PAMEKASAN (Lentera) -Saat kick off pertandingan piala dunia 2026 dimulai, jalanan dan gang menuju kampung Mayang, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mendadak sepi pada Selasa (23/6/2926) dini hari.
Sorak sorai mulai terdengar dari kejauhan. Warga berkumpul di lokasi nonton bareng (nobar), menutup jalan paving dan menyulapnya menjadi tempat temporer menyaksikan laga piala dunia.
Meski beda dukungan, warga dari berbagai usia kompak duduk di atas satu alas berbahan terpal.
Bahkan, ada yang membawa kursi dari rumah masing-masing. Jersey dari berbagai peserta piala dunia pun dikenakan saat nobar berlangsung.
Di sepanjang jalan dan gang, miniatur bendera negara peserta piala dunia terpasang. Bahkan, gambar berukuran jumbo dua pemain dunia, Lionel Andrés Messi Cuccitini (Argentina) dan Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro (Portugal) terpampang di sejumlah titik.
Warga pun berbagi kopi saat nobar. Satu gelas dinikmati bersama-sama. Seolah menjadi teman setia selama nobar tim jagoan.
"Sejak lama di sini sudah begini suasananya. Ramai dan seru, sudah jadi tradisi," kata Muhlis, warga setempat.
Oleh karenanya, wajar jika kampung ini dikenal sebagai kampung gila bola. Bahkan, nelayan memilih tidak melaut saat tim kebanggaan mereka berlaga.
"Kampung Gila Bola"
Semua lampu dimatikan, ratusan pasang mata tertuju pada layar lebar berukuran 2 meter. Mereka lompat-lompat dan teriak saat Leonel Messi mencetak gol pertama ke Gawang Austria pada Selasa (23/6/2026) dini hari.
Sesekali, mereka meminum kopi dan makan camilan. Menariknya, makanan dan minuman tersebut merupakan hasil urunan para nelayan sejak Piala Dunia dimulai.
"Ya karena orangnya banyak, satu gelas kita minum bersama-sama," ujar Muhlis, mengutip Kompas.
Keseruan nobar tidak hanya ramai saat menggunakan layar lebar. Saat menonton melalui layar televisi pun suasana tetap sama.
Dia mengaku, sejak 2014 lalu, kampung gila bola mulai terbentuk. Meski sebelumnya kegemaran ke piala dunia sudah tinggi.
"Sejak itu, kami lebih banyak berkumpul, bukan nonton di rumah-rumah," katanya.
Bahkan, menurut dia, keseharian warga kini sibuk memperbincangkan Piala Dunia. Menangkap ikan menjadi topik yang akhirnya dikesampingkan.
"Di sini beragam dukungan, tapi paling ramai kalau Argentina dan Brasil bertanding, nelayan lebih banyak tidak melaut," ungkapnya.
Selama Piala Dunia berlangsung, warga Kampung Mayang semalam suntuk tidak beristirahat. Mereka tidak melewatkan semua pertandingan hingga final nanti. Tak hanya malam hingga dini hari, saat siang hari, digelar lomba game sepak bola.
"Kalau siang kita ada lomba playstation game bola. Saat nobar juga kita sediakan hadiah," kata Muhlis.
Seorang nelayan, Darus Salam, mengaku bahwa dia memilih tidak melaut saat Argentina bertanding.
"Biasanya jam 01.00 WIB, saya berangkat melaut hingga sore hari. Tapi sekarang memilih nobar," ujarnya.
Darus menyebut, Piala Dunia selalu dirindukan. Sehingga, momen tahun ini tidak akan dilewatkan begitu saja.
"Sejak dulu saya suka bola. Apalagi saat Argentina bertanding sudah pasti saya tidak melaut," pungkasnya. Baca juga: Serunya Nobar Piala Dunia 2 (*)
Editor: Arifin BH




.jpg)
