31 July 2026

Get In Touch

Rahasia Gaya Old Money yang Terlihat Elegan dan Tak Lekang Waktu

Rahasia Gaya Old Money yang Terlihat Elegan dan Tak Lekang Waktu

SURABAYA ( LENTERA ) - Tren fesyen selalu berputar. Hari ini warna tertentu menjadi primadona, besok siluet baru mengambil alih media sosial. Namun di tengah cepatnya pergantian tren, satu gaya justru terus bertahan dan kembali digemari generasi muda: old money aesthetic.

Di TikTok, Instagram, hingga Pinterest, tagar old money telah ditonton miliaran kali. Estetika ini identik dengan penampilan yang rapi, sederhana, dan berkelas. Bukan tentang mengenakan tas atau pakaian berharga puluhan juta rupiah, melainkan bagaimana seseorang membangun citra melalui potongan busana yang klasik, material berkualitas, serta perpaduan warna yang tidak mencolok.

Fenomena ini turut mendorong banyak orang menata ulang isi lemari pakaian. Alih-alih terus membeli tren terbaru, mereka mulai berburu blazer klasik, celana jeans berpotongan lurus, sepatu kulit, hingga gaun sederhana yang bisa dikenakan bertahun-tahun.

Menariknya, sejumlah pakar fesyen menilai gaya old money sebenarnya lebih dekat dengan konsep investasi pakaian (investment dressing) daripada sekadar mengikuti estetika media sosial.

Bukan Berarti Serba Mewah

Istilah old money awalnya merujuk pada keluarga-keluarga kaya lama di Eropa maupun Amerika Serikat yang mewarisi kekayaan lintas generasi. Dalam dunia mode, istilah tersebut berkembang menjadi simbol penampilan yang tidak berusaha menunjukkan kemewahan secara berlebihan.

Majalah Vogue, Harper's Bazaar, hingga The New York Times beberapa kali menyoroti bangkitnya tren quiet luxury dan old money aesthetic setelah pandemi. Berbeda dengan era logomania yang mengutamakan logo besar sebagai simbol status, quiet luxury lebih mengedepankan kualitas bahan, jahitan presisi, serta desain yang minimalis.

Konsultan tren global WGSN juga mencatat bahwa konsumen, khususnya Generasi Z dan milenial, mulai bergeser menuju konsumsi fesyen yang lebih berkelanjutan. Mereka lebih selektif membeli pakaian yang dapat dipakai dalam jangka panjang dibanding mengikuti tren yang cepat berganti.

Fenomena tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap konsep capsule wardrobe, yakni memiliki koleksi pakaian yang lebih sedikit tetapi mudah dipadupadankan.

Kualitas Bahan-Warna Menentukan

Menurut para pakar mode, kesan mahal tidak selalu berasal dari harga pakaian. Yang lebih menentukan justru proporsi, kualitas bahan, warna, dan kecocokan ukuran.

Warna-warna netral seperti putih, hitam, krem, abu-abu, cokelat, navy, hingga olive menjadi ciri khas gaya old money. Palet tersebut membuat setiap item lebih mudah dipadukan sehingga tampilan terlihat harmonis.

Selain itu, bahan alami seperti katun, linen, wol, tweed, hingga kulit asli atau kulit berkualitas tinggi cenderung lebih tahan lama dibanding bahan sintetis murah.

Penelitian dalam bidang psikologi fesyen juga menunjukkan bahwa pakaian yang rapi dengan potongan sederhana dapat meningkatkan persepsi profesionalisme, kompetensi, dan kepercayaan seseorang di mata orang lain. Dengan kata lain, kesan elegan sering kali lahir dari kerapian, bukan kemewahan.

Membangun tampilan old money tidak berarti harus mengganti seluruh isi lemari. Banyak orang sebenarnya sudah memiliki sebagian item utamanya.

Blazer Berkualitas

Blazer menjadi investasi fesyen yang hampir tidak pernah kehilangan relevansi. Item ini dapat dikenakan untuk bekerja, menghadiri acara formal, maupun dipadukan dengan jeans untuk tampilan kasual.

Pilih blazer dengan struktur bahu yang rapi, bahan cukup tebal, serta warna netral seperti hitam, navy, krem, atau abu-abu. Hindari motif yang terlalu ramai agar lebih mudah dipadukan dengan berbagai pakaian.

Sepatu Oxford

Sepatu Oxford dikenal sebagai salah satu model sepatu klasik yang telah digunakan sejak abad ke-19. Hingga kini, desainnya hampir tidak berubah.

Sepatu kulit dengan perawatan yang baik dapat bertahan bertahun-tahun sehingga justru lebih ekonomis dibanding sering membeli sepatu mengikuti tren.
Oxford juga fleksibel digunakan bersama celana kain, jeans, maupun gaun bergaya minimalis.

Gaun Simpel

Dalam estetika old money, gaun tidak harus berasal dari rumah mode ternama.
Long dress maupun midi dress dengan potongan bersih, tanpa detail berlebihan, justru menjadi pilihan utama. Warna netral atau pastel lembut memberikan kesan anggun yang tidak mudah ketinggalan zaman.

Sebaliknya, gaun dengan terlalu banyak ornamen, potongan ekstrem, atau warna neon cenderung lebih cepat kehilangan relevansinya.

Straight Leg Jeans

Jika hanya memiliki satu model jeans, banyak penata gaya menyarankan memilih straight leg jeans.

Potongan lurus memberikan proporsi tubuh yang lebih seimbang serta mudah dipadukan dengan hampir semua atasan, mulai dari kemeja putih, kaus polos, blazer, hingga sweater rajut.

Model ini juga dinilai lebih abadi dibanding jeans yang terlalu ketat atau terlalu longgar yang biasanya mengikuti siklus trentre

Aksesori Minimalis

Prinsip utama gaya old money adalah less is more.
Cukup gunakan satu hingga tiga aksesori seperti anting kecil, jam tangan klasik, ikat pinggang kulit, syal sutra, atau kacamata hitam dengan desain sederhana.

Aksesori minimalis membantu menyempurnakan penampilan tanpa membuat keseluruhan gaya terlihat berlebihan.

Di balik popularitasnya, gaya old money juga sejalan dengan tren fesyen berkelanjutan (sustainable fashion).

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Environment Programme), industri fesyen merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Produksi pakaian secara berlebihan juga menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar setiap tahun.

Karena itu, banyak pakar menyarankan konsumen membeli pakaian yang benar-benar dibutuhkan, memilih kualitas dibanding kuantitas, memperbaiki pakaian yang rusak, hingga memanfaatkan pasar pakaian bekas (thrifting).

Pendekatan tersebut sejalan dengan filosofi old money yang mengutamakan daya tahan dibanding konsumsi sesaat.

Popularitas gaya old money menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap fesyen. Jika dahulu kemewahan identik dengan logo besar dan barang mahal, kini banyak orang justru menganggap penampilan yang sederhana, rapi, dan berkualitas sebagai simbol elegansi.

Artinya, membangun citra berkelas tidak selalu dimulai dari isi dompet, melainkan dari keputusan memilih pakaian yang tepat, merawatnya dengan baik, dan memakainya dengan percaya diri.(far,ist/dya)


 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.