27 July 2026

Get In Touch

Mantan Insinyur SpaceX Bangun Startup Bidik Infrastruktur Pertama di Mars

Mantan Insinyur SpaceX Bangun Startup Bidik Infrastruktur Pertama di Mars

SURABAYA ( LENTERA ) - Ambisi manusia membangun koloni di Mars selama ini lebih banyak dibahas dari sisi roket, wahana antariksa, hingga teknologi pendaratan. Namun, muncul pertanyaan yang sama pentingnya: siapa yang akan membangun jalan, landasan, pembangkit listrik, hingga habitat ketika manusia benar-benar tiba di Planet Merah?

Pertanyaan itu mulai dijawab oleh TerraFirma, sebuah perusahaan rintisan (startup) asal Austin, Texas, yang didirikan dua mantan insinyur SpaceX. Perusahaan berusia dua tahun tersebut baru saja memperoleh pendanaan sebesar US$115 juta atau sekitar Rp1,9 triliun (kurs Rp16.500 per dolar AS) untuk mengembangkan teknologi konstruksi yang dalam jangka panjang ditujukan membangun infrastruktur di Mars.

Putaran pendanaan dipimpin oleh Kleiner Perkins dan Bain Capital Ventures, serta didukung sejumlah angel investor. Dana segar itu akan digunakan untuk memperluas tim hingga sekitar 300 pegawai dalam satu tahun ke depan, membangun fasilitas manufaktur di Texas, sekaligus mendirikan pusat kendali misi yang memungkinkan alat berat dioperasikan dari lokasi yang jauh.

Konsep yang dikembangkan TerraFirma cukup berbeda dari perusahaan konstruksi konvensional. Mereka mengembangkan sistem teleoperasi yang memungkinkan operator mengendalikan ekskavator, buldoser, maupun alat berat lainnya dari jarak jauh menggunakan antarmuka yang sederhana, bahkan memanfaatkan pengendali (controller) Xbox yang dimodifikasi.

Teknologi tersebut diklaim mampu mengurangi risiko kecelakaan kerja, menekan biaya operasional, sekaligus mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor konstruksi yang selama ini menjadi persoalan di Amerika Serikat.

"Kami melihat ada kekurangan orang yang mau mengambil teknologi luar biasa yang telah dikembangkan selama puluhan tahun dan menerapkannya ke industri konstruksi," kata CEO sekaligus pendiri TerraFirma, Noah Schochet.

Menurut Schochet, konstruksi merupakan salah satu industri yang paling lambat mengadopsi otomatisasi dibanding sektor manufaktur maupun teknologi tinggi.

"Kami membangun roket sebesar gedung pencakar langit dengan kecepatan sekitar satu roket setiap bulan. Namun hampir tidak ada proses otomatisasi manufaktur itu yang diterapkan dalam industri konstruksi," ujarnya.

Schochet mendirikan TerraFirma bersama rekannya, Noah McGuinness. Keduanya pertama kali bertemu ketika menjadi mahasiswa teknik di Universitas Princeton sebelum akhirnya bergabung dengan SpaceX.

McGuinness bekerja pada proyek satelit pertahanan Starshield, sedangkan Schochet pernah terlibat dalam pengembangan jaringan internet satelit Starlink serta program roket Starship.

Selama bekerja di SpaceX, keduanya terbiasa menghadapi target pembangunan fasilitas yang sangat agresif. Mereka bahkan pernah bekerja di lokasi yang minim infrastruktur dasar.

Pengalaman tersebut memunculkan gagasan untuk membawa budaya pembangunan cepat ala SpaceX ke industri konstruksi yang dinilai masih sangat tradisional.

Kini sekitar separuh tim teknik TerraFirma berasal dari perusahaan-perusahaan milik Elon Musk, termasuk SpaceX, Tesla, dan The Boring Company.

Meski memiliki visi membangun Mars, TerraFirma saat ini masih fokus membuktikan teknologinya di Bumi. Beberapa proyek komersial yang telah dikerjakan antara lain pembangunan arena olahraga serta gerai Starbucks. Setelah teknologi matang, perusahaan berharap dapat mengikuti tender pembangunan fasilitas di Bulan maupun Mars.

Ambisi TerraFirma sejalan dengan arah pengembangan eksplorasi antariksa yang tengah dilakukan NASA maupun SpaceX.
Dalam dokumen NASA Moon to Mars Architecture, badan antariksa Amerika Serikat menegaskan bahwa eksplorasi manusia tidak berhenti pada pendaratan di Bulan. Program Artemis diposisikan sebagai batu loncatan menuju misi berawak ke Mars pada dekade berikutnya.

NASA menyebut keberhasilan misi jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan membangun infrastruktur permukaan secara mandiri, termasuk habitat, sistem energi, komunikasi, serta pemanfaatan sumber daya lokal (in-situ resource utilization/ISRU).

Administrator sementara NASA, Janet Petro, sebelumnya menegaskan bahwa pengalaman membangun sistem yang mampu bertahan di Bulan akan menjadi fondasi utama sebelum manusia melakukan perjalanan menuju Mars.

Sementara itu, pendiri SpaceX Elon Musk berulang kali menyampaikan bahwa tujuan akhir perusahaan bukan sekadar meluncurkan roket, melainkan menciptakan peradaban yang mampu hidup di lebih dari satu planet.

Dalam berbagai presentasi Starship, Musk menyebut pembangunan kota mandiri di Mars memerlukan jutaan ton material yang harus diangkut dari Bumi maupun diproduksi langsung di Planet Merah. Infrastruktur dasar seperti jalan, pembangkit listrik, fasilitas industri, hingga tempat tinggal menjadi syarat utama sebelum koloni manusia dapat berkembang.

Kemunculan TerraFirma juga mencerminkan semakin besarnya ekosistem perusahaan yang lahir dari alumni SpaceX. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah mantan pegawai perusahaan tersebut mendirikan startup di berbagai sektor, mulai dari peluncuran roket, satelit, teknologi pertahanan, hingga manufaktur.

Fenomena ini semakin menguat setelah nilai industri antariksa global terus meningkat. Laporan World Economic Forum bersama McKinsey & Company memperkirakan ekonomi antariksa global berpotensi mencapai US$1,8 triliun pada 2035, meningkat tajam dari sekitar US$630 miliar pada 2023. 

Pertumbuhan didorong tidak hanya oleh industri peluncuran satelit, tetapi juga komunikasi, navigasi, penginderaan jauh, komputasi berbasis ruang angkasa, hingga pengembangan infrastruktur untuk eksplorasi Bulan dan Mars.

Analis menilai, jika selama dua dekade terakhir perusahaan antariksa berlomba menurunkan biaya peluncuran roket, maka dekade berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan membangun infrastruktur permanen di luar Bumi.(far,ist/dya)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.