04 July 2026

Get In Touch

Ambisi Jepang Panen Energi: Bangun 'Cincin' Matahari' di Bulan

Ambisi Jepang Panen Energi: Bangun 'Cincin' Matahari' di Bulan

SURABAYA ( LENTERA ) - Gagasan memanen energi dari luar angkasa kembali mencuat. Jepang melalui perusahaan konstruksi Shimizu Corporation mengusulkan proyek ambisius bernama Luna Ring, sebuah konsep pembangkit listrik tenaga surya raksasa yang dibangun mengelilingi Bulan.

Proyek tersebut membayangkan pemasangan sabuk panel surya sepanjang sekitar 11.000 kilometer di sepanjang garis khatulistiwa Bulan. Energi dari cahaya Matahari yang ditangkap panel itu nantinya tidak digunakan di Bulan, melainkan dikirim kembali ke Bumi melalui teknologi transmisi nirkabel menggunakan gelombang mikro (microwave) dan laser.

Konsep Luna Ring atau cincin matahari pertama kali diperkenalkan setelah tragedi gempa dan tsunami Tohoku pada 2011 yang memicu krisis di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Peristiwa tersebut membuat Jepang kembali mencari alternatif sumber energi yang dianggap lebih aman dan berkelanjutan dibanding ketergantungan terhadap energi nuklir.

Shimizu menilai Bulan memiliki kondisi yang jauh lebih ideal dibanding Bumi untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya. Salah satu alasannya karena permukaan Bulan tidak memiliki atmosfer yang menghalangi pancaran cahaya Matahari.

Dengan panel surya yang ditempatkan di wilayah khatulistiwa Bulan, sistem tersebut secara teoritis dapat menerima paparan sinar Matahari secara terus-menerus tanpa gangguan cuaca seperti awan, hujan, atau perubahan musim yang terjadi di Bumi.

Selain itu, intensitas energi Matahari di luar angkasa juga lebih besar karena tidak mengalami pelemahan akibat proses penyebaran cahaya di atmosfer.

Listrik untuk Bumi

Dalam rancangan Luna Ring, panel-panel surya di permukaan Bulan akan mengubah cahaya Matahari menjadi energi listrik.
Energi tersebut kemudian dialirkan melalui jaringan kabel menuju fasilitas transmisi yang berada di sisi Bulan yang selalu menghadap ke arah Bumi.

Di fasilitas itu, listrik akan dikonversi menjadi pancaran energi berbentuk gelombang mikro dan laser berdaya tinggi. Pancaran tersebut diarahkan menuju stasiun penerima di Bumi yang disebut rectenna.

Rectenna berfungsi menangkap gelombang energi dari luar angkasa dan mengubahnya kembali menjadi listrik arus searah (DC) yang dapat digunakan untuk jaringan energi.
Selain memasok kebutuhan listrik, energi tersebut juga berpotensi digunakan untuk memproduksi hidrogen sebagai bahan bakar masa depan sekaligus media penyimpanan energi.

Shimizu memperkirakan kapasitas energi Luna Ring secara teoritis dapat mencapai 13.000 terawatt. Angka itu disebut setara sekitar 500 kali lipat dibanding total konsumsi listrik dunia saat ini.

Karena skala proyek yang sangat besar, pembangunan Luna Ring tidak akan sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia.
Shimizu merancang sebagian besar konstruksi dilakukan oleh robot yang dikendalikan dari Bumi. Material pembangunan juga direncanakan berasal langsung dari permukaan Bulan untuk mengurangi kebutuhan pengiriman material dari Bumi yang membutuhkan biaya sangat besar.

Pasir Bulan, misalnya, dapat diolah menjadi material konstruksi seperti beton. Sementara material lain seperti serat kaca dan komponen pendukung juga diproduksi langsung di lokasi.
Konsep tersebut merupakan upaya mengatasi salah satu tantangan terbesar proyek luar angkasa: biaya logistik membawa material dari Bumi.

Hadapi Banyak Hambatan

Meski terdengar seperti teknologi masa depan, Luna Ring masih berada dalam tahap konsep dan menghadapi berbagai kendala teknis.
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mengirimkan energi dalam jumlah sangat besar dari Bulan menuju Bumi dengan tingkat akurasi tinggi.

Sistem transmisi gelombang mikro maupun laser membutuhkan teknologi pengendalian yang sangat presisi agar pancaran energi dapat tepat mengenai stasiun penerima di Bumi.
Selain itu, proyek tersebut juga membutuhkan sistem panduan dari Bumi untuk menjaga arah transmisi energi tetap stabil.

Masalah lain adalah biaya. Pembangunan pembangkit listrik di Bulan membutuhkan investasi sangat besar dan hingga kini belum mendapatkan dukungan pendanaan penuh, termasuk dari pemerintah Jepang.

Seorang ekonom dari Institute of Energy Economics, Japan bahkan menilai proyek pembangkit listrik di Bulan masih terlalu mahal untuk diwujudkan dalam waktu dekat. Ia menyarankan Jepang lebih fokus mengembangkan energi yang teknologinya sudah lebih matang, seperti panas bumi.

Jepang bukan satu-satunya negara yang mengeksplorasi konsep energi surya dari luar angkasa.

Pada 2023, proyek MAPLE dari California Institute of Technology (Caltech) berhasil melakukan demonstrasi pengiriman daya listrik nirkabel dari orbit ke Bumi dalam skala kecil.
Jepang melalui Japan Space Systems juga mengembangkan proyek OHISAMA. Program tersebut berencana meluncurkan satelit berbobot sekitar 180 kilogram ke orbit rendah Bumi untuk menguji teknologi transmisi energi surya dari luar angkasa.

Sementara itu, China telah mengumumkan rencana membangun pembangkit listrik tenaga surya luar angkasa berskala kilometer pada dekade 2030-an.

Inggris juga mengembangkan konsep serupa dan telah mendapatkan dukungan pemerintah untuk penelitian energi surya berbasis luar angkasa.

Jika berhasil diwujudkan, Luna Ring tidak hanya menjadi proyek energi terbesar dalam sejarah manusia, tetapi juga mengubah cara dunia memandang sumber daya listrik.(ist/dya)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.