17 July 2026

Get In Touch

Pemkot Malang Lirik Teknologi Pengolah Sampah dengan Uap, Usulkan Pendanaan ke Pusat

Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang. (Santi/Lentera)
Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melirik teknologi pengolahan sampah menggunakan uap atau autothermix sebagai salah satu solusi mengurangi timbunan sampah. Inovasi itu kini tengah diusulkan kepada pemerintah pusat melalui skema Local Service Delivery Project (LSDP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dengan harapan memperoleh dukungan pendanaan.

"Kami mencoba mengusulkan untuk pengolahan sampah yang menggunakan anggaran dari LSDP itu dengan menggunakan uap. Bukan dibakar, tetapi dengan uap arang, sebutannya autothermix," ujar Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, autothermix merupakan teknologi pengolahan sampah yang berbeda dengan insinerator karena tidak menggunakan proses pembakaran secara langsung.

"Ini bukan insinerator. Bukan dibakar, tetapi menggunakan uap dari arang. Arang dimasukkan ke dalam alat, kemudian menghasilkan uap yang dimanfaatkan dalam proses pengolahan. Teknologi ini disebut autothermix," katanya.

Raymond menjelaskan, inovasi tersebut tergolong baru dan telah diterapkan di beberapa daerah maupun institusi pendidikan, di antaranya di Bogor dan Politeknik Semarang. Pemkot Malang pun melihat potensi teknologi tersebut untuk mendukung pengolahan sampah dalam skala yang lebih besar.

Melalui skema LSDP, Pemkot Malang mengusulkan kapasitas pengolahan sampah mencapai 100 hingga 150 ton per hari. Namun, proses pengajuan masih terus berlanjut karena terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pemerintah daerah.

"Perkembangan terakhir, pemerintah daerah harus memastikan kesiapan biaya operasional untuk program LSDP tersebut," katanya.

Selain mengusulkan teknologi baru, DLH Kota Malang juga terus mengoptimalkan pengelolaan sampah dari sumbernya melalui proses pemilahan.

Raymond menyebut, komposisi dari hampir 700 ton sampah yang dihasilkan di Kota Malang per harinya, masih didominasi sampah organik. Jenis sampah tersebut diolah menjadi kompos sebagai bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Sementara itu, sampah anorganik dipilah sesuai jenis dan nilai ekonominya. Material yang masih memiliki nilai jual, lanjut Raymond, akan dimanfaatkan kembali sesuai ketentuan dalam Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).

Adapun limbah plastik yang tidak lagi memiliki nilai ekonomis turut dimanfaatkan melalui proses pengolahan menjadi bahan bakar. "Kami memanfaatkan plastik-plastik yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis untuk diolah menjadi solar dengan kualitas mendekati Perta Dex, bahkan di atas Dexlite," ungkapnya.
Raymond mengatakan, bahan bakar hasil pengolahan tersebut saat ini telah dimanfaatkan untuk mendukung operasional DLH Kota Malang, mulai dari mesin diesel hingga kendaraan dinas, termasuk kendaraan skylift.

Meski demikian, Raymond mengakui produksi bahan bakar tersebut masih belum dapat dilakukan secara berkelanjutan karena masih terdapat sejumlah keterbatasan dalam proses produksinya. "Solarnya sudah kami produksi, hanya memang belum bisa dilakukan secara kontinu," pungkasnya. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.