SURABAYA (Lentera)- Empat kali berturut-turut menjadi juara umum Lomba Kompetensi Siswa Pendidikan Menengah (LKS Dikmen) Tingkat Nasional menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu barometer pendidikan vokasi di Indonesia. Capaian tersebut tidak hanya ditentukan oleh kemampuan siswa saat bertanding, tetapi juga ditopang pembinaan berjenjang, pelatihan intensif, keterlibatan dunia industri, hingga penguatan mental peserta.
Pada LKS Dikmen Nasional 2026, kontingen Jawa Timur kembali mempertahankan gelar juara umum dengan mengoleksi 30 medali. Rinciannya, 18 medali emas, tujuh perak, dan lima perunggu.
Perolehan tersebut menempatkan Jawa Timur di posisi teratas, disusul DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Capaian itu sekaligus mengukuhkan Jawa Timur sebagai juara umum LKS tingkat nasional selama empat tahun berturut-turut atau quattrick sejak 2023.
Konsistensi tersebut juga diuji melalui penyelenggaraan kompetisi di lokasi dan format yang berbeda. Pada 2023, LKS Nasional digelar di Surabaya. Setahun kemudian, kompetisi berlangsung di Lampung. Pada 2025, penyelenggaraan tersebar di sejumlah lokasi di DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Sementara pada 2026, kompetisi menggunakan format hibrida dengan pelaksanaan di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Terkait capaian itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, konsistensi tersebut menunjukkan bahwa prestasi kontingen Jatim bukan semata faktor tuan rumah atau keberuntungan. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil pembinaan yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
“Target kita jelas, yaitu memberikan hasil terbaik di tingkat nasional. Kompetitor kita juga sangat kuat, terutama Jawa Tengah dan DKI Jakarta yang setiap tahun selalu kita perhitungkan. Karena itu, seluruh persiapan harus dilakukan secara matang, terukur, dan terus dievaluasi,” kata Aries dikutip Selasa (4/8/2026).
Aries menuturkan, pembinaan calon peserta LKS dimulai dari proses seleksi berjenjang untuk menjaring siswa terbaik dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Siswa yang lolos seleksi tingkat provinsi tidak langsung diberangkatkan ke kompetisi nasional.
"Mereka terlebih dahulu menjalani pemusatan latihan atau training center secara intensif selama satu hingga tiga bulan. Durasi dan metode latihan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik masing-masing bidang lomba," jelasnya.
Aries mengungkapkan, pelatihan tidak hanya dilakukan di sekolah. Sejumlah peserta juga berlatih di lembaga pelatihan maupun fasilitas yang dimiliki dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Dalam proses tersebut, kemampuan siswa diasah dari berbagai aspek, mulai dari ketelitian, kecepatan kerja, penguasaan peralatan, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga menyelesaikan pekerjaan sesuai standar kompetisi dan kebutuhan industri.
Dinas Pendidikan Jawa Timur juga melakukan pemetaan terhadap kekuatan setiap bidang lomba. Hasil kompetisi tahun sebelumnya dianalisis untuk mengetahui keunggulan yang perlu dipertahankan sekaligus kelemahan yang harus diperbaiki.
“Kita tidak hanya melihat berapa medali yang diperoleh, tetapi mengevaluasi setiap bidang lomba. Kita pelajari bagian mana yang sudah kuat, apa yang masih menjadi kelemahan peserta, serta bagaimana perkembangan kompetitor dari provinsi lain,” ungkap Aries.
Ia menuturkan, persiapan juga dilakukan sejak seleksi tingkat Provinsi Jawa Timur. Dinas Pendidikan melibatkan tenaga ahli dari industri, praktisi profesional, serta mantan juara dan peserta WorldSkills dalam proses penilaian dan pembinaan.
Keterlibatan pihak industri menjadi penting karena kompetensi yang diuji dalam LKS tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Peserta dituntut memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Materi latihan dan simulasi juga dirancang sedekat mungkin dengan kondisi kompetisi nasional. Peserta bahkan dihadapkan pada mystery box, yakni tantangan yang baru diketahui ketika perlombaan berlangsung.
Metode tersebut bertujuan menguji kemampuan adaptasi siswa. Dengan demikian, peserta tidak hanya mengandalkan hafalan atau latihan terhadap soal yang sudah diprediksi, tetapi mampu mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan baru.
