10 July 2026

Get In Touch

Masuki Tahun Ajaran Baru, Pemkot Surabaya Bersama Densus 88 Edukasi Anti Radikalisme

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

SURABAYA (Lentera) -Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Densus 88 Antiteror (AT) Polri melakuan edukasi tentang intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Program edukasi ini akan mulai digencarkan pada tahun ajaran baru 2026/2027 dengan menyasar peserta didik, guru, serta orang tua, terutama untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan radikalisme di ruang digital.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, momentum dimulainya tahun ajaran baru menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat edukasi mengenai bahaya radikalisme dan pentingnya peran keluarga dalam membangun karakter anak.

"Kami dengan Densus 88 akan terus bersinergi dan kebetulan ini memasuki tahun ajaran baru 2026/2027," kata Eri, Kamis (9/7/2026).

Untuk mendukung program tersebut, ia telah menginstruksikan Dinas Pendidikan (Dispendik) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) agar memfasilitasi pelaksanaan edukasi di sekolah-sekolah.

"Saya sampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan DP3APPKB untuk memberikan materi terutama kepada orang tua dan kepada anak-anak," ujarnya.

Menurut Eri, materi edukasi akan disampaikan langsung oleh personel Densus 88 AT Polri. Selain memberikan pemahaman mengenai bahaya paham radikal, peserta juga akan dibekali cara mengenali potensi paparan melalui media digital dan pentingnya pendampingan orang tua terhadap aktivitas anak saat menggunakan gawai maupun internet.

"Nanti yang memberikan materi beliaunya (Densus 88), bagaimana terhadap anak, bagaimana mempelajari mungkin gawainya anak. Itu yang nanti akan disampaikan oleh beliau-beliau," jelasnya.

Ia menegaskan, program ini tidak hanya ditujukan kepada peserta didik, tetapi juga kepada orang tua. Sebab, keluarga dinilai menjadi benteng pertama dalam mencegah anak terpapar ideologi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.

"Jadi kami bersinergi dengan memberikan materi-materi kepada orang tua dan masuk ke sekolah-sekolah," tuturnya.

Eri menjelaskan, pengawasan terhadap penggunaan gawai tidak cukup hanya dengan membatasi waktu bermain. Orangtua juga perlu memahami aktivitas digital anak, membangun komunikasi yang terbuka, serta menciptakan kedekatan emosional agar anak merasa nyaman menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi.

Melalui edukasi tersebut, Pemkot Surabaya berharap orangtua semakin menyadari pentingnya membangun pola asuh yang penuh perhatian dan komunikasi yang intensif dengan anak.

"Sehingga anak-anak dan lebih khusus orang tua menyadari bagaimana mereka mendidik anak, bagaimana anak-anak ini butuh kasih sayang orangtua, bagaimana ada deep talk orang tua dengan anak," tambahnya.

Menurut Eri, penguatan peran keluarga merupakan langkah preventif yang sangat penting untuk melindungi anak dari pengaruh negatif, termasuk penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme yang kini semakin mudah diakses melalui media digital.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.