11 August 2026

Get In Touch

Kekeringan Madura Berulang, Fraksi PKS DPRD Jatim Ingatkan Pemprov Perkuat Infrastruktur Air

Anggota Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Harisandi Savari.
Anggota Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Harisandi Savari.

SURABAYA (Lentera) – Kekeringan yang terus berulang setiap musim kemarau di Pulau Madura menjadi perhatian Fraksi PKS DPRD Jawa Timur. Dia mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperkuat mitigasi dan pembangunan infrastruktur penyediaan air agar persoalan kekurangan air tidak terus berulang, terutama di kawasan pertanian tembakau.

Anggota Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Harisandi Savari mengungkapkan, persoalan air di Madura merupakan masalah klasik yang terjadi setiap tahun. Kondisi tersebut dinilai paradoks karena saat musim penghujan sejumlah wilayah justru mengalami limpahan air hingga banjir.

"Fenomena yang terjadi di Madura ini, kalau musim penghujan, air sangat melimpah, bahkan bisa banjir. Tetapi kalau musim kemarau, permasalahan kita ini masih tetap tiap tahun kekeringan," ungkap Harisandi, Selasa (11/08/2026).

Menurut Harisandi, kondisi tersebut menunjukkan penanganan kekeringan perlu mengubah pola. Pemerintah tidak cukup hanya turun ketika masyarakat sudah mengalami kesulitan air, tetapi perlu melakukan antisipasi sejak awal.

Saat ini sejumlah wilayah Madura tengah memasuki musim tembakau. Dalam reses yang dilakukannya, Harisandi menyebut para petani menyampaikan keluhan utama terkait sulitnya akses air.

"Jadi memang perlu langkah-langkah dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam hal ini, bagaimana antisipasi awal, mitigasi untuk mencegah kekeringan ini," ujarnya.

Salah satu kebutuhan yang banyak disampaikan petani, kata Harisandi, adalah pembangunan sumur bor di titik-titik yang mengalami kesulitan air. Usulan tersebut diharapkan dapat direalisasikan melalui Perubahan APBD Provinsi Jawa Timur 2026.

"Minimal kemarin beberapa masukan dari para petani untuk disediakan pengeboran. Mudah-mudahan perjuangan kami bersama teman-teman ini bisa terealisasi di P-APBD 2026," katanya.

Harisandi menjelaskan, kebutuhan infrastruktur air di Madura tidak dapat disamaratakan karena setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda. Menurutnya, pemerataan embung dan pembangunan penampungan air juga penting agar air hujan yang melimpah saat musim penghujan dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau.

"Di wilayah utara Pamekasan dan wilayah timur Pamekasan, itu mungkin karena memang embung tidak merata. Bukan tidak ada, tetapi tidak merata," jelasnya.

Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur air di Madura perlu dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah, khususnya kawasan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

"Ini menjadi permasalahan yang klasik menurut saya, bahwa memang permasalahan kekeringan ini harus benar-benar dikonsentrasikan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk Madura," tegasnya.

Menurut Harisandi, dampak kekeringan juga telah dirasakan langsung oleh petani. Untuk mempertahankan tanaman tembakau hingga masa panen, sebagian petani terpaksa mencari sumber air sendiri, termasuk membeli air dari tangki.

"Bagaimana antisipasi minimal membeli air untuk panen mereka, untuk pertanian mereka ini tetap berjalan," tuturnya.

Kondisi tersebut, kata Harisandi, berdampak pada meningkatnya biaya produksi petani karena anggaran yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pupuk dan perawatan tanaman harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan air.

"Harusnya cutting produksi yang harusnya diminimalisir, ini menjadi pembengkakan," ujarnya.

Jika tidak segera diantisipasi, Harisandi khawatir persoalan kekeringan dapat berdampak terhadap produksi dan kerugian ekonomi petani.

Bagi Harisandi, kondisi tersebut menjadi momentum bagi Pemprov Jatim membangun sistem mitigasi yang lebih permanen. Ia menilai pemerintah tidak dapat terus mengulang pola distribusi air darurat ketika sumber air masyarakat sudah mengering.

"Infrastruktur seperti sumur bor dan embung perlu dipersiapkan lebih awal, terutama di kawasan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Dengan demikian petani tembakau tidak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air hanya agar tanaman mereka bertahan sampai panen," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Pradhita
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.