“Soal-soal yang kita siapkan harus mendekati standar nasional, termasuk adanya mystery box. Tenaga ahli dari industri dan mantan juara WorldSkills juga menerapkan standar yang tinggi,” kata Aries.
Menurutnya, perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang berlangsung cepat membuat lulusan SMK harus memiliki kemampuan lebih dari sekadar keterampilan teknis.
Siswa juga perlu dibekali kreativitas, daya analisis, kemampuan komunikasi, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru.
Kemampuan teknis bukan satu-satunya faktor yang menentukan prestasi peserta. Mental bertanding juga menjadi perhatian dalam proses pemusatan latihan.
Para siswa dibiasakan mengikuti simulasi perlombaan dengan batas waktu, standar penilaian, tekanan, serta situasi yang dibuat mendekati kondisi kompetisi sebenarnya.
Kedisiplinan, kepercayaan diri, pengendalian emosi, kemampuan menerima evaluasi, hingga ketenangan dalam mengambil keputusan terus diperkuat selama masa pembinaan.
“Peserta harus memiliki keterampilan sekaligus mental juara. Kemampuan teknis yang tinggi harus diikuti ketenangan, keberanian mengambil keputusan, disiplin, dan kepercayaan diri ketika berada di arena lomba,” tegas Aries.
Pemantauan juga dilakukan secara berkala oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama Bidang Pembinaan Pendidikan SMK, MKKS SMK, kepala sekolah, guru pembimbing, mentor, dan pendamping.
Setiap perkembangan peserta dievaluasi sehingga kelemahan yang ditemukan dapat segera diperbaiki sebelum kompetisi nasional.
Pendampingan pun tidak berhenti ketika peserta tiba di lokasi perlombaan. Tim tetap memastikan kebutuhan teknis, kesehatan, kesiapan mental, dan konsentrasi siswa terjaga selama kompetisi berlangsung.
Dinas Pendidikan Jawa Timur juga memberikan apresiasi kepada siswa dan pihak-pihak yang terlibat dalam pencapaian prestasi tersebut. Penghargaan dinilai bukan sekadar hadiah, tetapi bentuk pengakuan atas kerja keras siswa, guru pembimbing, mentor, sekolah, dan seluruh pihak yang mendukung.
Namun, Aries menyebut medali LKS nasional bukanlah tujuan akhir pembinaan pendidikan vokasi. Para siswa yang telah menunjukkan kompetensinya di tingkat nasional diharapkan dapat melanjutkan pengembangan kemampuan untuk berkompetisi di tingkat ASEAN Skills, WorldSkills Asia, hingga WorldSkills Competition.
“Medali nasional bukan titik akhir. Anak-anak yang sudah menunjukkan kemampuan terbaik harus terus dibina agar mempunyai kesempatan membawa nama Indonesia di kompetisi tingkat regional dan internasional,” ungkapnya.
Menurut Aries, capaian quattrick juga bukan hasil kerja satu orang maupun satu institusi. Prestasi tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah provinsi, Dinas Pendidikan, cabang dinas, sekolah, kepala sekolah, guru produktif, pembimbing, mentor, dunia industri, orang tua, serta para siswa.
“Quattrick ini menjadi bukti bahwa kompetensi murid dan guru produktif SMK Jawa Timur patut diperhitungkan. Namun, keberhasilan ini bukan alasan untuk cepat berpuas diri,” katanya.
Capaian tersebut menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan vokasi Jawa Timur. Perkembangan kecerdasan artifisial, otomasi, ekonomi digital, dan perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut sekolah terus memperbarui kompetensi yang diajarkan.
Karena itu, Aries menilai pembinaan LKS tidak boleh berhenti pada target memenangkan kompetisi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari kompetisi harus ditransformasikan menjadi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.
Dengan pendekatan tersebut, LKS diharapkan tidak hanya menghasilkan siswa berprestasi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana pendidikan SMK mampu menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Prestasi ini bukan akhir, melainkan energi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Target besarnya adalah melahirkan sumber daya manusia Jawa Timur yang kompeten, berkarakter, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkas Aries.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH





.jpg)
