SIDOARJO (Lentera) - Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis serta serangan infeksi berulang, ditandai tinggi badan anak berada jauh di bawah standar sesuai usianya.
Berdasarkan data pencatatan waktu nyata (real-time) lewat aplikasi EPPGM yang dikelola kader kesehatan setempat, angka kasus stunting di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, tercatat stabil di kisaran 3,0 persen. Angka ini menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan untuk terus ditekan hingga mendekati nol kasus.
Melalui kegiatan Rembug Stunting yang digelar Senin (22/6/2026), Pemerintah Desa Penatarsewu duduk bersama merumuskan langkah nyata. Pertemuan ini dihadiri kader Posyandu, Bidan Desa, tim pendamping desa, BPD, serta didukung penuh oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.
Komitmen utama yang disepakati adalah penerapan pola pedoman ABCDE: A aktif minum Tablet Tambah Darah bagi ibu hamil, B bumil rutin periksa kehamilan minimal empat kali selama masa kehamilan, C cukupi kebutuhan protein hewani setiap hari, D dampingi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, serta E evaluasi tumbuh kembang balita secara rutin setiap bulan agar penyimpangan dapat terdeteksi lebih awal.
Kepala Desa Penatarsewu, M. Kholiq, menjelaskan hingga saat ini tercatat ada 15 balita di desanya yang terindikasi mengalami stunting.
Berbagai upaya terus digalakkan bersama Puskesmas Tanggulangin di bawah bimbingan teknis Dinas Kesehatan. Salah satu langkah penting adalah mengikutsertakan para kader dalam serangkaian pelatihan dan bimbingan teknis penanganan stunting.
Hasilnya, sejumlah kader kini telah memiliki sertifikat kompetensi mulai dari tingkat Pratama, Madya, hingga Muda, sehingga memiliki pengetahuan lengkap dan keterampilan memadai dalam mendampingi keluarga berisiko.
Dukungan dari Dinas PMD juga sangat terasa lewat pendampingan penyusunan program desa dan penguatan peran Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan gizi masyarakat.
Sekretaris Desa Penatarsewu, Heriyanto, menambahkan penanganan stunting menjadi prioritas utama pembangunan di desa. Pemerintah desa secara rutin mengalokasikan anggaran khusus bagi Posyandu, yang digunakan untuk membiayai kegiatan sosialisasi, penyuluhan gizi, hingga penyediaan tambahan makanan bergizi bagi balita yang membutuhkan.
"Kami sangat menghargai semangat dan ketekunan para kader yang bekerja sabar tanpa lelah, serta dukungan penuh dari dinas terkait yang memudahkan langkah kami di lapangan," ujarnya.
Tantangan terbesar justru muncul di tingkat keluarga: tidak semua orang tua mau menerima dan memahami jika anaknya disebut terindikasi stunting.
Oleh karena itu, kader didampingi tenaga kesehatan turun langsung mendatangi rumah warga, menjelaskan secara santun, dan mendampingi keluarga secara berkelanjutan sampai kondisi anak membaik.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menurunkan angka stunting secara bertahap dan berkelanjutan demi mewujudkan generasi anak yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan. (ADV)





.jpg)
