18 July 2026

Get In Touch

Lantik PW IKA UNAIR Bali, Khofifah Ajak Memperkuat Kemandirian Ekonomi Daerah

Ketua Umum IKA UNAIR yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersalaman usai pelantikan PW IKA UNAIR Bali Masa Bakti 2025–2030 di Bali, Kamis (16/7/2026).
Ketua Umum IKA UNAIR yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersalaman usai pelantikan PW IKA UNAIR Bali Masa Bakti 2025–2030 di Bali, Kamis (16/7/2026).

DENPASAR (Lentera) – Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Universitas Airlangga (UNAIR) yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak alumni UNAIR menjadi motor penggerak kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kemandirian ekonomi daerah.

Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat melantik  Pengurus Wilayah (PW) IKA UNAIR Bali Masa Bakti 2025–2030 di Fourteen Roses Boutique Hotel, Legian, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (16/7/2026).

Gubernur Khofifah menyampaikan, organisasi alumni tidak boleh berhenti sebagai wadah silaturahmi semata. Ia menekankan, IKA UNAIR harus mampu menjadi jembatan strategis yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk melahirkan berbagai solusi pembangunan yang berdampak nyata.

"Alumni memiliki posisi yang sangat strategis sebagai penghubung berbagai kekuatan. Kampus memiliki pakar ilmu pengetahuan, pemerintah memiliki kebijakan, dunia usaha memiliki pasar dan investasi. Jika semua itu dipertemukan melalui jejaring alumni, maka akan lahir berbagai inovasi yang memberikan manfaat lebih nyata  bagi masyarakat," ujarnya.

Bagi IKA UNAIR PW Bali, salah satu bentuk kolaborasi yang dinilai sangat potensial adalah penguatan sektor peternakan melalui program substitusi impor daging premium yaitu wagiyu. 

Saat ini di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) milik Kementan di Singosari Malang telah di lakukan budi daya jenis sapi wagiyu bahkan straw  semen beku nya tersedia sekitar 6 ribu.

Khofifah menuturkan, kebutuhan daging wagyu di Bali sangat tinggi dan hingga kini sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksinya sendiri apabila didukung kolaborasi lintas sektor.

"Salah satu yang bisa kita usahakan adalah substitusi impor. Saya sampaikan bahwa saya rasa sangat banyak kebutuhan daging Wagyu di Bali. Selama ini 100 persen impor, padahal kita itu punya potensi," katanya.

Khofifah menjelaskan, peluang tersebut dapat diwujudkan melalui sinergi bersama Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari yang memiliki sekitar 6.000 straw semen beku sapi unggul, didukung tenaga inseminator serta pengawas kebuntingan yang telah berpengalaman.

Ia menambahkan, dukungan teknologi reproduksi ternak tersebut akan mempercepat pengembangan sapi berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

"Kemudian di sini ada tim inseminator untuk melakukan inseminasi buatan, ada juga tim pengawas kebuntingan. Saya rasa itu akan sangat efektif untuk bisa dibudidayakan di Bali, karena kebutuhan pasarnya tinggi sekali, dan mahal," ungkapnya.

Khofifah melanjutkan, harga daging wagyu yang saat ini masih berada di atas Rp1 juta per kilogram menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat apabila produksi dalam negeri mampu ditingkatkan.

Karena itu, menurutnya, pengembangan peternakan modern bukan hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.

"Kita tidak hanya berbicara tentang IKA UNAIR saja, tapi kita juga berharap  bagaimana kemudian ini menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat, penguatan di sektor peternakan," tegasnya.

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan pemerintah juga terus mendorong pengembangan sapi Belgian Blue yang dikenal memiliki produktivitas daging tinggi melalui program persilangan.

Apabila berbagai program tersebut berhasil dikembangkan secara masif, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor daging premium.

"Jadi, daging sapi dari Bali untuk provinsi-provinsi yang lain. Sama halnya juga daging sapi Jawa Timur untuk provinsi yang lain, sehingga kita bisa stop import daging. Kita sudah swasembada beras, mudah-mudahan tahun ini kita bisa swa sembada gula konsumsi. Lalu, selanjutnya kita bisa swasembada daging karena betapa sebetulnya substitusi import itu bisa kita lakukan," tuturnya.

Khofifah berharap IKA UNAIR Bali dapat menjadi pusat lahirnya berbagai kolaborasi strategis yang mampu memperkuat pembangunan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Ketua IKA UNAIR Bali I Nyoman Dhukajaya menyampaikan bahwa nama Airlangga memiliki makna historis yang sangat kuat sebagai simbol persaudaraan antara Bali dan Jawa. Raja Airlangga merupakan putra Raja Udayana dari Bali dan Mahendradatta yang kemudian membangun Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur.

Sejarah tersebut, kata Nyoman, menjadi pengingat bahwa seluruh alumni UNAIR memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga semangat persaudaraan, kolaborasi, dan pengabdian lintas daerah.

"Sejujurnya kita tidak hanya sedang menyebut nama seorang rakyat besar, kita sedang menyebut sebuah jembatan peradaban yang menghubungkan Bali dan Jawa. Maka sesungguhnya setiap alumni Unair memiliki tanggung jawab moral untuk merawat semangat persaudaraan lintas daerah, lintas profesi, dan lintas generasi," ungkapnya.

Bali, jelas Nyoman, merupakan wilayah dengan semangat budaya, toleransi, kreativitas, dan gotong royong yang tinggi. Sehingga, di tengah tengah perubahan dunia dan kemajuan teknologi yang berlangsung begitu cepat, dibutuhkan individu yang memiliki lebih dari sekedar kemampuan akademik.

"Saya percaya jaringan alumni kita merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki sebuah universitas. Ketika para alumni saling mendukung, saling membuka peluang, saling berbagi pengetahuan, dan saling menginspirasi, maka lahirlah ekosistem yang menghasilkan kemajuan bersama," pungkasnya. (*)

Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.