28 June 2026

Get In Touch

Trump Ancam Tarif 100 Persen, Negara Pemungut Pajak Digital ke AS jadi Sasaran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (foto: NYT)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (foto: NYT)

WASHINGTON (Lentera) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 100 persen terhadap ekspor dari negara manapun, yang menerapkan pajak jasa digital kepada perusahaan-perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.

Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui media sosial pada Jumat (26/6/2026). Ia menilai kebijakan pajak digital yang mulai diterapkan sejumlah negara, terutama di Eropa, berpotensi merugikan perusahaan teknologi AS karena memangkas pendapatan mereka di pasar internasional.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan tarif tersebut akan menggantikan seluruh bentuk perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat, baik yang telah berlaku, telah ditandatangani, maupun yang masih dalam proses.

"Selain itu, tarif 100% akan segera diberlakukan, jika mereka melanjutkan," tulis Trump, tanpa menjelaskan mekanisme penerapan maupun dasar hukum yang akan digunakan untuk memberlakukan kebijakan tersebut.

Pernyataan itu ditujukan kepada sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, yang selama ini mendorong penerapan pajak jasa digital terhadap perusahaan teknologi global, termasuk raksasa teknologi asal Amerika Serikat.

Ancaman terbaru tersebut muncul tidak lama setelah hubungan dagang antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sempat mereda dalam pertemuan puncak G7 pada awal Juni 2026 di Evian-les-Bains, Prancis.

Dalam forum tersebut, para pemimpin G7, termasuk Trump, sepakat memperkuat dukungan kepada Ukraina serta meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui sanksi tambahan.

Meski demikian, perbedaan pandangan terkait perdagangan masih menjadi sumber ketegangan antara Washington dan negara-negara Eropa. Trump kembali menuding Eropa memperoleh keuntungan sepihak dalam hubungan dagang dengan Amerika Serikat.

Ia juga berulang kali mengkritik negara-negara Eropa karena dinilai tidak serius mengurangi defisit perdagangan dengan AS serta belum memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembiayaan keamanan kawasan mereka.

Editor: Santi/Ant

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.