MALANG (Lentera) - Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Malang, telah mencapai 67,8 persen atau setara dengan rata-rata nasional.
Pendataan kali ini turut menyasar pelaku ekonomi digital seperti konten kreator, YouTuber, hingga pengemudi ojek online yang belum terakomodasi pada Sensus Ekonomi 2016.
"Teman-teman di lapangan selain mengupdate yang ada di prelist, juga ada tambahan baru yang belum ada di prelist. Harus datang secara sensus, door to door, dari bangunan satu ke bangunan lain, dari rumah tangga satu ke rumah lain sampai 100 persen," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Umar Sjaifudin, Kamis (30/7/2026).
Dijelaskannya, total unit yang menjadi sasaran sensus mencapai sekitar 460 ribu, terdiri atas sekitar 250 ribu kepala keluarga dan sekitar 140 ribu unit usaha. Pendataan juga dilakukan di pusat-pusat aktivitas ekonomi seperti mal dan pasar.
"Di mal pun itu juga kami data, bukan hanya di rumah saja. Termasuk di pasar-pasar, itu juga kami data pedagang yang ada di sana," katanya.
Umar mengungkapkan, salah satu pembaruan dalam Sensus Ekonomi 2026 adalah pendataan terhadap sektor ekonomi digital yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. BPS kini mendata berbagai bentuk usaha berbasis daring, mulai dari toko online, konten kreator, YouTuber hingga pengemudi ojek online yang sebelumnya belum tercatat dalam sensus.
"Sepuluh tahun lalu belum ada seperti itu, belum tertangkap saat Sensus Ekonomi 2016. Harapannya tahun ini bisa ditangkap, usaha online di masyarakat seperti konten kreator, YouTuber dan sebagainya," jelasnya.
Selain mendata jumlah usaha, sensus juga menggali informasi yang cukup rinci. Mulai dari pendapatan, status kepemilikan rumah, penggunaan listrik hingga kepemilikan aset.
Di tengah maraknya kekhawatiran masyarakat terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan petugas sensus, Umar memastikan seluruh petugas resmi telah dibekali surat tugas dari BPS yang diketahui lurah hingga ketua RT. Mereka juga mengenakan rompi atau seragam bertuliskan Sensus Ekonomi, membawa kartu identitas dengan kode QR, serta menggunakan gawai untuk proses pendataan.
Ditegaskannya, pelaksanaan Sensus Ekonomi sama sekali tidak berkaitan dengan penarikan pajak maupun program pemerintah yang bersifat mendadak.
"Karena sekarang lagi ramai, kok tiba-tiba ada sensus, dikait-kaitkan dengan asumsi macam-macam, termasuk dikaitkan dengan pajak. Ada ketidaktahuan masyarakat, sebenarnya ini bukan kegiatan yang dadakan," tegas Umar.
Ia menjelaskan, BPS secara rutin menyelenggarakan 3 sensus nasional, yakni Sensus Penduduk setiap tahun berakhiran angka nol, Sensus Pertanian setiap tahun berakhiran angka tiga, serta Sensus Ekonomi setiap tahun berakhiran angka enam.
Dalam pelaksanaannya, BPS Kota Malang mengerahkan sekitar 620 petugas yang terdiri atas pengawas dan petugas lapangan. Sebanyak lebih dari 560 orang di antaranya bertugas melakukan pendataan langsung.
Setiap petugas ditargetkan menyelesaikan pendataan sekitar 800-900 rumah tangga atau unit usaha selama dua setengah bulan, dengan rata-rata 11-13 titik per hari.
Meski demikian, proses di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Kendala yang dihadapi antara lain penghuni rumah yang sulit ditemui karena bekerja, rumah kosong akibat ditinggal pindah maupun bepergian, hingga kawasan perumahan elite yang memerlukan koordinasi dengan petugas keamanan dan pengurus lingkungan.
Untuk kawasan militer, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan pimpinan satuan setempat sehingga pendataan dapat berlangsung, meski tetap terkendala mobilitas anggota yang sedang bertugas di luar daerah.
Sensus Ekonomi 2026, dijadwalkan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. Umar optimistis, target pendataan dapat tercapai tepat waktu dan berharap masyarakat bersedia menerima petugas serta memberikan informasi yang benar.
"Sensus ekonomi ini selain mendata kuantitasnya, tentunya yang terpenting adalah kualitas data. Sehingga nanti kelihatan betul Kota Malang itu struktur ekonominya seperti apa. Dengan keakuratan itu, akan menjadi bahan perencanaan pembangunan dan dasar kebijakan pemerintah supaya tidak keliru," pungkas Umar.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
