MALANG (Lentera) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat sebanyak 232 kejadian bencana, sepanjang semester I periode 1 Januari-30 Juni 2026.
Data BPBD menunjukkan, bencana pada Semester I tahun ini didominasi oleh tanah longsor dan cuaca ekstrem yang paling banyak terjadi di kawasan utara dan barat Kabupaten Malang.
"Data tersebut merupakan hasil rekapitulasi komprehensif Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Malang. Dari total 232 kejadian, terdiri atas 124 kejadian bencana alam, 6 bencana non alam, 28 kejadian pohon tumbang, serta 74 aktivitas gempa bumi yang dilaporkan tidak menimbulkan kerusakan," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan dalam keterangan resminya, Selasa (21/7/2026).
Dari ratusan kejadian tersebut, BPBD mencatat sebanyak 3 orang meninggal dunia, 7 orang mengalami luka-luka, dan 1 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, sebanyak 671 warga terdampak langsung akibat berbagai kejadian bencana.
Disebutkannya, kerusakan juga terjadi pada sektor permukiman. Sebanyak 108 bangunan dilaporkan tergenang, 223 rumah mengalami rusak ringan, 5 rumah rusak sedang, dan 1 bangunan mengalami rusak berat.
Sementara itu, dampak bencana turut dirasakan pada fasilitas publik. BPBD mencatat 14 infrastruktur umum mengalami kerusakan ringan dan 3 fasilitas pendidikan turut terdampak.
"Di sektor lingkungan dan pertanian, sekitar 15.264 hektare lahan terdampak, disertai kerugian pada sektor peternakan dengan sekitar 25.000 ekor ayam budidaya ikut terdampak akibat kerusakan kandang maupun pengaruh kondisi cuaca," kata Sadono.
Lebih lanjut, dijelaskannya, berdasarkan analisis spasial BPBD, wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi terkonsentrasi di kawasan utara dan barat Kabupaten Malang yang didominasi topografi perbukitan serta lereng pegunungan.
"Kecamatan Pujon menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 22 kejadian, disusul Kasembon sebanyak 17 kejadian," ungkapnya.
Menurut Sadono, karakteristik geografis kedua wilayah tersebut membuatnya lebih rentan terhadap bencana hidrometeorologi, khususnya tanah longsor dan cuaca ekstrem.
Sementara di wilayah tengah hingga timur Kabupaten Malang, menurutnya, konsentrasi kejadian bencana bergeser ke kawasan yang memiliki kepadatan permukiman serta aktivitas pertanian dan peternakan. Kecamatan Pakis dan Bululawang masing-masing mencatat 11 kejadian, sedangkan Dampit dan Poncokusumo masing-masing mengalami 10 kejadian.
Sadono menilai, tingginya aktivitas masyarakat di kawasan tersebut membuat dampak bencana juga dirasakan pada sektor ekonomi masyarakat.
Salah satu contohnya, yakni kerugian pada peternakan ayam yang mencapai sekitar 25.000 ekor akibat kerusakan kandang maupun perubahan kondisi iklim mikro selama cuaca ekstrem.
"Jika ditinjau berdasarkan waktu kejadian, frekuensi bencana paling tinggi terjadi pada Januari dengan 57 kejadian, disusul Maret sebanyak 48 kejadian," katanya.
Sadono menuturkan, data tersebut menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara puncak musim penghujan dengan meningkatnya bencana hidrometeorologi di Kabupaten Malang.
"Memasuki Mei dan Juni, jumlah kejadian mulai menurun menjadi masing-masing 21 kejadian," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
