus meniru manusia secara sempurna untuk mendapatkan perhatian. Ia cukup dibuat cukup manusiawi untuk membuat penonton merasa dekat.

Popularitas Fang kemudian bergerak keluar dari layar.

Ia memiliki seorang asisten bernama Mimi yang juga mempunyai akun media sosial dengan sekitar 20.000 pengikut. Sementara pemeran kekasih Fang dalam drama, Zhou Yiheng, memiliki sekitar 130.000 pengikut.
Interaksi antara karakter-karakter digital tersebut bahkan dipasarkan seperti kehidupan selebritas sungguhan.

Popularitas Fang juga mulai menghasilkan uang.

Pada awal Agustus, ia tampil dalam video promosi produk lensa kontak berwarna. Sejumlah laporan industri bahkan menyebut tarif endorsement Fang mampu melampaui tarif sejumlah influencer manusia yang mempunyai sekitar 10 juta pengikut.

Artinya, nilai komersial seorang figur tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan tubuh manusia.

Bagi pengiklan, karakter AI memiliki sejumlah keunggulan. Mulai tidak menua, dapat tampil kapan saja, tidak memiliki tuntutan jadwal seperti manusia dan dapat diarahkan sesuai kebutuhan kampanye.

Namun, justru di titik inilah persoalan baru muncul.

Seorang pengguna internet berkomentar bahwa Fang terlihat begitu nyata sehingga ia mulai percaya AI benar-benar dapat menggantikan aktor manusia.


122 Ribu Drama AI dalam 3 Bulan

Fenomena Fang bukan kasus tunggal.
Industri drama pendek atau microdrama China sedang mengalami perubahan besar akibat AI.
Pada kuartal pertama 2026, sekitar 128.000 drama pendek dirilis di China. Sekitar 122.000 di antaranya disebut diproduksi menggunakan AI, atau lebih dari 95 persen dari seluruh produksi baru.

Angka tersebut menunjukkan betapa cepat teknologi tersebut masuk ke industri yang sebelumnya sangat bergantung pada aktor, kru kamera, penata rias, lokasi syuting dan pekerja produksi.

Laporan Channel NewsAsia menyebut proporsi drama mikro berbasis AI pada kuartal pertama 2026 telah mencapai lebih dari 95 persen, padahal setahun sebelumnya hampir tidak ada. 

Perubahan itu juga berdampak pada model bisnis.
Produksi drama dengan AI dapat memangkas kebutuhan terhadap lokasi fisik dan kru dalam jumlah besar. Karakter dapat dibuat secara digital, adegan dihasilkan menggunakan model video, sementara proses pascaproduksi juga semakin otomatis.

Dengan demikian, produksi yang sebelumnya membutuhkan manusia dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan tim yang jauh lebih kecil.

Manusia Tersingkir

Di sinilah tekanan terhadap aktor dan pekerja kreatif mulai terlihat.Salah satu wajah dari perubahan itu adalah Xu Peng.

Pria berusia 30 tahun tersebut merupakan lulusan Central Academy of Drama, salah satu institusi pendidikan seni peran terkemuka di China.

Ia sebelumnya sempat tampil dalam serial televisi. Ketika drama mikro mengalami ledakan popularitas pada 2025, Xu Peng beralih ke industri tersebut setelah didorong para penggemarnya.

Keputusan itu sempat membawa kesuksesan.
Xu dikenal melalui peran sebagai CEO arogan dan karakter pria berkuasa. Pada puncak kariernya, ia disebut dapat menjalani syuting selama 15 hingga 16 jam sehari karena padatnya jadwal.

Namun, karier itu berhenti hampir secepat ketika industri AI berkembang.
Setelah menyelesaikan drama terakhirnya pada awal 2026, Xu meninggalkan Hengdian, pusat produksi film dan televisi China, lalu kembali ke kampung halamannya di pedesaan Shandong.
Kini ia membantu kakeknya menjual sayuran di pasar.

Xu bukan satu-satunya aktor yang terdampak.
Zhang Xiaolei, 28 tahun, pernah tampil dalam sekitar 200 drama mikro. Sekitar 70 persen perannya merupakan karakter ba zong, istilah yang merujuk pada tokoh pria kaya, dominan dan berkuasa yang populer dalam cerita romantis China.

Namun, ketika produksi drama berbasis AI meningkat, tawaran pekerjaan untuk Zhang ikut menyusut.

Pada Maret 2026, ia mulai bekerja sebagai petani cabai di Qinghai, wilayah barat laut China.

Hasil panennya dijual di pasar pedesaan dengan harga sekitar 4 yuan atau sekitar Rp8.800 per kilogram.

Dari jadwal syuting yang sebelumnya padat, Zhang mengaku hanya menerima satu panggilan pekerjaan.

Dampak AI juga tidak berhenti pada pemeran.
Jika satu produksi tidak lagi membutuhkan aktor, kebutuhan terhadap penata rias, kamerawan, figuran, kru lokasi, penyunting dan berbagai pekerja pendukung ikut berkurang.
Perubahan itu membuat persoalan AI di industri kreatif bukan sekadar pertanyaan apakah teknologi mampu menghasilkan gambar yang lebih realistis.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.